Pemilu 2014 Ajang Pertarungan Aqidah

Pemilu tinggal menghitung hari. Pemilu 2014 Ajang Pertarungan Aqidah. Seluruh penduduk Indonesia yang sudah memiliki hak pilih tentunya jangan menyianyiakan momen akbar tersebut yang kelak menentukan nasib bangsa ini. Arah tujuan yang akan dibawa bangsa ini sangat bergantung pemimpin kita, para wakil rakyat yang melenggang di Senayan sana.

Peluit pertandingan (baca: kampanye) sudah dibunyikan, dan kini para pemain (partai) sudah mengatur banyak strategi demi memenangkan partainya yang mengusung calon wakil rakyat untuk menduduki kursi DPRD tingkat kabupaten sampai DPR-RI dan juga kursi Independen melalui DPD.

Namun sejatinya tidak hanya sekarang atribut partai marak menghiasi jalan dan tempat massal lain, beberapa waktu ke belakang sudah mulai mengkampanyekan partainya dan memasang janji-janji yang akan dilakukan bila berhasil memenangkan pertandingan itu. Tidak hanya janji, bahkan sampai tahapan perencanaan pembangunan pun dipasang supaya diketahui masyarakat secara luas.

Namun, apakah semuanya harus dipilih? Tentu tidak. Kita hanya diperbolehkan untuk memilih satu partai saja yang sesuai dengan kata hati maupun intruksi dari atasan. Karena apapun motifnya, yang dibutuhkan mereka (partai) tentunya adalah akumulasi suara pemilih.

Memang kekurangan dari sistem politik demokrasi adalah menyamaratakan suara personal. Suara ulama, kiayi akan selalu sama dengan (maaf) pelacur, dan pembunuh sekalipun. Tapi saya tidak akan membahas tentang sistem demokrasi, karena perlu pembahasan khusus dan panjang.

Oke, pembahasan utama dalam tulisan saya ini adalah tentang pertarungan aqidah yang dilancarkan para misionaris kafir yang ingin menyerang Islam melalui jalan parlementer. Momen pemilu adalah satu-satunya jalan bagi mereka (misionaris) agar bisa melenggang ke Senayan dan memulai langkah-langkah pergerakan penyesatan aqidahnya.

Sebagai orang yang mendukung partai Islam, tentu – selain menginginkan tegaknya syariat Islam di Indonesia – juga terdapat beberapa alasan yang menjadikan saya tertantang untuk menulis tulisan ini. Bukan untuk kampanye kemenangan suara saja, tapi demi kemenangan aqidah. Walau terbilang terlambat, tapi daripada tidak sama sekali?

Pertama, demi mengamankan aqidah Islam (Sunni, Ahlus Sunnah wal Jama’ah) di Indonesia, tentunya kita gusar dan geram melihat eksistensi aliran sesat yang melabelkan dirinya dengan Islam. Mereka mengaku Islam yang merupakan “firqoh” (organisasi) saja seperti Persatuan Islam, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dll. Padahal tidak demikian.

Banyaknya aliran sesat di Indonesia bukan hal baru bagi kita, tentu saja. Pemberitaan di berbagai media cetak atau elektronik selalu menjadi isu hangat yang mengisi tatanan media. Dimulai ajaran Al-Qiyadah yang pimpinannya, Musaddeq, pernah mengaku mendapat wahyu dan diutus sebagai nabi setelah Muhammad SAW. Sungguh dusta manusia itu.

Lanjut ke Lia Eden yang pernah mengaku sebagai malaikat. LDII, NII dan yang populer saat ini adalah Syi’ah. Adapun mengenai liberalis dari kelompok JIL, saya rasa itu bukan aliran (firqoh) dalam perspektif organisasi kemasyarakatan, tapi lebih kepada kelompok pemikiran radikal mengenai ajaran Islam. Tapi banyak kaum dari liberal ini yang pro akan eksistensi aliran sesat tadi dan membenarkan argumen bahwa aliran sesat tadi adalah buah kreatifitas dan pemikiran manusia akan Islam.

Kehadiran aliran sesat ini tidak serta merta tumbuh berkembang dengan mulus. Kasus penyerangan terhadap aliran syiah di Sampang, Madura tempo dulu menandakan masih sadarnya masyarakat Muslim akan kehadiran mereka yang meresahkan. Tapi tetap saja itu tidak dianjurkan. Islam tidak pernah mengajari untuk memerangi terlebih dahulu, tapi Islam mewajibkan untuk bertahan, lalu melawan.

Lantas, apa kaitannya dengan isu pemilu?
Pemilu 2014 ini menjadi titik tolak kebangkitan aliran sesat di Indonesia. Dari sini mereka memulai misi dalam tatanan aqidah di Indonesia dengan maksud melegalkan dan bersembunyi dibalik panji bhineka tunggal ika. Mereka sudah tahu bagaimana respon Muslim Indonesia bila mengetahui eksistensi alirannya. Maka dari itu mereka mengambil jalan legislatif (kekuasaan) sebagai proses legalitas ajarannya. Karena kita bisa memberikan pengaruh lebih baik dengan kekuasaan daripada tidak. Kita akan dengan mudah menyebarkan satu paham melalui bupati, daripada kita mengoptimalkan organisasi kemasyarakatan.

Maka dari itu, tujuan kedua saya adalah untuk mempublikasikan kepada khalayak, bahwa diluar sana terdapat orang-orang yang berbasis aliran sesat seperti syi’ah, LDII dan lainnya yang maju sebagai calon legislatif dari berbagai partai, TERMASUK PARTAI ISLAM.

Berikut ini caleg-caleg sesat JIL dan Syiah dari lintas partai yang meramaikan pemilu pada Pileg 2014.

