Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Kedua Tamat

Baca dulu Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Pertama

Tahap pertama; kemarau panjang

Ibnu Katsir berkata, Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika kaum Aad meminta disegerakan adzab, Allah Ta’ala memulai dengan menahan hujan selama beberapa tahun. Kemarau yang merupakan azab Allah bagi kaum aad rasanya tiada berkesudahan. Terik matahari yang membakar bumi tidak dapat menghidupkan tanaman, sehingga sumber penghasilan kaum aad sudah tidak ada lagi. Musim kemarau ini sungguh dahsyat sebab semua harta yang telah dikumpulkan kaum aad sedikit demi sedikit mulai terkikis. Hal ini disebabkan untuk menutup kebutuhan sehari-harinya sehingga lama-kelamaan harta tersebut habis.

Di saat demikian nabi Hud tetap berdakwah dan tetap mengajak kaum aad untuk meminta pertolongan kepada Allah. Beliau tidak merasa bosan dan putus asa meskipun mendapat rintangan dalam dakwahnya. Dalam hatinya, beliau bersyukur kepada Allah benar-benar menurunkan peringatan berupa kemarau panjang ini.

Melihat dan merasakan kemarau seperti itu, pemimpin mereka Mu’awiyyah bin Bakr mengutus delegasi berjumlah sekitar 70 orang untuk mengambil air. Kemudian mereka melewati Mu’awiyyah di daerah Makkah, lalu mereka singgah selama sebulan di tempatnya untuk meminum khamr dan memberikannya pada Mu’awiyyah. Setelah itu mereka pergi ke Haram yang disana terdapat beberapa berhala yang sebelumnya dijadikan untuk meminta pertolongan dan meminta keselamatan. Begitulah ritual persembahan yang mereka lakukan untuk menangkal bencara kemarau panjang tadi.

 

Tahap kedua; angin dahsyat hitam pekat dan dingin

Menurut sejarah, kemarau pada saat itu tidak ada setetes embun yang jatuh. Hal ini membuat semua sumber air tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Waktu itu bumi betul-betul kering dan tandus.

Setelah selesai mengunjungi Mu’awiyyah, maka mereka segera beranjak ke Al-Haram dan berdoa untuk kaumnya. Kemudian salah seorang pemuka agama yang bernama Qail bin Anaz berdo’a untuk mereka. Maka Allah mengirimkan 3 awan yaitu putih, merah, hitam kemudian mereka diseru dari langit, “Pilihlah untukmu dan kaummu dari awan ini. Qail menjawab, “Aku memilih yang berwarna hitam.” Qail menyangka bahwa awan hitam adalah awan yang membawa hujan untuk mereka.

Kemudian Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum Aad, hingga awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan Al-Mughits. Penduduk kaum Aad melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata, “Inilah hujan untuk kami!”. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢٤ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۢ بِأَمۡرِ رَبِّهَا فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٢٥

  1. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih
  2. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa [QS Al-Ahqaf: 24-25]

Orang pertama dari kaum Aad yang melihat kalau awan itu adalah angin yang menghancurkan adalah seorang wanita bernama Mahd. Ketika dia melihatnya, dia pun berteriak dan jatuh pingsan. Ketika siuman, sebagian kaumnya bertanya kepadanya, “Apa yang kau lihat wahai Mahd?” Dia menjawab, “Aku melihat awan hitam bagai meteor dari neraka, di depannya ada seorang lelaki yang menuntunnya![1]

Suatu malam nabi Hud didatangi malaikat yang memberi tahu bahwa sebentar lagi azab Allah akan datang. Malaikat itu berpesan pada nabi Hud agar segera meninggalkan perkampungannya bersama pengikutnya.

Malam itu juga nabi Hud mengumpulkan orang-orang beriman dan mengajak pergi dari perkampungan. Mereka menuju ke Hadratul Makkah. Malam semakin larut dan nabi Hud bersama pengikutnya sudah jauh meninggalkan wilayahnya, maka datanglah angin topan berwarna hitam pekat tersebut. Angin ini berhawa dingin dan menerjang wilayah Ad. Ternak-ternak kaum aad bergelimpangan. Begitu pula bangunan yang dibanggakan selama ini.

