Hadits tentang Shaum Tasua Asyuro

Bismillahirrahmaanirrahiem. Kali ini kami akan menginformasikan mengenai hadits tentang shaum tasua asyuro. Shaum tasua asyuro merupakan salah satu Sunnah Rasulullah SAW yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram pada kalendar hijriyah setiap tahunnya.

Hadits Anjuran Shaum Tasua Asyuro

Dalam al-Maushu’ah Al-fiqhiyah[1] dijelaskan bahwa at-Tasu’a berasal dari kata tis’ah (9) yaitu al-yaum at-taasi’ (اليوم التاسع hari kesembilan) dan ‘asyura’ berasal dari kata ‘asyrah (10) yaitu al-Yaum al- ‘asyir (اليوم العاشر hari kesepuluh) dari bulan Muharram[2]. Shaum dua hari di bulan Muharam ini yakni tanggal 9 dan 10 adalah shaum yang hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan hadis shohih riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas ra[3]:

عن ابن عبّاس قال : » حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءِ وأمر بِصِيَامِهِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ : إِنَّهُ يَوْمَ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِذَا كَانَ الْعَامُ القَابِلَ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْتُ الْيَوْمَ التَّاسِعْ ، فَلَمْ يَأْتِ الْعَامَ الْمُقْبَلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «.

Dari ibnu Abbas, ia berkata: ketika Rasulullah SAW Shaum pada hari asyuro dan memerintahkan untuk shaum (pada hari tersebut), maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut (asyuro) diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah SAW menjawab: “Apabila datang kesempatan pada tahun yang akan datang – In-Sya Allah – aku akan shaum pada hari kesembilannya, namun tidak sempat datang tahun depan sehingga Rasulullah SAW meninggal dunia (sebelum melaksanakannya).

Keterangan Hadits

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) shaum pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) shaum juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah shaum pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Rasulullah SAW mengatakan akan shaum pada hari sebelum Asyuro dalam rangka membedakan dengan orang-orang Yahudi, karena hari Asyuro – yaitu 10 Muharram – adalah hari dimana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi shaum pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi SAW tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi shaum pada hari ‘Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami shaum sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah SAW berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah SAW adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau SAW shaum Asyuro dan memerintahkan manusia untuk shaum pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya shaum pada hari Asyuro, dengan shaum pada hari kesembilan.

Kesimpulan

  1. Shaum tasua asyuro merupakan Sunnah yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim
  2. Awal mula shaum ini ditetapkan tanggal 10, namun untuk membedakan dengan Yahudi yang turut melaksanaknnya pada saat itu, maka Rasulullah meminta izin Allah untuk menambah satu hari sebelumnya (tasua), dan Allah mengabulkannya.
  3. Jadi penamaan shaum tasua asyuro ini didasarkan pada nomor Bahasa arab sesuai penanggalan hijriyyah pada bulan muharram setiap tahunnya.

Sumber:

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/keutamaan-bershaum -pada-hari-asyura-dan-tasua-revisi/

https://www.arrahmah.com/read/2011/12/04/16664-kapan-shaum-shaum-tasue28099a-e28098asyura.html

https://syukrillah.wordpress.com/2010/08/28/shaum -tasu%E2%80%99a-dan-asyura/

Maktabah Syamilah

Al-Quranul-Kariim

[1] Lihat Maushu’ah Al-fiqhiyah 2/3641 (al-Maktabah al-Syamilah) yang diterbitkan oleh Departemen Waqf dan urusan Islam Kuwait

[2] Lihat pula dalam kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’I, seperti; I’anat al-Tholibin 2/301, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz atau disebut pula Syarh al-Kabir oleh al-Imam al-Rofi’i (w. 623 H, ulama besar Madzhab Syafi’i) 6/469, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam al-Nawawi (w.676 H) 6/382, Asna al-Matholib 5/387 oleh Abu Yahya Zakariya al-Anshori as-Syafi’I. (Juz dan halaman dalam kitab-kitab ini mengikuti al-Maktabah al-Syamilah)

[3] Hadits yang pertama telah dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shaum no hadits 2003, Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam no hadits 128, serta Abu Dawud dalam Ash-Shaum no hadits 2444.

