Ini yang kunamakan Kampanye

Hilman Saukani, S.Ag sedang orasi didepan 2.000 massa

Sabtu, April 5th 2014 di Lapang Bojong, Kec. Karangtengah, Kab. Cianjur, saya berteriak sekencang-kencangnya, bersorak seramai-ramainya, bergerak sebebas-bebasnya. Sudah lama saya tidak melakukannya. Bersama teman-teman, keluarga, orang terdekat, dan para sahabat, memenuhi lapang Bojong dan menghijaukan daerah itu. Ya, itulah momen kampanye.

Seingatku, sekitar 15 tahun lalu terakhir kali saya berteriak menyuarakan “PARTAI BULAN BINTANG”. Berarti saya masih anak-anak kala itu.
Ada yang berbeda mengenai suasana kampanye saat itu dan sekarang. Selain karena faktor usia, juga pengetahuan menjadi titik kunci perbedaannya. Ditambah dengan konstalasi politik Indonesia yang sudah berubah dan kondisi sosiogeografis dan sosiokultural masyarakat yang berubah.
Seiring perubahan zaman, tidak hanya saya yang berubah. Namun kultur dan pengetahuanpun semakin berkembang. Paradigma sosial mulai berubah mengenai kampanye.
Kata orangtua sekarang, dulu itu kalau kampanye tidak se-pragmatis sekarang. Dulu memang ada istilah “massa bayaran” yang niatnya hanya minta atribut, dipasang dimotor, ikut sorak-sorak, dan memenuhi tempat kampanye. Selesai itu mereka ngantri ke tim yang mengajaknya, dan meminta bayaran. Sudah. Namun tidak banyak dan hanya konsisten satu atau dua partai. Namun sekarang, mereka tidak pandang partai apa, kemanapun ayo, yang penting bensin penuh, dapet uang tambahan pula. Tapi itu mereka, bukan saya.
Saya terlahir di keluarga yang konsisten PBB. Awal-awalnya saya hanya ikut-ikutan karena kurangnya pengetahuan mengenai gejolak politik disini, Indonesia. Tapi dengan semakin bertambahnya usia, saya pun akhirnya paham, mengapa orangtua saya memilih setia di partai ini. Dan itu sudah tertanam dalam hati dan pikiranku, betapa mahal dan berharganya sebuah “pendirian” itu.
Mereka boleh saja menjadi “PELACUR POLITIK”, yang kerjanya hanya meminta bayaran setelah bersorak-sorak dan memenuhi tempat kampanye TANPA tahu dan mengenal “Ghiroh” dan esensi dari apa yang kami suarakan.

Saya berteriak karena saya tahu. Mereka berteriak karena mereka mau.
Saya tahu bukan karena saya ikut-ikutan, tapi saya tahu karena saya ingin tahu dan mencari tahu.
Mereka mau karena mereka tahu apa yang mereka akan dapatkan setelahnya, dan mereka tidak mau mencari tahu apa yang mereka teriakkan asal mendapatkan apa yang mereka mau.

Walau kampanye kami tidaklah gemerlap artis ibu kota seperti partai lain. Tidak semeriah mereka, tidak sebanyak massa mereka, tapi tidak berarti “aum”an kami lebih kecil dari mereka. Tidak berarti kami kalah dalam pendirian.

Boleh saja kami kurang massa kampanye, jangan kira pengaruh kami kurang di negeri ini.Boleh saja tidak banyak yang mengetahui jasa-jasa kami untuk negeri ini, karena kami tidak pernah memasang banner besar – memenuhi papan iklan – atas apa yang telah kami perbuat.Boleh saja partai kami kecil, tapi jangan kira nyali kami – memperjuangkan syariat Islam – itu memble.

Perhatikan saja mereka,
Mereka yang gemerlap artis ibukota, yang berjoged dengan suka ria, yang ditonton anak-anak dengan lenggak-lengkok para artisnya, yang membuat kemacetan hebat dijalan raya, yang meriah dalam menyuarakan partainya, boleh saja mereka tangguh dengan finansialnya.
Berbeda dengan kami. Kami tidak membawa artis ibukota, kami tidak berjoged ria, artis pun tidak lenggak-lenggok di depan anak-anak, tidak membuat kemacetan luar biasa, tidak sekuat finansial mereka, tapi dalam menyuarakan aspirasi, kami tidak kalah. Dan tidak akan kalah.
Ghiroh itu ada ketika….
Ada momen-momen yang paling berkesan saat kampanye. Dimulai dari tekstur tanah yang “ledok” (becek), sampai inspirator bagi oranglain.
Diawali di DPC PBB, di jl. Taifur Yusuf no.47, Kaum – Cianjur, saya dan kawan-kawan Pemuda Bulan Bintang menjadi garda terdepan mengawal kampanye. Merah menggelora menjadi inspirasi golongan tua bahwa anak muda mereka sangatlah menjaga dan melindungi gerakan mereka. Iring-iringan konvoy sepanjang 3km pun Alhamdulillah aman terkendali dengan bantuan para pemuda yang menggandeng pawai meriah itu.
Pemuda Bulan Bintang memimpin arak-arakan kampanye PBB.