Setelah itu orang-orang yang menentang ajaran nabi Hud di hancurkan juga. Di saat itulah mereka sadar bahwa ajaran dan ancaman nabi Hud telah terbukti. Mereka menyebut-nyebut nama Hud dan memanggilnya. Namun penyesalan tinggal penyesalan sebab nabi Hud sudah berada di daerah yang jauh dan Allah tidak menerima penyesalan mereka lagi.

Lalu Allah Ta’ala menggerakkan awan hitam tersebut 7 malam 8 hari berturut-turut mengepung mereka[2]. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di dalam desa kaum Aad, sementara Nabiyullah Hud ‘Alaihissalam dan orang-orang yang telah beriman terlebih dahulu sudah pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari adzab dan siksa Allah yang pedih. Firman Allah Ta’ala:

وَأَمَّا عَادٞ فَأُهۡلِكُواْ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ ٦ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ ٧

  1. Adapun kaum ´Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang
  2. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ´Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk) [QS Al-Haqqah: 6-7].

Allah menyerupakan kaum itu dengan tunggul pohon kurma yang tidak memiliki kepala karena angin waktu itu mendatangi mereka dan mengangkat mereka ke atas dengan kencangnya lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa hanya jasad tanpa kepala. Beberapa dari mereka ada yang mengungsi ke gua-gua dan gunung-gunung karena rumah-rumah mereka telah hancur. Kemudian Allah mengutus angin Al-Aqim, yaitu angin panas yang disertai nyala api di belakangnya. Kaum Aad yang tersisa menyangka angin inilah yang akan menyelamatkan mereka. Padahal angin ini justru mengumpulkan mereka semua dalam pusaran hawa dingin dan panas yang sangat membinasakan. Inilah adzab angin terdahsyat dalam sejarah yang pernah terjadi di muka bumi disertai dengan teriakan-teriakan yang amat memilukan dari kaum Aad. Inilah adzab yang mereka meminta-minta untuk disegerakan kedatangannya. Na’udzubillahi min dzaalik. Itulah rangkuman kisah kaum Aad dan adzab yang menimpanya.

 

Kesimpulan

Sungguh hebat azab Allah sehingga membinasakan seluruh wilayah negeri dari kaum Aad. Mengingat hal ini maka nabi Hud dan semua pengikutnya yang beriman tidak lagi menempatinya melainkan pergi ke negeri yang baru, yaitu Hadramaut Makkah. Di sana beliau menyebarkan ajarannya dan bertambah banyak pula pengikutnya. Di sana pula beliau wafat dan dimakamkan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Hud dimakamkan di negeri Yaman, ini dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalib. Riwayat lain menyebutkan kuburannya berada di Damaskus, di masjidnya terdapat tempat yang banyak dikira orang-orang bahwa itu merupakan makam Nabi Hud ‘Alahissalam. Allahu a’lamu bishawab.

 

Hikmah yang bisa diambil

Dari kisah tersebut setidaknya kita bisa mengambil hikmah berupa:

  1. Al-Quran mengisahkan berbagai kisah yang bisa kita ambil pelajaran didalamnya tidak terikat ruang dan waktu. Walaupun kisah itu sudah terjadi dan terjadi di jazirah arab sana, namun kita umat Muslim di Indonesia bisa mengambil hikmahnya sampai saat ini.
  2. Kaum aad merupakan kaum yang diberikan karunia oleh Allah dengan kesempurnaan hidup berupa ladang pertanian yang subur, kekayaan yang melimpah, fisik yang kuat, kecerdasan yang tinggi; sehingga bisa membuat rumah dengan tiang-tiang menjulang tinggi. Namun semua karunia itu tidak diimani oleh mereka dan malah musyrik kepada Allah.
  3. Segala yang kita miliki di dunia hanyalah sementara. Kehidupan dunia ini jangan dijadikan prioritas sehingga menomor-duakan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.
  4. Teruslah menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah dan selalu mengingat akan semua pemberian-Nya (titipan). Apalah artinya bahagia di dunia, tapi di akhirat menderita/merugi.
  5. Semoga kita terjauh dari golongan orang yang kafir akan nikmat-Nya dan selalu bersyukur atas segala karunia yang dimiliki sekarang.