  1. 1. Jalaluddin Rakhmat, dedengkot Syiah, Caleg dari PDI-P Calon Anggota Legislatif DPR RI, nomor urut 1 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II (Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat)
  2. 2. Zulfan Lindan, tokoh Syiah dari Partai Nasdem Calon anggota DPR RI, untuk Daerah Pemilihan Aceh II
  3. 3. Lestari Yuseno, (Istri dari tokoh Syiah Agus Abu Bakar Alhabsyi) Caleg DPR-RI dari Partai Demokrat dengan nomor urut 3 pada Pemilu 2014 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat VI (Kota Bekasi-Kota Depok).
  4. 4. Asri Rasjid, Caleg DPRD PKS Provinsi di daerah pemilihan SULUT 2
  5. 5. Muhsin Labib, tokoh syiah, caleg nomor urut 2 dari PAN untuk daerah pemilihan Jawa Timur IV (Jember dan Lumajang).
  6. 6. Abdurrahman Bima, tokoh Syiah, Anggota komisi VI DPR RI dan menjadi ketua kelompok komisi VI fraksi Partai Demokrat. Calon legislatif pemilu 2014 untuk Dapil Nusa Tenggara Barat.
  7. 7. Ulil Abshar Abdalla, (dedengkot JIL Liberal pendukung aliran sesat) dari Partai Demokrat Calon Anggota Legislatif DPR RI nomor urut 7 untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah III (Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan)
  8. 8. Zuhairi Misrawi, caleg dari PDIP. Ada apa dengan dia? Dalam status-status twitternya Zuhairi sering mengeluarkan statment-statment radikal dan ekstrimis dalam menyerang umat islam di Indonesia. Zuhairi sangat anti islam dan sangat membenci sistem islam apapun bentuknya. Bahkan dia pernah mengusulkan, jika PDIP berkuasa, ia menunjuk Jalaludin Rakhmat menjadi Menteri Agama RI. PARAH!
  9. 9. Yusnan Solihin, caleg syiah Partai Gerindra Daerah Pemilihan: Jawa Barat 1 ( Kota Bandung – Kota Cimahi )
  10. 10. Dedy Djamaluddin Malik, caleg dari PDIP dari daerah pemilihan Jawa Barat I (Kota Bandung dan Cimahi) pada nomor urut 2
  11. 11. Aceng Karimullah, caleg dari PAN dapil JABAR I (Kota Bandung & Kota Cimahi)
  12. Dan banyak lagi yang belum saya rangkum karena kekurangan materi dan referensi.

“Ya, saya tidak akan memilih mereka, tapi saya memilih partainya”.
“Aah, partai saya tidak ada caleg dari aliran sesat”.
“Itu kan dapil mereka, di dapil saya tidak ada caleg aliran sesat”.
“Bohong”.

Dan mungkin berbagai statemen lain yang akan dilancarkan orang yang tidak percaya dan tidak mau menerima. Saya analogikan begini:

Dapil Jawa Barat I (Kota Bandung & Kota Cimahi) terdapat satu orang yang saya kenal yakni H. Saepudin, S.Ag, M.Ag. Beliau adalah tokoh Persatuan Islam (PERSIS; Sunni), dan dalam partai yang sama, dapil yang sama, hanya berbeda no urut, ada sosok Aceng Karimullah, BE, SE, yang dikenal sebagai tokoh LDII. Entah strategi apa yang dipakai sehingga menempatkan kadernya bergandengan dengan seorang LDII. Ataukah karena ketidak tahuan (khilaf) semata?

Masih contoh, saya adalah pemilih PAN dan tinggal di dapil Jabar I. Walau saya tahu caleg sesat dan tidak memilihnya, belum tentu kita bisa menghindarkan si “sesat” tadi dari kursi parlemen. Karena sistem yang berlaku adalah mengakumulasikan suara berdasarkan peroleh suara terbanyak dari tiap calon. Contoh, untuk Jabar I minimal harus memperoleh 150.000 suara. Dari partai PAN, terdapat dua nama dengan perolehan suara terbanyak yakni H. Saepudin memperoleh 60.000 dan Aceng tadi memperoleh 60.001. Hanya berbeda satu suara. Sisanya – sekitar – 30.000 suara akan dilimpahkan otomatis ke Aceng. Maka yang akan maju adalah Aceng tadi, karena dia yang memperoleh suara terbanyak daripada calon lain.

Apa maksudnya? Ini berarti saya – SUNNI – TELAH AMBIL BAGIAN MENSUKSESKAN KAUM SESAT LIBERAL MASUK PARLEMEN.

Mengutip statemen sahabat saya, Ade Ipan Rustandi, “Saya lebih memilih konfrontatif secara pemikiran dan fisik dengan liberal, sesat, bahkan kafir selipun daripada harus bergandengan bersama yang pada akhirnya menguntungkan mereka (si “sesat”)“.

Lalu, akan dikemanakan suara kita selanjutnya? Apa kita harus menjadi seorang golput saja? Mencari jalan aman?

Ini juga bukan kesimpulan yang benar. Karena dengan kita golput, justru akan menguntungkan mereka. Belum paham? Saya kasih analogi lain.

Sebelumnya kita harus tahu, bahwa si Sesat itu memiliki massa yang militan dan susah digoyahkan kecuali dengan hidayah Allah. Bila jumlah pemilih di Indonesia itu ada 100 juta dengan perbandingan suara 80% untuk partai bukan basis Islam, dan 20% berbasis Islam, jadi 80 juta suara akan masuk ke partai-partai seperti Demokrat, PDIP, Golkar, Hanura, Gerindra, Nasdem, dan PKPI. Sedangkan 20 juta masuk ke PBB, PAN, PPP, PKS, dan PKB. Ini asumsinya semua masyarakat Indonesia “nyoblos”.

Sedangkan bila jumlah golput itu ada 20% dari total pemilih, berarti perolehan suara untuk partai non basis Islam berubah menjadi 64 juta, dan 16 juta untuk partai basis Islam. Mending bila yang golput itu kebanyakan pemilih partai basis non-Islam, bagaimana bila suara golput itu berasal dari orang pemilih partai basis Islam? Semakin hancur suara partai basis Islam itu.

