Hadits tentang Shaum Tasua Asyuro

Bismillahirrahmaanirrahiem. Kali ini kami akan menginformasikan mengenai hadits tentang shaum tasua asyuro. Shaum tasua asyuro merupakan salah satu Sunnah Rasulullah SAW yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram pada kalendar hijriyah setiap tahunnya.

Hadits Anjuran Shaum Tasua Asyuro

Dalam al-Maushu’ah Al-fiqhiyah[1] dijelaskan bahwa at-Tasu’a berasal dari kata tis’ah (9) yaitu al-yaum at-taasi’ (اليوم التاسع hari kesembilan) dan ‘asyura’ berasal dari kata ‘asyrah (10) yaitu al-Yaum al- ‘asyir (اليوم العاشر hari kesepuluh) dari bulan Muharram[2]. Shaum dua hari di bulan Muharam ini yakni tanggal 9 dan 10 adalah shaum yang hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan hadis shohih riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas ra[3]:

عن ابن عبّاس قال : » حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءِ وأمر بِصِيَامِهِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ : إِنَّهُ يَوْمَ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِذَا كَانَ الْعَامُ القَابِلَ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْتُ الْيَوْمَ التَّاسِعْ ، فَلَمْ يَأْتِ الْعَامَ الْمُقْبَلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «.

Dari ibnu Abbas, ia berkata: ketika Rasulullah SAW Shaum pada hari asyuro dan memerintahkan untuk shaum (pada hari tersebut), maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut (asyuro) diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah SAW menjawab: “Apabila datang kesempatan pada tahun yang akan datang – In-Sya Allah – aku akan shaum pada hari kesembilannya, namun tidak sempat datang tahun depan sehingga Rasulullah SAW meninggal dunia (sebelum melaksanakannya).

Keterangan Hadits

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) shaum pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) shaum juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah shaum pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Rasulullah SAW mengatakan akan shaum pada hari sebelum Asyuro dalam rangka membedakan dengan orang-orang Yahudi, karena hari Asyuro – yaitu 10 Muharram – adalah hari dimana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi shaum pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi SAW tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi shaum pada hari ‘Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami shaum sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah SAW berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah SAW adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau SAW shaum Asyuro dan memerintahkan manusia untuk shaum pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya shaum pada hari Asyuro, dengan shaum pada hari kesembilan.

Kesimpulan

  1. Shaum tasua asyuro merupakan Sunnah yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim
  2. Awal mula shaum ini ditetapkan tanggal 10, namun untuk membedakan dengan Yahudi yang turut melaksanaknnya pada saat itu, maka Rasulullah meminta izin Allah untuk menambah satu hari sebelumnya (tasua), dan Allah mengabulkannya.
  3. Jadi penamaan shaum tasua asyuro ini didasarkan pada nomor Bahasa arab sesuai penanggalan hijriyyah pada bulan muharram setiap tahunnya.

Sumber:

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/keutamaan-bershaum -pada-hari-asyura-dan-tasua-revisi/

https://www.arrahmah.com/read/2011/12/04/16664-kapan-shaum-shaum-tasue28099a-e28098asyura.html

https://syukrillah.wordpress.com/2010/08/28/shaum -tasu%E2%80%99a-dan-asyura/

Maktabah Syamilah

Al-Quranul-Kariim

[1] Lihat Maushu’ah Al-fiqhiyah 2/3641 (al-Maktabah al-Syamilah) yang diterbitkan oleh Departemen Waqf dan urusan Islam Kuwait

[2] Lihat pula dalam kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’I, seperti; I’anat al-Tholibin 2/301, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz atau disebut pula Syarh al-Kabir oleh al-Imam al-Rofi’i (w. 623 H, ulama besar Madzhab Syafi’i) 6/469, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam al-Nawawi (w.676 H) 6/382, Asna al-Matholib 5/387 oleh Abu Yahya Zakariya al-Anshori as-Syafi’I. (Juz dan halaman dalam kitab-kitab ini mengikuti al-Maktabah al-Syamilah)

[3] Hadits yang pertama telah dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shaum no hadits 2003, Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam no hadits 128, serta Abu Dawud dalam Ash-Shaum no hadits 2444.