 

Sumber

  • Al-Quranul Kariim
  • Maktabah Syamilah
  • https://kisahmuslim.com/470-iram-negeri-kaum-aad-yang-dibinasakan.html
  • http://sejarahkisahnabi.blogspot.co.id/2013/11/kisah-nabi-hud-as-bag-pertama.html
  • http://sejarahkisahnabi.blogspot.co.id/2013/11/kisah-nabi-hud-as-bag-kedua.html
  • https://muhandisun.wordpress.com/2013/01/24/kisah-nabi-hud-alaihissalaam-dan-kaum-aad/
  • https://kisahmuslim.com/470-iram-negeri-kaum-aad-yang-dibinasakan.html

 

[1] Kisah serupa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya [no. 15524 dengan sanad hasan] dari hadits Al-Harits bin Yazid Al-Bakri mengenai seorang wanita tua dari Bani Tamim.

[2] Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas serta lebih dari satu imam para tabi’in berkata, Angin tersebut dingin dan sangat kencang. [Jami’ul Bayan Ath-Thabari 24/102]

Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Pertama

Al-Quran merupakan wahyu Illahi yang diturunkan kepada umat Islam, secara garis besar pokok-pokok kandungannya terdiri dari aqidah, ibadah, akhlak, hukum, peringatan, dorongan untuk berfikir dan sejarah/kisah. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang kisah nabi hud dan kaum aad.

Penyebutan kaum Aad dan negerinya, Iram di dua surat dalam al-Qur’an, salah satunya dengan nama Nabi mereka yaitu Hud ’alaihissalam, dan yang kedua dengan nama tempat tinggal mereka yaitu al-Ahqaaf, dan di dalam puluhan ayat al-Qur’an yang terdapat dalam 18 surat dalam al-Qur’an. Dan penyebutan kaum Aad dalam al-Qur’an terhitung sebagai kisah yang paling banyak diceritakan dibandingkan dengan kisah ummat-ummat yang lain yang dibinasakan, sebagai bentuk keajaiban dalam al-Qur’an. Hal itu karena kaum ini (Aad) telah dibinasakan secara total dengan angin hitam pekat serta dingin yang tidak sewajarnya. Angin tersebut juga mengandung pasir-pasir yang mengubur dan menutup peninggalan-peninggalan mereka, hingga tersembunyi (tertutup) semua peninggalan mereka dari muka Bumi.

Setelah nabi Nuh dan kaum yang beriman diselamatkan dari banjir terbesar sepanjang sejarah yang menimpa pada saat itu, maka kaum Nuh tersebut menurunkan satu kaum baru yang disebut kaum ‘Ad. Apabila ditarik garis keturunan, kaum Aad merupakan generasi ke delapan setelah nabi Nuh.

Dikisahkan bahwa kaum aad merupakan kabilah yang hidup di wilayah “hadratulmaut”, tempat yang terletak di Yaman yang dekat dengan laut. Wilayah tersebut dipenuhi dengan bangunan dengan pasak tiang yang menjulang tinggi sebagaimana firman Allah:

 أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ ٦ إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ٧  ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٨

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ´Aad
  2. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
  3. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS. Al Fajr 6-8)

 

Di dalam tafsir mengenai kaum Aad, sejumlah ulama ahli tafsir, ahli Geografi, ahli sejarah dan ahli nasab (silsilah keturunan) muslim seperti ath-Thabari, as-Suyuthi, al-Qozwaini, al-Hamdani, Yaqut al-Hamawi dan al-Mas’udi bersemangat untuk mengungkap tentang hakekat mereka. Mereka (para ulama di atas) menyebutkan bahwa kaum Aad termasuk al-Arab al-Baa’idah (Arab yang telah musnah). Dan mereka (al-Arab al-Baa’idah) dianggap mencakup banyak kaum yang telah musnah ratusan tahun sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka kaum Aad, Tsamud, al-Wabar, dan selain mereka masih banyak lagi[1].

Dan mereka (para ulama di atas) mengetahui dari ayat-ayat al-Qur’an bahwa tempat tinggal kaum Aad adalah di Ahqaaf (احقاف) jamak dari kata Haqf (حقف) yang berarti pasir yang miring. Ahqaaf adalah salah satu daerah ar-Rab’u al-Khali dengan Hadhramaut di sebelah selatannya, ar-Rab’u al-Khali di selatannya dan dengan Oman di sebelah timurnya, dan dia sekarang adalah daerah Zhaafar.