Jadi intinya, semakin banyak yang golput, maka akan semakin menguntungkan si “sesat” tadi. Bukan malah menjadi solusi, tapi menambah buruk keadaan dengan membuka jalan lebar bagi si “sesat” melenggang ke kursi Senayan dan mulai menyebarkan misi-misi terselubungnya, yakni mengajarkan pemahaman sesat.

“Wah ngeri ya? Tapi apa yang akan mereka (si “sesat”) lakukan bila terpilih menjadi anggota legislatif nanti?
Menurut sumber yang saya baca, (klik disini) salah satu caleg bila terpilih nanti, ia akan mengusulkan “dedengkot” Syiah di Indonesia, Jalaludin Rakhmat menjadi menteri agama. Ia beralasan, menteri agama itu harusnya orang yang mendukung paham pluralisme, sadar akan heterogenitas masyarakat Indonesia yang tidak hanya pada budaya, tapi juga pada pemahaman (baca: aliran dan ajaran). Relakah kita, Muslim, yang melenggang menjadi Menteri adalah tokoh Syiah? Na’udzubillah.

Kenapa harus Syiah? Bahayakah mereka bila berkuasa?
Untuk konteks Indonesia, nampaknya masih belum banyak yang saya ketahui tentang apa yang dilakukan mereka kecuali menyebarkan ajarannya secara sembunyi-sembunyi. Namun pada 26 Oktober 2013 di Jakarta lalu mereka menyelenggarakan perayaan Idul Ghadir yang dianggap sebagai hari raya baru umat Islam. Jelas ini paham sesat. Idul Ghadir sendiri merupakan perayaan KEBENCIAN besar-besaran kepada khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, istri-istri Nabi Muhammad. Padahal melalui surat edaran MUI tentang PENDAPAT DAN SARAN MUI TTG SEMINAR INTERNASIONAL AL-GHADIR OLEH IJABI no. B-473/MUI/X/2013 melarang keberadaan idul Ghadir tersebut yang dibalut dengan acara seminar. Ini mereka belum memiliki kekuasaan apa-apa dan masih satu perayaan. Belum lagi bila perayaan karbala, yang melukai diri sendiri dan anak-anak mereka, dan perayaan sesat lain akan mereka adakan.

Kasus lain, dedengkot Syiah, Jalaludin Rakhmat pernah memberikan statemen mengenai kasus berdarah sampang, Madura. Ia mengatakan, “orang-orang Syiah tidak akan membiarkan kekerasan ini. Karena untuk pengikut Syiah, mengucurkan darah bagi Imam Husein adalah sebuah kemuliaan,” Apa maksudnya? Jelas. Mereka berani menumpahkan darah demi menjaga agamanya. Ya, dari sini saya akan menuliskan syiah dengan agama baru! Bukan bagian dari ISLAM (firqoh).

Apalagi bila si dedengkot Syiah, Jalaludin Rakhmat, dan caleg lain itu berhasil maju ke kursi DPR, akan lebih marak lagi kasus-kasus seperti itu. Relakah kita?? Na’udzubillah.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
Pendapat saya, selain berdo’a memohon petunjuk Allah, maka kita harus cerdas dan selektif dalam memilah dan memilih partai mana yang akan kita sokong. Seperti yang saya tulis sebelumnya, JANGAN GOLPUT. Golput bukan solusi dan memecahkan masalah, tapi akan menambah masalah.

1. Bagi saya, partai Islam harus diutamakan. Teringat akan Masyumi pada pemilu 1955 yang saat itu dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah Indonesia, berhasil unggul dari partai Islam lain dengan perolehan 21% suara. Dengan berkuasanya partai Islam di Indonesia, maka kesejahteraan bukan teori lagi.

2. Pilih partai yang tidak terpengaruh dan dimasuki caleg aliran-aliran sesat.
Nampaknya tulisan saya diatas memberikan gambaran kecil mengenai sepak terjang aliran sesat di Indonesia yang mencoba bertarung di dunia politik lewat momen pemilu legislatif. Mengenai apa yang akan dilakukan ketika mereka menjabat nanti, saya juga tuliskan diatas.

3. Visi misi dan asas partai tersebut harus diperhatikan.
Walau terkesan teoritis dan terlalu formal, tapi visi misi dan asas dari suatu partai merupakan suatu gambaran umum mengenai partai tersebut.

4. Tokoh yang memang telah berprestasi mensejahterakan umat.
Mengenai penokohan ini, memang sulit mengukur dan menakar secara matematis. Juga factor geografis menjadi kendala penentuan prestasi satu tokoh. Namun dengan adanya media publikasi, seharusnya menjadi tolak ukur masyarakat Indonesia sebagai dasar memilih calon legislatif kelak. Jika kita tinggal di Bandung dan mendengar kabar bahwa di Cianjur dikeluarkan perbup (peraturan bupati) mengenai PERDA SYARI’AH, maka tokoh tegaknya Perda Syariah di Cianjur yang “nyaleg” di Bandung harus kita dukung, dengan dalih semoga dia juga menerapkan peraturan yang sama di Bandung. Begitupula dengan yang lainnya.

5. Kenali tokoh yang akan kita pilih.
Nampaknya para caleg kini (walau tidak semua) sudah mempublikasi profil mereka dan sepak terjang individu dalam menyejahterakan masyarakat walau lingkup RT saja. Banyaknya profil-profil itu menjadi rujukan kita – sebagai pemilih – untuk menentukan pilihan.

Masalah pilihan memang urusan pribadi dan rahasia, namun tidak salah bila saya yang memberikan gambaran kecil mengenai intrik-intrik aliran sesat tadi dalam tatanan politik Indonesia dalam tulisan ini. Selebihnya diserahkan masing-masing.

Saya sadar kapasitas saya sebagai “apa” dan “siapa”. Namun upaya memberikan informasi nampaknya tidak salah. Bila ada kritik dan saran akan sangat saya apresiasi demi perbaikan kedepan, karena kebenaran itu datang dari Allah sedangkan kesalahan merupakan kekurangan manusia. Terima kasih.