 

Sesampainya di tempat (lapang Bojong), dengan tekstur tanah ledok, saya pribadi dan kang Ade Ifan Rustandi mengawali mengibarkan bendera PBB yang besar dan mengelilingi lapang dengan lari-lari kecil. Walau sempat terpeleset karena tanah yang licin, tapi tidak lantas kami berhenti, kami terus berlari dan mengibarkan panji “keramat” (hehe) untuk menghadang dan melupakan tanah yang becek.
Pemuda Bulan Bintang mengibarkan panji PBB dan berlari kecil mengitari lapang

 

Sesudah itu pun kami langsung berdiri dibarisan terdepan panggung dan mulai mengajak oranglain ikut masuk memenuhi lapang. Karena sebelumnya sempat ragu-ragu untuk turun langsung ke lapang. Hingga pada akhirnya, ketua DPC, bpk. Muhammad Toha sendiri turun langsung dan ikut mengajak kepada kader-kadernya untuk ikut turun ke lapang.Beliau berkata: “Kader PBB itu merakyat, kader PBB itu tidak elitis. Hayu ka para kader, turutan pemuda. Turun ka lapang, tong sieun ku kotor. Belok mah aya cai, kotor mah tinggal di cuci. Kader PBB oge tong sieun ku panas, panas di dunya masih jauh dibanding panas di naraka”
Bpk. Muhammad Toha, S.Ag mengajak caleg PBB berbecek-becek dengan peserta kampanye.

Selepas bpk. Toha berkata itu, para kader pun mulai berduyun-duyun memenuhi lapang dengan semangatnya. Subhanalloh. Belum tentu para elit partai lain berani berkotor-kotor memeriahkan suasana kampanye, mungkin mereka lebih memilih diam di tempat yang sudah disediakan, duduk manis di kursi, dan diteduhi dengan tenda.

Para penonton pun disuguhi hiburan yang sungguh unik. Bukan dangdut, bukan sulap, bukan pula grup band. Tapi grup nasyid. Ya, grup nasyid. Awalnya, mayoritas peserta kampanye sedikit yang tahu mengenai lagu-lagu nasyid, tapi setelah lagu-lagu nasyid itu dikemas dengan irama melayu, baru lah mereka mulai mengenal dan menyukai lagu-lagu nasyid.
SPAZI. Itulah grup nasyid yang membantu menghibur kami dengan suaranya yang khas dan kreatifitasnya yang unik. Konsep akustik tidak sama sekali mengurangi kemeriahan suasana kampanye itu. Justru sebaliknya, semakin banyak lah lapang Bojong itu dipenuhi para kader dan simpatisan yang ingin turut menghibur diri. Waw.
Grup nasyid SPAZI sedang menghibur peserta kampanye

Inti dari kampanye bukan nyanyi-nyanyi dan hanya berteriak saja. Tapi kami menamakan kampanye ini dengan “RAPAT UMUM”. Rapat yang mengajak simpatisan pula sebagai pesertanya. Disini para pengurus DPC PBB Cianjur menyuarakan orasi-orasi tentang apa yang akan dilakukan mereka ketika sudah menjabat di kursi DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, dan DPR-RI nanti.