Adapun tentang kaum Iram pemilik bangunan tinggi itu, maka al-Hamadani (wafat tahun 334H/946M) dan Yaqut al-Hamawi (wafat tahun 627H/1229M) menyebutkan bahwa bangunan tinggi mereka yang dahulu adalah hasil bangunan Syaddad bin Aad dan telah hilang musnah (tertimbun pasir), dan ia tidak diketahui sekarang, walaupun beredar di cerita-cerita tentangnya.

Baca Surga Dunia yang Dibinasakan (Syaddad bin Aad)

 

Sekilas Mengenai Nabi Hud ‘Alaihissalam dan Kaum Aad

Beliau bernama Hud bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalam. Dikatakan juga bahwa beliau adalah Abir bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Atau ada juga yang menyebut beliau dengan Hud bin ‘Abdullah bin Rabbah bin Al-Jarud bin ‘Aad bin Aus bin Irm bin Sam bin Nuh. Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Jarir[2].

kaum-aad-3Nabi Hud diutus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada kaum Aad yang saat itu tengah melakukan kemusyrikan dengan menyembah berhala. Sebagian ulama dan ahli sejarah mengatakan Nabi Hud ‘Alaihissalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa ayahnya Nabi Hud yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Sebagian mereka berkata bahwa Nuh-lah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab, sementara yang lainnya berkata bahwa ia adalah Adam. Allahu a’lam.

Kaum ini tinggal di sebuah daerah yang bernama “Hadratulmaut“. Di daerah ini mereka melakukan aktivitasnya sebagai petani. Sehingga tanah yang dianugerahkan Allah kepadanya diolah dan menghasilkan buah-buahan serta gandum. Bisa dikatakan kaum ‘Ad tidak kekurangan apapun dalam hidupnya.

Meskipun demikian, mereka (kaum Aad) tidak menyadari bahwa yang membuatnya kaya raya itu sesungguhnya Allah semata. Mereka menganggap bahwa kekayaan itu didapatnya dari kerja kerasnya. Hal ini tentu sudah menyimpang dari ajaran agama.

Karena kekayaan mereka yang melimpah sehingga semua yang dia inginkan dapat dibeli. Selain itu bangsa Aad sangat pandai membuat bangunan seperti benteng untuk menahan serangan kaum lain. Dalam benteng tersebut mereka mendirikan bangunan bertingkat sehingga semua kegiatan di luar benteng dapat diketahui.

Di samping itu, mereka juga mempunyai siasat perang yang jitu. sehingga musuh-musuhnya merasa ketakutan dan takluk sebelum berperang. Hal ini disebabkan oleh kejamnya kaum aad kepada musuhnya. Kekejaman inilah yang membuat musuh takut karena yang demikian itulah mereka semakin sombong dan setiap peperangan mereka selalu mengalahkannya sebelum berperang.

 

Nabi Hud ‘Alaihissalam Diutus Allah kepada Kaum Aad

Kaum Aad adalah kaum yang durhaka kepada Allah Ta’ala yang menyembah berhala. Berhala mereka ada tiga yaitu Shad, Shamuda, Hara. Oleh karena itu, Allah Ta’ala utus saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam untuk mengembalikan mereka kepada aqidah tauhid yang bersih dari syirik. Karena akhlak dan aqidah kaum aad yang demikian menyimpang parah, nabi Hud merasa prihatin. Beliau sangat khawatir bahwa Allah akan mengirim azab kepada mereka sebagaimana yang diturunkan kepada kaum nabi Nuh. Untuk itu ia mengajak pada segenap kaum Aad agar menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala serta kelakuan jahat lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

۞وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٦٥

  1. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ´Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? [QS Al-A’raaf: 65].

Mendengar apa yang nabi Hud katakan kepada mereka, mereka menyangkal; “Mengapa kamu menyuruh kami meninggalkan tuhan-tuhan yang telah disembah nenek moyang kita dan diturunkan kepada kita. Dan tadi kau mengatakan bahwa hanya Tuhanmu yang dapat mematikan dan menghidupkan makhluk. Aku tidak percaya dengan ocehanmu itu. Sebab aku juga bisa membunuh”, sangkal kaum aad yang merasa terhina dengan ucapan nabi Hud.