Sumber bacaan:
http://kesesatan-frih.blogspot.com/2013/04/kh-aceng-karimullah-adam-amrullah.html
http://muslimina.blogspot.com/2014/02/daftar-nama-caleg-aliran-sesat-tahun.html
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/02/27/29234/pks-partai-terbuka-caleg-syiah-yes-usung-syariat-islam-no/
http://www.dakwatuna.com/2014/02/23/46659/zuhairi-jika-pdip-berkuasa-tokoh-syiah-jadi-menteri-agama

IDUL GHADIR ADALAH BOM WAKTU BAGI INDONESIA,MENGAPA DIIZINKAN?!!! (FOTO DAN VIDEO) PENTING !


http://www.tempo.co/read/news/2012/08/29/173426259/Apa-Kata-Jalaludin-Rahmat-Soal-Sampang

Syariah Islam dalam pembangunan hukum Indonesia

Saya ingin menjelaskan tentang Syariah karena hal itu sering ditanyakan kepada saya dan nampaknya banyak salah paham tentang hal itu

Kata Syariah dalam bahasa arab artinya jalan yang lebar. Kata tariq artinya jalan yang sempit. Ibnu Taymiyyah mengartikan keseluruhan ajaran Islam adalah Syariah, karena ia adalah jalan yang lebar menuju keridaan Allah dan kemaslahatan bagi umat manusia di muka bumi maupun di akhirat kelak. Sementara tariq atau tariqah adalah jalan yang sempit dan berliku yang ditempuh oleh para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam  kajian  hukum,  pengertian  Syariah  dibatasi  hanya  pada  ajaran-ajaran  Islam  yang  terkait  dengan norma  atau  kaidah  hukum. Norma-norma  hukum  itu  ditemukan  di  dalam Al Qur’an  dan  hadits Nabi Muhammad  s.a.w  yang  merupakan  dua  sumber  utama  ajaran  Islam.  Ayat-ayat  Al  Qur’an  yang mengandung norma hukum disebut dengan  istilah ayat-ayat hukum atau ayat-ayat Ahkam. Begitu pula hadits-hadits  yang  jumlahnya  ribuan  itu,  jika  mengandung  norma  hukum,  maka  hadits-hadits  tersebut dinamakan dengan istilah hadits-hadits hukum. Jumlah ayat-ayat hukum di dalam Al Qur’an relatif tidak banyak  di  banding  ayat-ayat  yang  membahas  masalah-masalah  lainnya.  Demikian  pula  hadits-hadist hukum Abd. Wahhab al Khallaf menyebutkan bahwa ada sekitar 3 persen dari seluruh ayat-ayat Al Qur’an yang dapat digolongkan sebagai ayat-ayat hukum. Jumlah 3 persen itu diluar ayat-ayat hukum yang mengatur bidang peribadatan spt shalat, puasa, haji dan sebagainya.  Jumlah 3 persen  itu berisikan norma-norma hukum yang terkait dengan norma hukum privat dan hukum publik.

Corak perumusan norma hukum dalam ayat-ayat Al Qur’an maupun hadits umumnya bersifat  singkat, tidak rinci dan tidak dirumuskan dg sistematik Karena itu, meskipun Al Qur’an mengandung norma hukum, namun Al Qur’an bukanlah sebuah kitab hukum, apalagi kodifikasi hukum Kitab-kitab hadits pun bukan pula kitab-kitab  hukum, karena  ia berisi  himpunan hadits yang mencakup semua hal yang  dicatat dari perkataan perbuatan dan sikap diam Nabi Muhammad s.a.w semasa hidup beliau.

AlQur’an memang bukan sebuah kitab hukum, karena fungsinya adalah sebagai petunjuk, penjelasan dan pembeda antara kebenaran dengan kesalahan. Dalam konteks itu maka kita memahami bahwa di bidang hukum, fungsi Al-Qur’an adalah petunjuk, penjelasan dan pembeda dalam merumuskan norma hukum.
Demikian pula fungsi hadits adalah memberikan petunjuk dan arahan dalam merumuskan norma-norma hukum, karena fungsi AlQur’an dan hadits adalah demikian, maka lebih tepat kita katakan bahwa Syariah, yakni ayat-ayat alQur’an dan hadits-hadits hukum adalah sumber hukum, yakni sumber tempat Rumusan norma  hukum  yang  singkat,  tidak  rinci  dan  tidak  sistematik  di  dalam  Syariah itu memang sengaja dirumuskan  demikian  mengingat  kehidupan  umat  manusia  yang  bersifat dinamis sehingga kebutuhan hukum mereka tumbuh dan berkembang sesuai perkembangan zaman.

Hanya  dua  bidang  hukum  yang  dirumuskan  rinci  dalam  Syariah,  yakni  hukum  perkawinan  dan  hukum  kewarisan.  Hukum  perkawinan  dan  kewarisan  itupun  masih memerlukan sistematisasi untuk memberlakukannya, juga mempertimbangkan perkembangan zaman.

Pengertian  ‘akil baligh yang menentukan batas usia untuk menikah bagi perempuan yang disebutkan dalam Syariah  misalnya,  penerapannya  ke  dalam  usia  yang  kongkrit  dikaitkan dengan kedewasaan untuk menikah bisa berbeda antara satu kelompok  umat Islam dengan umat Islam yang lain. Begitu pula kedudukan ahli waris pengganti,  penerapannya bisa berbeda antara sistem kekerabatan patrilineal, matrilineal dan  bilateral. Karena Syariah adalah sumber hukum, maka dalam perjalanan sejarah, muncullah ribuan kitab-kitab yang membahas hukum dari para ulama dan fuqaha.