Thanks Silatda 3

Introducing – Permulaan

Bismillahirrahmaanirrahiem. Selamat malam kawan, pernah ga sih kalian menikmati satu momen dimana kalian merasa bangkit kembali dari “zona bosan”? Ya, setidaknya itu yang saya rasakan. Tulisan dengan judul “Thanks Silatda 3” ini setidaknya menggambarkan kebangkitan tersebut dari perspeksi saya sendiri.

Sukses dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh PD Hima dan Himi Persis kab. Cianjur bertajuk Silatda 3 Santri Persis Cianjur, lantas tidak menjadikan saya gembira begitu saja. Kenapa? Karena masih banyak PR menumpuk yang harus saya selesaikan disini. Apa PRnya? Secara umum, saya dan rekan-rekan panitia Silatda 3 harus menyetel ulang beberapa konsep kegiatan yang dirasa kurang di Silatda 3. Untuk apa? Tentunya untuk persiapan di Silatda 4 nanti.

Baca: Deskripsi tentang Silatda

Sejak awal dilaksanakannya kegiatan Silatda ini, saya menjadi bagian dari founding committee beserta “rengrengan” Hima-Himi. Tahun 2011 menjadi saksi sejarah terlaksananya event akbar Persis se-kab. Cianjur yang melibatkan seluruh santri yang mengenyam pendidikan dalam naungan Persis. Hima dan Himi menjadi promotor tentunya memiliki andil dan tugas yang besar untuk menjaga konsistensi dari kegiatan tersebut, jangan sampai berhenti di tengah jalan.

Tetap saja, diawal pembentukan kepanitiaan saya sering merasa “jongjon” seakan tidak ada beban besar menyelimuti. Padahal salah, sangat salah. Ini kekurang pertama saya. Padahal, bila pekerjaan kepanitiaan saya selesaikan satu-persatu secara bertahap, tentunya hasil yang diraih bisa maksimal. Tapi apalah daya, “angger we kitu ning”

Singkat tentang Silatda

Kegiatan Silatda ini merupakan event dwi-tahunan sejak awal dilaksanakannya, ini menjadi momen waktu yang cukup senggang untuk mempersiapkan secara matang dari edisi Silatda berikutnya, kita semua tahu itu, dua tahun sudah lumayan cukup untuk evaluasi dan eksekusi berbagai kendala yang dihadapi. Semoga bisa memperbaiki diri.

Mengapa saya bilang “Thanks Silatda 3”? Betapa tidak. Disetiap momen Silatda saya memiliki berbagai cerita manis dan pahit dalam perjuangan, cie cie… Dimulai Silatda pertama yang notabene masih “unyu-unyu” ketika dihadapkan momen akbar seperti ini. Betapa tidak, silatda pertama ini terbilang gebyar dan wah. Kegiatan perdana haruslah menimbulkan kesan baik bagi penikmatnya. Dengan beban besar tersebut, saya dihadapkan pada posisi vital dalam kepanitiaan.

Lalu silatda 2 yang terlibat konflik hati yang menyayat-nyayat, hahaha (itu sih kata rekan-rekan), lalu dengan kondisi fisik yang tidak baik pada saat itu, menjadikan banyak pekerjaan yang tidak maksimal dikerjakan. Silatda pertama dan kedua bertempat di tempat yang sama, yakni Wisma Sarongge. Hanya saja pada silatda kedua, sebagian perlombaan dilaksanakan di Pesantren Persatuan Islam 04 Cianjur. Di silatda 2 ini pula saya mulai bertindak sebagai juri dan pembimbing dari MTs Persis 04. Saya tahu, posisi ini menjadi sensitif bagi perlombaan. Tapi saya berusaha dan terus mencoba untuk menunjukkan sisi objektifitas saya sebagai juri dan sebagai pembimbing.