Nabi hud menceritakan kembali bahwa apa yang terjadi kepada nenek moyangnya (kaum Nuh) ketika mereka kufur terhadap Allah. Namun tetap saja mereka ingkar dan malah menghina nabi Hud sebagai pendusta. Mereka adalah bangsa Arab yang keras tabiat, kafir, angkuh dan menyembah berhala. Kemudian Nabi Hud menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah Azza wa Jalla, mengesakanNya dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas kepadaNya, namun mereka mendustakan beliau, menentangnya dan mengejeknya. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٦٦

  1. Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta” [QS Al-A’raaf: 66]

Maksudnya adalah perkara yang beliau serukan kepada kaumnya untuk diikuti adalah sebuah kedustaan terhadap kegiatan penyembahan berhala yang telah berlangsung ini yang mana kaum yang durhaka tersebut mengharapkan kemenangan, rizki hanya dari berhala-berhala tersebut.

 

Kaum Aad Meminta Disegerakan Adzab

Apa yang terjadi pada kaum Nuh pun berulang pada kaum Aad, mereka meminta disegerakan adzab karena mereka mendustakan bahwa Nabi Hud adalah utusan Allah, mereka tidak mempercayai bahwa adzab itu adalah haq karena mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka menyangka Nabi Hud adalah seorang pendusta padahal sebaliknya, merekalah yang pendusta. Mereka berkata, seperti difirmankan Allah:

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٧٠

  1. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”[QS Al-A’raaf: 70]

Kaum Aad berkata kepada Nabi Hud:

قَالُواْ يَٰهُودُ مَا جِئۡتَنَا بِبَيِّنَةٖ وَمَا نَحۡنُ بِتَارِكِيٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوۡلِكَ وَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ٥٣ إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعۡتَرَىٰكَ بَعۡضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٖۗ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ٥٤ مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ ٥٥

  1. Kaum Aad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu
  2. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan
  3. dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” [QS Hud: 53-55]

Ini merupakan tantangan balik dari Nabi Hud untuk kaumnya dan pernyataan bara’ (berlepas diri) dari sesembahan mereka, dan menjelaskan kepada kaumnya bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat, mereka adalah benda-benda mati yang tak berdaya apa-apa.

Setelah peringatan-peringatan yang diberikan nabi Hud tidak dihiraukan kaum Aad sama sekali, semua keputusan diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Meskipun demikian beliau tak bosan menyeru pada kaum aad untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala sebagai tuhan mereka.

Namun mereka semakin berbuat kerusakan di muka bumi. Setiap kali mendapat peringatan nabi Hud, mereka malah berbuat sombong dan durhaka. Bahkan mereka tetap menolak untuk mengakui bahwa Hud merupakan utusan Allah.

Di tengah-tengah bejatnya moral yang sudah memuncak ini nabi Hud berdoa: “Ya Allah, sekiranya Engkau membuat mereka jera dengan adanya kemarau panjang kemungkinan besar mereka percaya ajaranku“. Doa tersebut nabi Hud panjatkan di tengah malam. Sebab beliau mengira bahwa dengan adanya musim kemarau panjang berarti harta mereka akan ludes dan dapat insyaf kembali. Tuhan Maha Mendengar sehingga permintaan utusan-Nya dikabulkan.

[1] Shahih Ibnu Hibban 361

[2] Tarikh Ath-Thabari 1/133

 

In-Sya Allah Bersambung

Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Kedua (Tamat)

 

Hadits tentang Shaum Tasua Asyuro

Bismillahirrahmaanirrahiem. Kali ini kami akan menginformasikan mengenai hadits tentang shaum tasua asyuro. Shaum tasua asyuro merupakan salah satu Sunnah Rasulullah SAW yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram pada kalendar hijriyah setiap tahunnya.

Hadits Anjuran Shaum Tasua Asyuro

Dalam al-Maushu’ah Al-fiqhiyah[1] dijelaskan bahwa at-Tasu’a berasal dari kata tis’ah (9) yaitu al-yaum at-taasi’ (اليوم التاسع hari kesembilan) dan ‘asyura’ berasal dari kata ‘asyrah (10) yaitu al-Yaum al- ‘asyir (اليوم العاشر hari kesepuluh) dari bulan Muharram[2]. Shaum dua hari di bulan Muharam ini yakni tanggal 9 dan 10 adalah shaum yang hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan hadis shohih riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas ra[3]:

عن ابن عبّاس قال : » حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءِ وأمر بِصِيَامِهِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ : إِنَّهُ يَوْمَ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِذَا كَانَ الْعَامُ القَابِلَ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْتُ الْيَوْمَ التَّاسِعْ ، فَلَمْ يَأْتِ الْعَامَ الْمُقْبَلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «.