Perlu diketahui, bahwa orasi ini menyuarakan tentang janji bila mereka mendapat kursi DPRD/DPR. Bukan berarti bila mereka tidak mendapatkannya, mereka tidak akan berbakti kepada rakyat dan berhenti menolong sesama. Tidak demikian.
Berdirinya Yayasan Forum Pembangunan dan Perencanaan Cianjur (YFP2C) ini sebagai bukti integritas PBB dalam menyehatkan masyarakat Cianjur. Yayasan ini didirikan bukan pada saat momentum pemilu, bukan bertujuan untuk memenangkan suara PBB di Cianjur. Dengan slogan “mari bersama membantu sesama”, YFP2C insya Allah akan membantu masalah kesehatan bagi penduduk Cianjur. (Klik disini untuk informasi lebih lanjut mengenai YFP2C.)
Ada satu orator yang membuat saya dan rekan-rekan terdiam. Bukan karena beliau “ngaco” dalam bersuara, tapi justru sebaliknya. Beliau mampu menyulut api semangat kami semakin besar dengan fakta-fakta konstalasi politik Indonesia yang disebut sebagai pertandingan aqidah. Ya, pemilu 2014 ini tidak hanya momentum kekuasaan. Tapi sudah menjadi pertarungan aqidah. (untuk informasi detail, silahkan kunjungi tulisan saya sebelumnya, klik disini)
Kami, Partai Bulan Bintang, tidak akan pernah membiarkan orang kafir berkuasa khususnya di Cianjur ini. Silahkan para agama baru dan aliran sesat itu berlindung dan bersembunyi di partai besar yang mampu membawa mereka ke senayan sana. Tapi jangan harap mereka akan hidup tenang dalam melancarkan misi-misi aqidah kelak. Karena masih ada PBB. Boleh saja mereka berlindung pula di partai (yang ngaku) Islam lain, tapi mereka tidak akan pernah menyentuh partai Islam, PBB. Itulah yang dikatakan bpk. Hilman Saukani, caleg DPRD Provinsi dapil Jabar 3 (Kab. Cianjur dan Kota Bogor) no urut 2.
Pertarungan aqidah? Waw. Mungkin bagi oranglain ini terkesan lebay dan dilebih-lebihkan, tapi ini memang faktanya. Kalau orangtua saja berani bilang itu, apalagi kaum muda, tentunya harus lebih lantang dan berani dalam bersuara. Dan kami berikrar untuk selalu menjadi garda terdepan bagi para sesepuh kita.
Sesaat sebelum acara ini diakhiri, bpk. Toha mengajak para caleg PBB untuk berkumpul dibawah panggung dan bersama-sama berikrar didepan sekitar 2.000 massa mengenai komitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat Cianjur dan tentunya dengan konsep transformasi syariah.
(untuk informasi mengenai konsep syariat Islam di tataran politik Indonesia, silahkan kunjungi tulisan saya sebelumnya dengan klik disini)
Begitulah gambaran suasana kampanye PBB di kab. Cianjur yang saya rasakan. Inilah mengapa saya katakan “ini yang kunamakan campaign”. Kami bukan tokoh, tapi insya Allah generasi penerus perjuangan. Rasyid Ridlo, Pemuda Bulan Bintang. Semoga bermanfaat.GALERI KAMPANYE

Pemuda Bulan Bintang garda terdepan
Pemuda Bulan Bintang menyanyikan Mars Pemuda
Pemuda Bulan Bintang menyanyikan Mars PBB
Pemuda Bulan Bintang kab. Cianjur

Tentang nama Gus pada Yusril

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa membuat clear pertanyaan tentang sebutan “Gus” kepada saya menjelang dan saat deklarasi Calon Presiden (Capres) di Surbaya, Minggu (08/12/2013) lalu. Ada yang gigih bertanya dan minta jawaban, “Kalau dipanggil Gus, sebutkan YIM itu anak kiyai siapa?” Saya bukanlah anak kiyai siapa pun dan dan kiyai manapun di Jawa, khususnya di Jawa Timur. Saya tidak pernah mengaku demikian. Bahwa ada sekelompok orang di Jawa Timur memanggil saya Gus, saya tidak menolak dan membantah, tapi berusaha untuk memahami akar budayanya.

Dari segi budaya, panggilan ‘Den Bagus’ atau ‘Gus’ adalah umum untuk memanggil anak laki-laki dari seseorang. Di pondok pesantren di Jawa umumnya, panggilan Gus diberikan kepada anak laki-laki seorang kiyai pengasuh pondok pesantren. Sementara istilah kiyai itu sendiri dalam sejarah budaya Jawa mempunyai banyak arti. Istilah kiyai sudah ada sebelum Islam datang ke Jawa. Salah satu pengertian kiyai, diantara banyak arti yang lain, adalah ulama Islam atau guru agama di pondok pesantren.

Ayah dan kakek saya bukanlah seorang ulama atau guru agama di pondok pesantren di Jawa. Kami hidup dalam tradisi Islam Melayu yang mengenal ulama dan guru agama juga, tapi tidak diberi sebutan kiyai. Anak laki-laki ulama atau guru agama dalam masyarakat Melayu tidak diberi panggilan Gus seperti di Jawa. Bahwa kakek saya Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad bin Tengku Haji Muhammad Thaib bin Sultan Nurrasyid Khadimullah adalah seorang ulama, demikianlah masyarakat menganggapnya.

Tak ada siapa pun yg berwenang mengangkat seseorang jadi ulama. Ulama tidaknya seseorang tergantung pada penerimaan komunitas Muslim setempat. Bahwa ayah saya Idris bin Haji Zainal Abidin adalah seorang ulama dan guru agama Islam, demikianlah masyarakat setempat menganggapnya.

Leluhur kami sudah menunaikan ibadah haji sejak abad 17. Kakek saya membuat perahu kayu untuk pergi haji tahun 1882. Dia mukim beberapa tahun di Mekkah dan Madinah dan pulang membawa ratusan kitab agama.