Di silatda 3 ini sebenarnya tidak banyak yang saya rasakan, artinya saya mulai menikmati posisi saya di kepanitiaan sebagai Pubdok (atau Bahasa gampangnya si tukang moto). Silatda 3 ini telah membuka mata hati saya, bahwa diatas langit masih ada langit. Maksudnya? Ya, saya mungkin terlalu puas dengan hasil santri didikan saya di sekolah. Tapi ketika melihat dunia luar, ternyata banyak yang mungkin lebih baik lagi. Materi kepesantrenan dan umum yang menjadi ampuan pengajaran saya, banyak sekali yang harus di evaluasi. Setelahnya kegiatan ini berlangsung, langsung kroscek ini itu terkait materi pembelajaran untuk para santri.

Baca: Artikel tentang Silatda

gueBersyukur pada Allah

Tidak banyak kata yang diucapkan ketika dan setelah kegiatan Silatda 3 ini diselenggarakan selain ucapan syukur kepada Allah. Dari ribuan pengalaman yang terjadi, ribuan pula hal yang saya ambil hikmah dan ibrohnya. Saya sangat senang dan gembira dengan kawan-kawan Hima-Himi Persis Cianjur ini yang solid, kompak, dan easy-going walaupun dengan jumlah yang tidak banyak, tapi mereka berani dan tawakkal untuk terus konsisten menyelenggarakan kegiatan akbar ini. Bravo Hima-Himi Persis Cianjur.

 

Cerita Motivasi Uang 100 ribu

Kali ini saya akan membagikan cerita motivasi uang 100 ribu. Langsung saja disimak…

Suatu hari disatu kelas, sang guru sedang bercerita tentang uang 100 ribu, sang guru mulai bertanya, “Siapa yang mau uang ini?” Semua murid mengangkat tangan mereka, tanda ingin.
Kemudian guru itu meremas uang 100 ribu itu dengan tangannya, dan kembali bertanya, “Sekarang siapa yang mau uang ini?” Kembali semua murid mengangkat tangannya.
Selanjutnya ia melemparkan uang itu kelantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya, sampai uang itu jadi kotor. Setelah betul-betul kotor oleh debu ia berkata, “Sekarang siapa yang mau?”
Tetap saja seluruh murid mengacungkan tangan mereka. Saat itulah sang guru memasukkan pelajarannya…
“Inilah pelajaran kalian hari ini. Betapapun kalian berusaha merubah bentuk uang ini tidak akan berpengaruh kepada nilainya.”
“Bagaimanapun kalian dihinakan, diremehkan, direndahkan, dilecehkan, dinistakan, kalian harus tetap yakin bahwa nilai hakiki kalian tidak akan pernah tersentuh.”
“Ketika itu kalian akan tetap berdiri kokoh setelah terjatuh. Kalian akan memaksa seluruh orang untuk mengakui harga dirimu.”
“Bila kalian kehilangan kepercayaan terhadap diri kalian sendiri dan nilainya, saat itulah kalian kehilangan segala-galanya”
Itulah sepenggal cerita motivasi uang 100 ribu. Semoga bisa diambil hikmahnya oleh para pembaca, termasuk saya sendiri. In Sya Allah.
Sumber: DISINI

Motivasi Diri

Kawan, kamu pasti kenal sama penyakit yang satu ini: bete. Tubuh serasa nggak semangat buat ngerjain tugas yang ada. Nggak pandang bulu apapun jenis aktivitasnya. Bisa berupa malas belajar, ngerjain tugas kampus, tugas rumah, berangkat kerja, olahraga, dan bahkan males mandi! ngaku aja deh… Disitulah kita butuh yang namanya Motivasi diri.

Bahayanya, penyakit ini juga nyerang ketika kita dipanggil ‘kencan’ sama Pencipta kita. Lagi nyenyak-nyenyaknya tidur sambil ngimpi nonton konser live Linkin Park, eh dibangunin buat sholat shubuh. Lagi asyik-asyiknya nonton film, eh tau-tau TV-nya dimatiin trus kita disuruh sholat magrib juga ngaji. Rasanya keselll banget. Pas sholatpun kadang masih kebawa esmosi.