Para fuqaha itu telah berusaha keras merumuskan filosofi, metodologi, tafsir dan bahkan merumuskan norma-norma hukum yang bersifat terapan. Kajian-kajian  hukum  itu tidak berhenti sampai sekarang, mengingat dinamika masyarakat di mana saja di  dunia ini. Mengingat perbedaan ruang dan waktu, timbulah aneka pendapat dan aliran dalam hukum, yang disebut dengan istilah mazhab-mazhab hukum dalam Islam.
Perbedaan pendekatan dalam memahami dan merumuskan norma-norma hukum yang mengacu kepada syar ‘ah sebagai sumber hukum adalah lumrah dalam dunia ilmu.

Ketika umat Islam mendirikan negara-negara, Syariah itu menjadi acuan utama dalam pembentukan hukum positif di zaman mereka. Seiring dengan hal itu lahirlah  sistem hukum yang dinamakan dengan istilah Sistem Hukum Islam, lengkap dengan sistem peradilannya. Sistem Hukum Islam itu diakui dunia sebagai salah satu sistem hukum yang hidup dan berkembang di dunia ini, disamping sistem hukum yang lain seperti hukum Eropa Kontinental yang berasal dari Hukum Romawi, Hukum Anglo Saxon dari Inggris dan Hukum Asia Timur yang berasal dari Cina.

Hukum Islam sebagai sebuah sistem hukum itu berkembang dari ajaran Islam,  karena itu terkait erat dengan ajaran agama. Meskipun terkait dengan ajaran agama, rumusan normanya bisa bersifat universal dan mempengaruhi hukum privat dan publik internasional. Hukum perbankan Islam yang sekarang digunakan di seluruh  dunia, diakui sebagai sistem hukum khusus dalam dunia perbankan. Hukum  Perbankan Islam itu digunakan oleh banyak bank di negara-negara Eropa dan Asia, meski mereka bukan pemeluk Islam.

Senat Philipina misalnya mengesahkan Republic Act on establishment of the Islamic Bank of Philippine yang menggunakan hukum perbankan Islam. Padahal konsitusi  Philipina secara tegas menyebutkan bahwa Philipina adalah sebuah Republik Sekuler yang memisahkan agama dengan negara.

Muchtar Kusumaatmadja mengakui bahwa sumbangan terbesar hukum Islam  kepada hukum intenasional publik adalah hukum perang dan damai. Sebagian besar  konvensi hukum perang internasional yang sekarang berlaku diadopsi dari hukum  Islam,  karena  Syariah  mengatur  hal  itu. Sementara bagi bangsa Romawi, perang adalah bumi hangus, tidak ada hukum dalam perang, yang ada adalah kemenangan atau kekalahan. Hal  yang  sering menimbulkan  kesalahpahaman  adalah  Syariah  adalah  norma  hukum  dalam  ajaran Islam  yang  kemudian membentuk sistem hukum dunia. Masalahnya tidak semua agama mempunyai norma hukum seperti syari ‘ah, apalagi membentuk sistem hukum yang  berdiri sejajar dengan hukum dunia yang  lain. Hanya agama Islam, Yahudi dan  Hindu yang membentuk sistem hukum. Diantara ketiganya, hukum Islam yang paling berpengaruh sampai kini.

Makanya mata kuliah Hukum Islam diajarkan dimana saja di fakultas hukum, termasuk di Eropa, Amerika dan Amerika Latin. Sementara agama Kristen, Buddha  dan Shinto tidak mengandung norma hukum dan tidak melahirkan sistem hukum selama perkembangan sejarahnya.

Doktrin dalam berbagai konsili itu dinamakan Hukum Kanonik Gereja Katolik. Namun seiring dengan Renaissance, pengaruh itu kian berkurang. Proses sekularisasi Eropa mendorong sekularisasi di bidang hukum, pengaruh gereja dalam pembentukan norma hukum makin memudar.

Di fakultas hukum manapun di dunia ini tidak diajarkan hukum Kristen, Hukum  Buddha atau Hukum Shinto. Agama-agama tersebut tidak membentuk sistem hukum. Sistem Hukum Kristen misalnya memang tidak ada di dunia ini. Jesus sendiri mengacu  dan mentaati hukum Taurat seperti disebutkan dalam Al-Kitab.
Secara sosiologis dan historis, hukum Islam tetap mempengaruhi para pemeluknya  dari dulu sampai sekarang. Hukum Islam adalah the living law. Meskipun agama Kristen tidak membentuk sistem hukum, namun setelah Imperium Romawi memeluk Kristen, doktrin Kristen mempengaruhi Romawi.

Bagaimanakah hukum Islam di  Indonesia? 
Sejak kedatangan Islam pengaruh hukum  Islam itu cukup besar kepada masyarakat suku di Nusantara. Ditingkat yang paling awal, pengaruh hukum Islam itu terletak di bidang peribadatan dan hukum kekeluargaan. Ketika terbentuk kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, pengaruh hukum Islam makin besar karena dijadikan sebagai rujukan utama pembentukan hukum. Pengaruh itu terasa di bidang hukum tatanegara, hukum pidana, perdata dan publik lainnya.

Transformasi Syariah ke dalam hukum kerajaan-kerajaan Nusantara dilakukan melalui kitab-kitab fiqih yang  dijadikan  pegangan  oleh  para  ulama.  Sebagian  lagi  ditransformasikan langsung ke dalam hukum positif kerajaan tersebut dalam bentuk Qanun, yang selanjutnya membentuk sistem peradilan.

Dalam melakukan transformasi itu, kaidah-kaidah hukum kebiasaan hukum adat juga dijadikan sebagai sumber rujukan pembentukan norma hukum. Raja Malaka yang memeluk Islam, Parameswara, membentuk hukum laut yang sangat menarik. Namanya Qanun Laut Kesultanan Malaka. Qanun Laut Kesultanan Melaka itu sangat menarik, mengingat posisi Melaka sebagai negara yang bertanggungjawab atas keamanan Selat Melaka. Qanun yang diciptakan oleh kerajaan-kerajaan Islam Nusantara itu sangat banyak, belum terhimpun dengan baik, walau sudah ada beberapa riset tentang hal itu.