MENGAPA KITA MENOLAK SEKULARISME bag. 2

Kegagalan Demokrasi

Sambungan dari (MENGAPA KITA MENOLAK SEKULARISME bag. 1) Demokrasi yang merupakan anak kandung sekularisme, sebenarnya lebih banyak menyajikan ilusi dan tragedi yang mengerikan daripada kemaslahatan dan kebaikan umat manusia. Di AS sendiri, demokrasi telah menemui kegagalannya yang tragis.

AS yang oleh Alexis de Tocqueiville sebagai “guru” demokrasi kini sangat jauh dari demokrasi. Harian AS USA Today (25/4/2003) lalu melaporkan, AS kini tak sepatutnya lagi mengklaim diri sebagai negara paling demokrastis. Mengapa? Karena berkaitan dengan invasi AS ke Irak, sejumlah kasus menunjukkan AS tidak demokratis justru di negaranya sendiri. Sebagai catatan, demo yang menentang invasi AS itu hingga 15 Pebruari 2003 setidaknya mencapai 15 juta orang di 600 kota di seluruh dunia. Tapi semua upaya yang konon demokratis itu menemui kegagalan justru karena sikap AS yang mengabaikan aspirasi dunia seraya tetap ngotot untuk menghancurkan Irak.

Yang lebih gila lagi, seperti dicatat Johan Galtung, intervensi AS ke Irak itu adalah yang ke-69 sejak 1945, dan yang ke-238 sejak Thomas Jefferson pada tahun 1804 mengawali perangnya terhadap kaum muslimin yang dulu disebut sebagai “perompak” dan kini disebut Libya. Sejak tahun 1945 itu tercatat 12 hingga 16 juta manusia terbunuh. Dan sejak tahun 1947, telah tewas sebanyak 6 juta jiwa karena ulah CIA.

Dan itu belum berakhir, sebab Wakil Presiden Dick Cheney mengumumkan, masih akan ada perang-perang lain yang menurut data BBC akan mencapai 60 negara. JINSA (Institut Yahudi untuk Urusan Keamanan Nasional) di Washington memiliki rencana perubahan rezim pemerintahan di 22 negara Arab.

Itulah wajah nyata dari demokrasi. Ide demokrasi yang muluk-muluk seperti egalitarian (kesetaraaan), keadilan, toleransi, dan sebagainya hanyalah utopia. Demokrasi telah gagal. Gagal.

Kegagalan Ekonomi Kapitalisme

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi juga merupakan anak kandung sekularisme. Prinsip-prinsip yang diajarkannya seperti kebebasan individu, persaingan bebas, mekanisme pasar, dan sebagainya ternyata telah menghancurkan dunia. Kalaupun ada yang untung, itu hanya dinikmati oleh mereka yang kuat. Sedangkan mayoritas manusia yang lemah, harus rela menderita dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan penderitaan akibat kapitalisme. Hal ini bisa dibuktikan, baik di AS maupun di belahan bumi lainnya. Berikut sekilas data-datanya :

Kemiskinan dan Kesenjangan

Tren kemiskinan semakin memburuk akibat kapitalisme. Jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dollar sehari meningkat dari 1,197 milyar jiwa pada tahun 1987 menjadi 1,214 milyar jiwa pada tahun 1997 (20% dari penduduk dunia). Sementara 1,6 milyar jiwa (25%) penduduk dunia lainnya hidup antara 1-2 dolar perhari. (The United Nations Human Development Report, 1999).

Kesenjangan pendapatan antara 1/5 penduduk dunia di negara-negara kaya dengan 1/5 penduduk di negara-negara termiskin meningkat 2 kali lipat pada tahun 1960-1990 dari 30:1 menjadi 60:1. Pada 1998 meningkat menjadi 78:1. (The United Nations Human Development Report, 1999).