Dari ibnu Abbas, ia berkata: ketika Rasulullah SAW Shaum pada hari asyuro dan memerintahkan untuk shaum (pada hari tersebut), maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut (asyuro) diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah SAW menjawab: “Apabila datang kesempatan pada tahun yang akan datang – In-Sya Allah – aku akan shaum pada hari kesembilannya, namun tidak sempat datang tahun depan sehingga Rasulullah SAW meninggal dunia (sebelum melaksanakannya).

Keterangan Hadits

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) shaum pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) shaum juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah shaum pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Rasulullah SAW mengatakan akan shaum pada hari sebelum Asyuro dalam rangka membedakan dengan orang-orang Yahudi, karena hari Asyuro – yaitu 10 Muharram – adalah hari dimana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi shaum pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi SAW tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi shaum pada hari ‘Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami shaum sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah SAW berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah SAW adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau SAW shaum Asyuro dan memerintahkan manusia untuk shaum pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya shaum pada hari Asyuro, dengan shaum pada hari kesembilan.

Kesimpulan

  1. Shaum tasua asyuro merupakan Sunnah yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim
  2. Awal mula shaum ini ditetapkan tanggal 10, namun untuk membedakan dengan Yahudi yang turut melaksanaknnya pada saat itu, maka Rasulullah meminta izin Allah untuk menambah satu hari sebelumnya (tasua), dan Allah mengabulkannya.
  3. Jadi penamaan shaum tasua asyuro ini didasarkan pada nomor Bahasa arab sesuai penanggalan hijriyyah pada bulan muharram setiap tahunnya.

Sumber:

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/keutamaan-bershaum -pada-hari-asyura-dan-tasua-revisi/

https://www.arrahmah.com/read/2011/12/04/16664-kapan-shaum-shaum-tasue28099a-e28098asyura.html

https://syukrillah.wordpress.com/2010/08/28/shaum -tasu%E2%80%99a-dan-asyura/

Maktabah Syamilah

Al-Quranul-Kariim

[1] Lihat Maushu’ah Al-fiqhiyah 2/3641 (al-Maktabah al-Syamilah) yang diterbitkan oleh Departemen Waqf dan urusan Islam Kuwait

[2] Lihat pula dalam kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’I, seperti; I’anat al-Tholibin 2/301, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz atau disebut pula Syarh al-Kabir oleh al-Imam al-Rofi’i (w. 623 H, ulama besar Madzhab Syafi’i) 6/469, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam al-Nawawi (w.676 H) 6/382, Asna al-Matholib 5/387 oleh Abu Yahya Zakariya al-Anshori as-Syafi’I. (Juz dan halaman dalam kitab-kitab ini mengikuti al-Maktabah al-Syamilah)

[3] Hadits yang pertama telah dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shaum no hadits 2003, Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam no hadits 128, serta Abu Dawud dalam Ash-Shaum no hadits 2444.

Thanks Silatda 3

Introducing – Permulaan

Bismillahirrahmaanirrahiem. Selamat malam kawan, pernah ga sih kalian menikmati satu momen dimana kalian merasa bangkit kembali dari “zona bosan”? Ya, setidaknya itu yang saya rasakan. Tulisan dengan judul “Thanks Silatda 3” ini setidaknya menggambarkan kebangkitan tersebut dari perspeksi saya sendiri.

Sukses dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh PD Hima dan Himi Persis kab. Cianjur bertajuk Silatda 3 Santri Persis Cianjur, lantas tidak menjadikan saya gembira begitu saja. Kenapa? Karena masih banyak PR menumpuk yang harus saya selesaikan disini. Apa PRnya? Secara umum, saya dan rekan-rekan panitia Silatda 3 harus menyetel ulang beberapa konsep kegiatan yang dirasa kurang di Silatda 3. Untuk apa? Tentunya untuk persiapan di Silatda 4 nanti.