Kesultanan Cirebon misalnya mempunyai Pepakem yang berisi hukum positif kesultanan itu. Hukum tatanegara pasti berlaku di kesultanan-kesultanan itu, mulai dari Kesultanan Ternate dan Tidore, Buton, Goa Tallo dan Makassar.

Penelitian tentang ketatanegaraan Demak, Pajang dan Mataram Islam memang belum banyak dilakukan. Namun pasti norma-norma hukum Islam dibidang perkawinan berlaku di Mataram  Islam, juga hukum jual beli.

Ketika VOC mulai menguasai tanah Jawa, mereka meminta Prof De Friejer untuk menghimpun hukum yang berlaku di tanah Jawa. Prof Priejer menerbitkan kompilasinya tahun 1660 yang ternyata kompediumnya itu berisi hukum Islam yang disana sini mengadopsi hukum adat Jawa.

Dari berbagai ilustrasi tadi, saya  ingin menunjukkan bahwa sejak ratusan tahun yang lalu, Syariah itu telah menjadi sumber hukum dan rujukan dalam pembentukan hukum dalam sejarah hukum di tanah air kita.

Pertanyaannya  kini  adalah  setelah  kita  merdeka  dan  membentuk  sebuah republik yang demokratis, dimanakah posisi Syariah itu? 

Kemerdekaan kita sebagai sebuah bangsa belum banyak mengubah wajah hukum kita. Dari sudut pandang hukum, negara RI adalah penerus Hindia Belanda. Semua  peraturan kolonial, kita nyatakan masih berlaku sebelum diadakan aturan yang baru menurut UUD45. Itu diatur dalam pasal peralihan UUD45.

Meski demikian, hindia belanda dahulu mengakui keberlakuan hukum Islam walau terbatas pada hukum perkawinan  dan  hukum  kewarisan.  Sementara  hukum  Islam  di bidang peribadatan tidak dicampuri pemerintah kolonial. Bidang ini mereka  anggap sensitif kalau diintervensi, sementara untuk bidang hukum publik, pemerintah kolonial merumuskan norma hukum berdasarkan konstitusi Belanda. Di bidang hukum privat pemerintah kolonial membagi penduduk hindia belanda dalam 3 golongan.

Golongan Eropa tunduk pada BW dan aturan-aturan lainnya Golongan Timur Asing tunduk pada hukum adat mereka, kecuali mereka sukarela menundukkan diri pada hukum golongan Eropa – Golongan Inlander – atau bumiputra mereka tunduk pada hukum adat mereka masing-masing.

Pemerintah Hindia Belanda katakan golongan Inlander tunduk pada hukum adatnya, bukan tunduk pada hukum Islam, meskipun mereka taat kepada agama Islam. Kebijakan Belanda tersebut terkait erat dengan politik devide et impera untuk memecah belah kaum bumiputra. Belanda tidak akui hukum Islam berlaku, karena jika hukum Islam berlaku akan menyatukan semua suku bangsa yang beragama  Islam.

Dengan mendukung hukum adat, maka belanda mudah memecah belah mereka sejak awal abad 20, Pemerintah  Hindia  Belanda  mengikuti  teori-teori  van  Vollenhoven  dan Snouck Hurgronje yang mengatakan bahwa yang berlaku di kalangan Inlander bukanlah hukum Islam melainkan hukum  adat. Hukum Islam baru berlaku apabila telah diterima atau “direcipier” oleh hukum adat.

Pendapat-pendapat seperti itu di dalam kemerdekaan dibantah oleh para ahli hukum adat sendiri seperti Prof Hazairin. Beliau mengatakan sebaliknya Hukum Adat baru berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Hal itu disadari oleh orang Islam.

Secara faktual, hukum Islam adalah hukum yang hidup atau the living law dalam masyarakat Indonesia. Sebagai The living law, hukum Islam itu menjadi bagian dari kesadaran hukum rakyat yang tidak bisa diabaikan sebagai kesadaran hukum, maka negara demokratis manapun di dunia ini tidak dapat mengabaikan kesadaran hukum itu.

Karena itu, Republik Philipina yang secara konstitusinya menyatakan dirinya  sebagai negara sekular, belum lama ini mencabut UU Kontrasepsi. Sebab apa? Sebab mayoritas penduduk yang beragama Katolik menentang kontrasepsi sesuai doktrin gereja yang diyakini mayoritas rakyat. Tugas negara dalam merumuskan kaidah hukum adalah mengangkat kesadaran hukum yang hidup dikalangan rakyatnya sendiri menjadi hukum positif.

Dengan demikian, negara tidak melawan kesadaran hukum rakyatnya sendiri, apalagi negara itu menganut kedaulatan rakyat dan demokrasi. Dalam konteks seperti itu jugalah hendaknya negara RI – negara adalah satu-satunya institusi – yang diberi wewenang untuk memformulasikan norma hukum. Karena itu, Alm. Ismail Saleh mengatakan sumber hukum dalam pembentukan hukum nasional kita adalah hukum Islam (Syariah), hukum adat, Hukum eks kolonial Hindia Belanda yang telah diterima oleh masyarakat Indonesia, serta konvensi-konvensi internasional yang sudah kita ratifikasi.

Kebijakan pembangunan norma hukum di negara kita ini haruslah mempertimbangkan kemajemukan bangsa kita. Karena itu di bidang hukum privat, khususnya hukum kekeluargaan, kita harus memberlakukan berbagai jenis hukum sesuai kemajemukan tersebut.

Hukum Perkawinan dan Kewarisan misalnya mustahil untuk dapat disatukan dan diberlakukan  kepada semua  orang.  Maka  biarlah  ada  kemajemukan.  Bagi  orang  Islam,  negara  memberlakukan  hukum perkawinan dan kewarisan Islam yang harus dituangkan dalam bentuk undang-undang. Begitu juga Negara dapat mengangkat hukum  kewarisan  adat  bagi  komunitas  adat  tertentu,  sesuai  kesadaran  hukum mereka.