Kenapa sih kamu suka gitu? Yang jadi masalah di sini sebenarnya adalah persoalan motivasi. Motif untuk melakukan aksi. Sebab, apapun yang kita lakukan kalo tanpa ada bara motivasi, bakalan setengah-setengah ngerjainnya, kepaksa, dan hasilnya pun gak bakal maksimal. Ahirnya, kita rugi pikiran, energi, waktu, dan mungkin juga uang.

Padahal, kita sendiri tau manfaat aktivitas yang kudu kita lakukan itu. Misalnya belajar. Kita sebenernya ngerti kok kalo ga belajar ya nggak bakalan ada ilmu yang nyantol. Ketika ujian atawa ditanya orang ya bakalan gelegepan. Contoh lain, olahraga. Kita sebenernya pengin banget sehat. Dan bahkan kalo bisa, tubuh kita bisa kaya’ yang di iklan-iklan susu atawa alat olahraga DRTV.

Begitu juga sholat atawa ngaji. Kita udah tau banget kok kalo sholat itu wajib. Dilakuin dapet pahala, ditinggalin kena dosa. Yang kalo dosa kita menumpuk, kitapun bakalan sukses terbenam dalam kobaran Jahanam. Wew! Ngeri abis!!

Tapi anehnya, meskipun kita semua pada ngeh segala macem resiko tadi, kenapa kita masih nggak semanget juga yah? Jawabanya: ya itu tadi, karena kita gak ada atau kurang motivasi. Nah…, supaya kamu tau jenis-jenis motivasi apa aja sih yang menjadi daya dorong manusia dalam melakukan aktivitas hidupnya, berikut ini penjelasannya.

 

Motivasi Materi-Kebendaan

Ok, tadi kita udah liat beberapa contoh ketidak-semangatan yang kadang hinggap dalam diri kita. Coba liat contoh lain. Misalnya ada seorang Bapak yang gigih nyari duit buat biaya makan keluarganya. Dia mikir, kalo saya gak nyari duit, keluarga saya bakal kelaparan.

Atau, kita coba tengok pagelaran War on Terrorism yang gencar dikampanyekan Amerika. Semua negara diultimatum oleh AS, “Bareng saya, atau bareng teroris?” Gak ada pilihan lain. Yang lanjutannya, kalo bareng AS dikasih wortel, dana. Kalo nggak mau bareng AS bakal dikasih pentungan, serangan. Kontan aja, negara-negara di dunia serasa dapet hembusan bara motivasi buat milih salah satu pilihannya. Kamu tau sendiri lah, kebanyakan dari mereka pada milih ikut ama Amerika lantaran takut diserang atau malah ngiler karena diiming-imingi duit yang gak sedikit.

Pendekatan pembangkitan motivasi bergaya “wortel dan pentungan” ini diasosiasikan dengan “manusia ekonomi”, yakni sebuah istilah para ekonom klasik yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang penuh kekhawatiran dan ketakutan yang hanya bekerja karena ia terpaksa harus bertahan hidup, sekaligus pula disebut serakah, oportunis, dan senantiasa ingin memperoleh lebih banyak harta duniawi.

Artinya, salah satu motivasi yang menggerakkan manusia untuk melakukan suatu aktivitas, menurut teori ini, adalah manfaat kebendaan, alias materi.

Liat aja di sekeliling kamu. Para pedagang, karyawan, petani, buruh, nelayan, pejabat negara, kebanyakan bergerak karena motif kebendaan. Bahkan ada seorang menteri di negaranya Wiro Sableng ini yang merasa kurang dengan gaji 20 jutanya perbulan. Pssttt.. ngomong-ngomong gaji bapak kamu berapa kalinya beliau?