Baca: Deskripsi tentang Silatda

Sejak awal dilaksanakannya kegiatan Silatda ini, saya menjadi bagian dari founding committee beserta “rengrengan” Hima-Himi. Tahun 2011 menjadi saksi sejarah terlaksananya event akbar Persis se-kab. Cianjur yang melibatkan seluruh santri yang mengenyam pendidikan dalam naungan Persis. Hima dan Himi menjadi promotor tentunya memiliki andil dan tugas yang besar untuk menjaga konsistensi dari kegiatan tersebut, jangan sampai berhenti di tengah jalan.

Tetap saja, diawal pembentukan kepanitiaan saya sering merasa “jongjon” seakan tidak ada beban besar menyelimuti. Padahal salah, sangat salah. Ini kekurang pertama saya. Padahal, bila pekerjaan kepanitiaan saya selesaikan satu-persatu secara bertahap, tentunya hasil yang diraih bisa maksimal. Tapi apalah daya, “angger we kitu ning”

Singkat tentang Silatda

Kegiatan Silatda ini merupakan event dwi-tahunan sejak awal dilaksanakannya, ini menjadi momen waktu yang cukup senggang untuk mempersiapkan secara matang dari edisi Silatda berikutnya, kita semua tahu itu, dua tahun sudah lumayan cukup untuk evaluasi dan eksekusi berbagai kendala yang dihadapi. Semoga bisa memperbaiki diri.

Mengapa saya bilang “Thanks Silatda 3”? Betapa tidak. Disetiap momen Silatda saya memiliki berbagai cerita manis dan pahit dalam perjuangan, cie cie… Dimulai Silatda pertama yang notabene masih “unyu-unyu” ketika dihadapkan momen akbar seperti ini. Betapa tidak, silatda pertama ini terbilang gebyar dan wah. Kegiatan perdana haruslah menimbulkan kesan baik bagi penikmatnya. Dengan beban besar tersebut, saya dihadapkan pada posisi vital dalam kepanitiaan.

Lalu silatda 2 yang terlibat konflik hati yang menyayat-nyayat, hahaha (itu sih kata rekan-rekan), lalu dengan kondisi fisik yang tidak baik pada saat itu, menjadikan banyak pekerjaan yang tidak maksimal dikerjakan. Silatda pertama dan kedua bertempat di tempat yang sama, yakni Wisma Sarongge. Hanya saja pada silatda kedua, sebagian perlombaan dilaksanakan di Pesantren Persatuan Islam 04 Cianjur. Di silatda 2 ini pula saya mulai bertindak sebagai juri dan pembimbing dari MTs Persis 04. Saya tahu, posisi ini menjadi sensitif bagi perlombaan. Tapi saya berusaha dan terus mencoba untuk menunjukkan sisi objektifitas saya sebagai juri dan sebagai pembimbing.

Di silatda 3 ini sebenarnya tidak banyak yang saya rasakan, artinya saya mulai menikmati posisi saya di kepanitiaan sebagai Pubdok (atau Bahasa gampangnya si tukang moto). Silatda 3 ini telah membuka mata hati saya, bahwa diatas langit masih ada langit. Maksudnya? Ya, saya mungkin terlalu puas dengan hasil santri didikan saya di sekolah. Tapi ketika melihat dunia luar, ternyata banyak yang mungkin lebih baik lagi. Materi kepesantrenan dan umum yang menjadi ampuan pengajaran saya, banyak sekali yang harus di evaluasi. Setelahnya kegiatan ini berlangsung, langsung kroscek ini itu terkait materi pembelajaran untuk para santri.

Baca: Artikel tentang Silatda

gueBersyukur pada Allah

Tidak banyak kata yang diucapkan ketika dan setelah kegiatan Silatda 3 ini diselenggarakan selain ucapan syukur kepada Allah. Dari ribuan pengalaman yang terjadi, ribuan pula hal yang saya ambil hikmah dan ibrohnya. Saya sangat senang dan gembira dengan kawan-kawan Hima-Himi Persis Cianjur ini yang solid, kompak, dan easy-going walaupun dengan jumlah yang tidak banyak, tapi mereka berani dan tawakkal untuk terus konsisten menyelenggarakan kegiatan akbar ini. Bravo Hima-Himi Persis Cianjur.