Sejalan dengan konsep negara kesatuan, di bidang hukum publik, sejauh mungkin negara merumuskan satu jenis hukum yang belaku buat semua orang. Hukum Lalu Lintas misalnya tidak mungkin ada beberapa jenis hukum yang diberlakukan secara bersamaan. Begitu pula di bidang hukum pidana dan hukum administrasi negara  harus  ada  satu  jenis  hukum  yang  berlaku  bagi  semua  orang.  Dengan demikian, di bidang hukum publik kita memberlakukan unifikasi hukum. Sedang di bidang hukum privat kita hormati kemajemukan.

Dalam  konteks  merumuskan  norma  hukum  publik  yang  bersifat  unifikasi  itu,  kita  merujuk  kepada sumber-sumber  hukum,  yakni  Syariah,  hukum  adat,  Hukum  eks kolonial yang sudah diterima dan konvensi-konvensi internasional yang sudah kita ratifikasi. Ketika sudah disahkan menjadi undang-undang, maka yang berlaku itu tidak lagi disebut Syariah, hukum adat  atau  hukum  eks  kolonial,  tetapi UU RI. Undang-Undang Republik Indonesia itulah hukum positif yang berlaku di negara ini yang asalnya digali dari sumber-sumber hukum dengan mengingat kebutuhan hukum.

Apakah dengan berlakunya hukum  Islam di bidang privat dan transformasi asas-asas Syariah ke dalam hukum publik, Indonesia kemudian menjadi sebuah “negara  Islam”? Bagi saya tidak. Negara ini tetaplah Negara RI dengan landasan falsafah bernegara Pancasila.

Sama halnya dengan dijadikannya hukum adat di bidang privat dan ditransformasikannya hukum adat ke dalam hukum publik, tidaklah menjadikan Negara RI ini berubah menjadi Negara Adat. Negara ini tetaplah Negara RI dengan Pancasila sebagai landasan falsafah bernegaranya.

Selama ini kita gunakan KUHP yang asalnya adalah Code Penal Napoleon yang diadopsi oleh Belanda dan diberlakukan di sini. Tetapi negara kita tidak pernah berubah menjadi Negara Napoleon. Tetap saja negara kita Negara RI.

Itulah penjelasan saya tentang Syariah dalam konteks pembangunan hukum  nasional di negara kita.
Semoga ada manfaatnya.

 

“Indonesia tetap Indonesia, Syari’ah tetap syari’ah.
Mari kita wujudkan Indonesia bersarikan Transformasi Syari’ah.”

*) Yusril Ihza Mahendra (YIM) adalah Majlis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB). Calon Presiden RI Tahun 2014

Selamat jalan, ustadzii…

Aku percaya akan kuasanya sang maha Kuasa. Allah subhanahu wata’ala.
Kuasanya sungguh istimewa dan takkan ada yang bisa menandinginya.
Bergantinya siang dan malam;
Berhembusnya angin segar dan angin mencekam;
Berputarnya waktu tak terhentikan.
Dan keajaiban kuasa dan ciptaan lainnya.

Bagiku, guru berperan penting bagi seluruh murid-murid yang diajari olehnya.
Guru laksana lilin yang terus menyala walau menggerogoti dirinya sendiri.
Guru pula sebagai tauladan para muridnya.
Guru itu laksana cahaya didalam kegelapan.
Guru takkan pernah tergantikan.

Seburuk apapun ia, ia tetaplah manusia.
Sebaik apapun ia, ia tetaplah manusia.
Manusia bisa lupa;
Manusia bisa ingat;
Manusia kadang salah;
Manusia kadang benar;
Dan yang terpenting, manusia akan berakhir meninggalkan dunia.

Ustadzii, wahai guruku. Inilah sepotong tulisan dari dalam hatiku yang mungkin sangatlah singkat untuk menggambarkan cintaku padamu.
Terlalu indah untuk dikatakan puisi, karena ini bukan puisi gombal.
Terlalu lengkap untuk dikatakan biografi, karena aku bukan saksi sejarah lengkapmu.

Aku selalu ingat senyum tawamu; candaanmu; murah hatimu; dan perhatiannya padaku.
Itu selalu membuatku tersipu malu untuk menggunjang ganjing perasaanmu.

Namun terkadang karena kekanak-kanakanku, aku pernah kesal dan marah padamu.
Kau pernah mengacuhkanku; kau pernah menyakiti perasaanku; kau pernah memarahiku; bahkan kau pernah tak mau berbicara padaku.

Aku baru sadar, sikapmu itu selalu memiliki alasan.
Aku baru tahu, marahmu itu bukan karena disengaja.
Kini, di sepanjang waktu baru ku mengetahui, bahwa kau mencintaiku, mencintai murid-muridmu.
Cinta tak harus diungkapkan dengan lemah lembut saja.
Tak perlu hanya dengan pujian saja.
Terkadang itu perlu penghinaan, perlu kesakitan, perlu kerusakan.
Namun bukan untuk dilanjutkan, tapi untuk disadarkan.

Kini, kehadiranmu takkan pernah bisa lagi kulihat.
Kini, ragamu takkan pernah lagi kutemui.
Kini, senyum manismu itu takkan kulihat kembali.
Kau telah pergi… :'(

Sungguh, terlalu lemah bagiku menahan air mata ini menyaksikan tubuhmu terbujur kaku.
Sungguh, tak sanggup kumelihatmu lemah tak berdaya dihadapanku. Hanya terbaring.
Sungguh, ingin rasanya melihat senyummu kembali walau hanya satu hari.

Satu jam. Satu menit saja, ya Allah…
Tapi kutahu, itu mustahil terjadi.

Ku mandikan ragamu yang kaku.
Ku kubersihkan tangan kakimu.
Ku usap keningmu untuk terakhir kalinya.
Dan kubisikkan ditelingamu, selamat jalan, ustadzii…

Engkau sudah wangi.
Engkau sudah siap.
Mari berangkat ke pengistirahatan terakhirmu, tempat istirahat semua.
Bukan rumah beratap emas.
Bukan lantai bertahtakan berlian.
Namun sebidang tanah tanpa alas. Hanya tanah.