Namun kemudian, Peter Drucker, yang sekarang disanjung sebagai bapak manajemen modern, menerbitkan sebuah buku yang berjudul The End of Economic Man (1939). Dalam buku tersebut, ia menumbangkan pendapat bahwa kepentingan ekonomi pribadi merupakan kekuatan dahsyat dalam dinamika manusia. Ia mengemukakan, bahwa manusia modern didorong oleh motivasi-motivasi yang jauh lebih kompleks dan misterius daripada yang diduga semula.

Harta benda duniawi bukanlah satu-satunya hal yang diinginkan orang. Karena kalo emang manusia hanya menginginkan harta benda duniawi, orang kaya tentulah menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Tapi kenyataannya, banyak orang yang semakin kaya, malah semakin cemas hidupnya. Paranoid kehilangan harta bendanya.

Ada hal-hal yang nggak bisa dibeli dengan uang. Kasih sayang, harga diri, simpati dan hormat yang tulus dari orang lain tidak akan bisa dibeli dengan uang. Betul?!

 

Motivasi Moral-Emosional

Teori mengenai kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan bawaan yang paling luas diterima dunia adalah teori yang dirumuskan oleh Abraham Maslow (1908-1970) dalam karya klasiknya Motivation and Personality. Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan dan harapan-harapan seorang manusia yang sehat menjadi lima kategori umum yang merupakan keseluruhan kepribadian, motivasi-motivasi dan aspirasi-aspirasi dasar mereka.

Lima kategori itu yakni: kebutuhan-kebutuhan jasmani (fisiologis), seperti makanan, air, udara, rumah; kebutuhan-kebutuhan rasa aman, seperti bebas dari bahaya, ancaman, rasa takut; kebutuhan-kebutuhan sosial, seperti persahabatan, cinta kasih; kebutuhan-kebutuhan ego, seperti pengakuan, kebanggaan, status, harga diri; dan kebutuhan-kebutuhan aktualisasi diri, seperti prestasi, kreativitas, kemandirian.

Dari paparan Maslow ini, kita mendapatkan satu jenis motivasi lagi selain manfaat-kebendaan, yakni moral-emosional. Catet ya!

Contoh sederhana untuk membedakan kedua jenis motivasi itu begini: Di saat akan berperang melawan musuh, kita tentu akan mempertimbangkan kekuatan fisik-jasmani dan berusaha mencari sarana-sarana fisik atau materi penunjang. Kalo ngerasa udah memiliki kekuatan jasmani/senjata yang cukup untuk berperang, kitapun berangkat. Kalo tidak, kitapun akan mundur, atau paling ngga, menunda perlawanan.

Memerangi musuh adalah tindakan yang umum dilakukan manusia. Tapi kalo menyandarkan diri pada kekuatan materi semata, daya “dorong”nya bakalan terbatas. Sikapnya akan dipenuhi keraguan jika dihadapkan pada hal-hal yang bisa membangkitkan rasa takut dan khawa­tir, sekalipun udah punya kekuatan materi. Coba aja lihat tentara AS yang lagi menjajah Irak. Kamu sendiri denger khan, kalo baru-baru ini terungkap angka bunuh diri dan stress yang terjadi pada para serdadu AS itu terus meroket jumlahnya?! Para psikiater militer AS mengungkapkan, angka rata-rata kasus bunuh diri yang terjadi berkisar pada 13,5 per 100.000 tentara. Sementara itu 20%nya diperkirakan akan menderita tekanan jiwa kronis (eramuslim.com 26/01). Alhamdulillah…!

Kekuatan moral berbeda dengan kekuatan fisik-materi. Kekuatan moral timbul dari dalam jiwa. Dalam berbagai kondisi, kekua­tan moral memberikan dorongan yang lebih besar kepada manusia dibandingkan dengan kekuatan materi yang dimilikinya.