Kakek saya adalah ulama konservatif yang mengharamkan huruf Latin dan menggangap listrik adalah bid’ah sampai akhir hayatnya. Pemahaman dan pengamalan kakek saya tentang agama tidak banyak bedanya dengan kiyai di Jawa. Dia menjaga tradisi Islam dalam konteks budaya Melayu. Membaca barzanji, tahlil, wirid yang panjang sangat biasa beliau lakukan. Kakek dan ayah saya membaca talqin selesai jenazah dimakamkan. Saya yang masih kecil duduk disamping beliau. Kapan mulai puasa dan akhir puasa, tak seorang pun yang berani putuskan di daerah kami kecuali kakek saya. Kalau beduk beliau tabuh menjelang Maghrib, maka besok orang kampung puasa atau lebaran.

Walau kita sudah merdeka, rakyat di daerah kami tidak perduli dengan menteri agama. Yang mutuskan kapan puasa dan kapan lebaran adalah kakek saya. Itu yang diikuti rakyat, bukan menteri agama. Kakek saya sangat anti Belanda. Dia menolak memasang gambar Ratu Wihelmina. Bahkan terang-terangan beliau memasang gambar Sultan Turki yang dianggapnya sebagai khalifah kaum Muslimin. Kakek saya tidak perduli Sultan Turki sudah dikudeta Kemal Attaturk.

Ayah saya meneruskan tradisi kakek saya, ketika kakek wafat tahun 1969. Ayah saya menjadi Kepala KUA dan hakim Mahkamah Syari’ah. Ayah saya sudah lebih modern dibanding kakek. Beliau sekolah di sekolah Belanda dan belajar agama dengan kakek.

Di Belitung, masyarakat umumnya memandang ayah saya sebagai ulama dan guru agama, walau tidak dipanggil kiyai seperti ulama di Jawa. Ayah saya anggota GPII tahun 1946 dan aktif di Masyumi setelah itu sampai Masyumi bubar. Karena saya anak dan cucu seorang ulama, maka ketika saya di Jatim, ada orang memanggil saya Gus, saya paham konteksnya.

Gus adalah panggilan untuk anak laki-laki seorang ulama atau kiyai di Jawa.
Panggilan kiyai untuk ulama atau pengasuh pondok dan panggilan Gus untuk anak laki-lakinya sudah sangat tua dalam tradisi Islam di Jawa. Panggilan kiyai dan Gus sudah lama jadi tradisi sebelum Nahdlatul Ulama berdiri tahun 1928. Jadi, tidak ada landasan historis dan kulturalnya untuk mengklaim sebutan kiyai dan Gus adalah “milik” warga NU semata. Bahwa anak seorang ulama Melayu ketika datang ke Jawa dipanggil Gus oleh sebagian orang, dari sudut budaya dapat saya pahami. Tentu panggilan Gus seperti itu tak dikenal dalam tradisi Islam di dunia Melayu.

Dalam Serat Ambiya, sebuah karya sastra Islam Jawa, dikisahkan kehidupan di zaman para nabi, termasuk zaman Nabi Muhammad s.a.w. Semua tokoh dan kerabat Nabi Muhammad s.a.w dalam Serat Ambiya diberi gelar dan sebutan bangsawan seperti di Jawa. Kakek Nabi Muhammad, karena menjadi penguasa kota Mekkah, ‘kalau itdak salah’ disebut Adipati Abdul Mutalib. Di Jawa atau Sunda, biasa Nabi Muhammad diberi sebutan “Kanjeng” seperti ucapan “salawat ka kanjeng” yang maksudnya Nabi Muhammad s.a.w. Istilah “Pangeran” di Jawa dan Sunda ditujukan kepada “Gusti” yakni Allah. Sedangkan kata “Kanjeng” digunakan untuk Rasulullah. Padahal dalam sejarah di dunia Arab, Nabi Muhammad s.a.w., tidak dipangil dengan istilah “amir” atau “kanjeng”. Hanya di Jawa dan Sunda.

Kakek saya, Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad, sepengetahuan saya tidak pernah menjadi anggota Nahdlatul Ulama (NU) sampai akhir hayatnya. Tapi, amalan keagamaan beliau, seluruhnya sama dengan amalan keagamaan para kiyai di Jawa. Baru ayah saya yang baca Tafsir Zamakhsyari, al-Maraghi, dan al-Manar serta kitab-kitab filsafat dalam Bahasa Arab. Kakek saya hanya baca tafsir Jalalain, Baidhowi dan Ibn Katsir saja. Kakek saya agak anti filsafat, tetapi mendalami tasawwuf. Berpegang teguh pada kalam Asy’ari dan Mathuridi serta fiqih mazhab Syafi’i.
Demikian penjelasan saya.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network