Ku do’akan semoga Munkar Nakir tidak mengagetkanmu menjawab seluruh pertanyaannya.
Semoga Engkau mudah menjawabnya.
Semoga do’a kami disini – orang yang menyayangimu – bisa membantumu melewati alam qubr dengan baik.

Kini, disini, di pesantren ini, kami memang kehilanganmu.
Namun itu hanyalah ragamu. Bukan memori tentangmu.
Namamu kan kukenang selamanya. Kan kuingat selamanya.
Hingga Allah pun mengambil ingatan dan nyawaku.
Salam hangat dari anandamu, Rasyid. Untukmu ustadzii, Deni Hamdani.

Ditulis: 26 Desember 2013 pukul 22:45

Kalimah cinta…

Manusia Lahir pastilah memiliki Cinta, karena cinta adalah fitrah yang di miliki manusia. namun terkadang cinta mampu membutakan manusia, hingga melupakan dunia dan seisinya. padahal kita tau dunia ini sangat luas. namun hanya atas dasar cinta yang sifatnya sesaat dunia yang indah ini berubah menjadi bencana.

1. Jangan tertarik kepada seseorang karena wajahnya tampak karena kecantikan dapat menyesatkan. Jangan juga tertarik pada kekayaannya karena kekayaan dapat dimusnahkan. Tertarik pada seseorang yang dapat membuat Anda tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Harap Anda menemukan seseorang seperti itu.


2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin menjemputnya dari alam mimpi dan memeluk mereka. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.

3. Mimpi apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi. Jadilah apa yang Anda inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin Anda lakukan.

kata kata hikmah tentang cinta

4. Harap Anda memiliki cukup kebahagiaan untuk membuat Anda baik, cukup cobaan untuk membuat Anda kuat, kesedihan yang cukup untuk membuat Anda manusia, cukup harapan untuk membuat Anda bahagia dan cukup uang untuk membeli semua kebutuhan Anda.

5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lain terbuka. Tapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang terbuka bagi kita.

6. teman terbaik adalah dia yang dapat duduk di ayunan beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan kemudian Anda ditinggalkan dengan perasaan memiliki percakapan yang panjang dengan dia.

7. Memang benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi juga benar bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

8. Lihatlah segala sesuatu melalui mata orang lain. Jika itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin bahwa orang lain juga terluka hari ini.

9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata kejam dapat menghancurkan kehidupan. Kata yang diucapkan pada tempatnya untuk meredakan ketegangan. Kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan memberkati.

Cerita Hikmah Cinta

10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

11. Orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya membuat yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

12. Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.

13. Hanya diperlukan satu menit untuk menilai seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, namun butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang.

14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang telah menyentuh hidup mereka.

15. Cinta adalah ketika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih peduli padanya.

16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang berarti Anda hanya untuk menemukan pada akhirnya bahwa tidak pernah ada dan Anda harus membiarkan pergi.

17. Cinta dimulai dengan senyuman, tumbuh dengan ciuman dan berakhir dengan sebuah titik air mata.

18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap bahkan telah kecewa, bagi mereka yang masih percaya bahkan telah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai bahkan terluka.

19. Rasanya sakit untuk mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

20. masa depan cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Anda tidak dapat melanjutkan kehidupan yang baik jika Anda tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba, tidak pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika Anda masih tidak dapat melupakannya.

22. Memberikan semua cinta Anda kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan mencintai Anda kembali. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggu sampai tumbuh di dalam hati mereka, tetapi, jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

23. Ada hal-hal yang Anda benar-benar ingin mendengar tetapi Anda tidak akan pernah mendengar dari orang-orang yang Anda harapkan untuk mengatakannya. Namun, jangan tuli mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

24. Ketika Anda lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekitar Anda tersenyum. Jalani kehidupan Anda sehingga ketika Anda meninggal, Anda tersenyum dan orang-orang di sekitar Anda adalah menangis.

KATA-KATA HIKMAH SAYIDINA ABU BAKAR :

1. Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub kerana suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu.

2. Semoga aku menjadi pohon yang ditebang kemudian digunakan.

3. Dia berkata kepada para sahabat,”Sesungguhnya aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah org yg paling baik di kalangan kamu maka berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus maka ikutilah aku tetapi kalau aku menyeleweng maka betulkan aku!”

KATA-KATA HIKMAH SAYIDINA UMAR BIN KHATTAB :

1. Jika tidak karena takut dihisab, sesungguhnya aku akan perintahkan membawa seekor kambing, kemudian dipanggang untuk kami di depan pembakar roti.

2. Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.

3. Wahai Tuhan, janganlah Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di atas tanganku. Wahai Tuhanku, umurku telah lanjut dan kekuatanku telah lemah. Maka genggamkan (matikan) aku untukMu bukan untuk manusia.

KATA-KATA HIKMAH SAYIDINA ALI KARAMALLAHU WAJHAH :

1. Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahawa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik
 sebagaimana yang Engkau cintai.

2. Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, kerana sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima?

3. Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya.

4. Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.

KATA-KATA HIKMAH UMAR BIN AZIZ :

1. Orang yang bertakwa itu dikekang.

2. Sesungguhnya syubhat itu pada yang halal.

3. Kemaafan yang utama itu adalah ketika berkuasa.

KATA-KATA HIKMAH SUFFIAN AS THAURI :

1. Tidak ada ketaatan bagi kedua ibu-bapa pada perkara syubhat.

2. Sesungguhnya seorang lelaki itu berharta bila dia zuhud di dunia, dan sesungguhnya seorang itu adalah fakir bila dia gemar pada dunia.

3. Menuntut ilmu lebih utama daripada solat sunat.”

dikumpulkan dari beberapa buku…. 🙂