Kamu sering denger khan, orang yang ingin memerangi musuh guna membebaskan diri dari dominasi musuhnya, untuk membalas dendam, mendapatkan penghargaan, untuk membela yang lemah ataupun untuk tujuan-tujuan lain?! Mereka akan lebih semangat berperang, dibanding­kan dengan orang yang ingin melakukan peperangan sekedar untuk mendapatkan harta rampasan perang, atau untuk menjajah.

 

Motivasi Ruhaniah

Jenis motivasi yang terakhir yakni kekuatan rohani adalah yang memberikan pengaruh paling besar pada diri manusia dibandingkan dengan kekua­tan moral atau materi. Sebab, kekuatan rohani lahir dari kesadaran manusia akan hubungannya dengan Alloh SWT sebagai Pencipta segala sesuatu, juga segala kekuatan.

Kesadaran dan pera­saan akan hubungan dengan Alloh SWT ini menghasilkan dorongan kepada manusia sesuai dengan apa yang dituntut oleh Alloh, dan tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan lain yang dimiliki baik moral ataupun materi. Kekuatan ini hanya bergan­tung pada tuntutan dan seruan Alloh semata. Apapun jenis tuntutan itu, sesuai ataupun tidak dengan kadar kemampuannya menurut pertimbangan manusia.

Kadang-kadang, tuntutan itu berupa sesuatu yang akan mempertaruhkan nyawanya.  Ia tetap akan melakukannya. Liat aja Nabi dan para sahabatnya. Mereka bener-bener paling gape dalam soal beginian. Tuntutan Alloh memiliki daya dorong lebih besar dibanding kekuatan moril dan materiil yang mereka miliki. Terbukti, mereka jadi manusia-manusia yang keren abis!

Dari sini bisa keliatan kan, bahwa kekuatan rohani memberikan dorongan dan pengaruh terbesar pada diri manusia?!

Seandainya dalam diri seseorang telah menghujam kekuatan roha­ni, maka kekuatan moral bakalan lewat, deh! Apabila memerangi musuh, doi tidak melakukan peperangan untuk mencari harta rampasan atau kemasyhuran apalagi Cuma mau so’ jago. Doi melakukan peperangan karena perintah Alloh semata. Kekuatan materi/senjata hanya merupakan sarana saja, bukan pendorong. Gi..tu Coy…!

Yup, begitulah Islam. Islam telah menjadikan kekuatan rohani sebagai kekuatan pendorong seorang muslim untuk beraktivitas dalam hidupnya.

Tentu saja kita dibolehkan melakukan aktivitas yang didalamnya kita niat nyari untung berupa harta-benda, ataupun sekedar menolong orang tanpa minta imbalan materi. Tapi… semua aktivitas itu harus dijalanin sambil inget aturan Alloh dan dilakukan demi meraih rido Alloh. Kita boleh berdagang, bertani, mengajar ataupun bekerja lainnya; tapi inget harus selalu jujur, gak suap-suapan, ngejaga hubungan pria-wanita, serta perintah Alloh lainnya.

Islam menjadikan kekuatan rohani sebagai satu-satunya dasar bagi kehidupan. Artinya, kita harus menjadikan: aqidah Islam sebagai landasan kehidupan; halal-haram sebagai tolak ukur perbuatan; serta rido Alloh sebagai tujuan akhir. Inget-inget deh tuh!

Tentu saja kita gak bakalan bisa memiliki kekuatan rohani yang menghujam kuat kalo kita menjadikan pemikiran-pemikiran Islam hanya seperti dongeng kisah Cinderella atau Putri Salju yang hanya isapan jempol semata. Kita harus bisa merasakan pemikiran-pemikiran Islam senyata terangnya mentari di siang hari. Dan kita semua mampu, kok. Suwer!

Caranya, kajilah Islam secara menyeluruh. Jangan cuma ibadah ritualnya doang! Kudu kaaffah! Trus, praktikkan langsung pada fakta yang sesuai. Kamu pasti bakalan merasakan indah dan hebatnya aturan Islam.

So, jangan ada bete di antara kita! Kobarkan semangat dan bergegaslah! Surga Alloh menanti kita semua. Yesss! [hnf]