Perubahan teknologi dan liberalisasi keuangan mengakibatkan peningkatan jumlah rumah tangga tidak proposional pada tingkatan yang teramat kaya, tanpa distribusi bagi yang miskin… Dari 1988-1993, pendapatan 10% penduduk termiskin di dunia merosot lebih dari 1/4nya, sedangkan pendapatan 10% penduduk terkaya di dunia meningkat 8%. (Robert Wade, The London School of Economics, The Economist, 2001).

Dua puluh tahun lalu, perbandingan pendapatan rata-rata di 49 negara terbelakang dengan pendapatan negara-negara terkaya adalah 1:87. Saat ini menjadi 1:98. (Kevin Watkins, International Herald Tribune, 2001).

Total kekayaan orang-orang yang mempunyai aset minimal 1 juta dolar meningkat hampir 4 kali lipat pada 1986-2000 dari 7,2 trilyun dolar menjadi 27 trilyun dolar. Meskipun terjadi kemerosotan keuangan global dan bisnis dotcom saat ini, Merril Lynch memprediksikan bahwa kekayaan mereka meningkat 8% setiap tahunnya dan diperkirakan tahun 2005 mencapai 40 trilyun dolar. (Merril Lynch-Cap Gemini, 2001).

Sejak 1994-1998, nilai kekayaan bersih 200 orang terkaya di dunia bertambah dari 40 milyar dolar menjadi lebih dari 1 trilyun dolar. Aset 3 orang terkaya lebih besar dari gabungan GNP 48 negara terkebelakang. Jumlah milyuder meningkat 25% dua tahun terakhir menjadio 475 orang dengan nilai kekayaan lebih besar dari 50% penduduk termiskin dunia. (The United Nations Human Development Report, 1999).

Sebanyak 1/5 orang terkaya di dunia mengkonsumsi 86% semua barang dan jasa, sementara 1/5 orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi kurang dari 1% saja. (The United Nations Human Development Report, 1999).

Kelaparan & Kekurangan Gizi

Di seluruh dunia kira-kira 50 ribu orang meninggal setiap hari akibat kurngnya kebutuhan tempat tinggal, air yang tercemar, dan sanitasi yang tidak memadai. (Shukor Rahman, Straits of Malaysia Times, 2001).

Kelaparan disebabkan oleh kenyataan bahwa pengembangan perdagangan dunia lebih dititikberatkan pada negara-negara Utara (negara-negara maju), sementara perluasan utang lebih diarahkan ke negara-negara Selatan (negara-negara berkembang). (Shukor Rahman, New Straits of Malaysia Times, 2001).

Peningkatan produksi pangan dalam 35 tahun terakhir telah melampaui laju pertumbuhan penduduk dunia sebesar 16%. Peningkatan tersebut belum pernah terjadi. (United Nations Food and Agriculture Organization, 1994).

Pada tahun 1997, 78% anak-anak di bawah usia 5 tahun yang kekurangan gizi di negara-negara sedang berkembang sebenarnya hidup di negara-negara yang mengalami surplus pangan. (United Nations Food and agriculture Organization, 1998).

Sementara 200 juta orang India kelaparan, pada tahun 1995 India mengekspor gandum dan tepung terigu dengan nilai $ 625 juta, beras 5 juta ton dengan nilai $ 1,3 milyar. (Institute for Food and Development Policy, Backgrounder, Spring 1998).

Dewasa ini 826 juta manusia menderita kekurangan pangan yang sangat kronis dan serius, kendati dunia sebenarnya mampu memberi makan 12 milyar manusia (2 kali lipat dari penduduk dunia) tanpa masalah sedikit pun. (Shukor Rahman, New Straits of Malaysia Times, 2001).

Pada tahun 1997, hampir 10 juta orang AS yang terdiri atas 6,1 juta orang dewasa dan 3,3 juta anak-anak benar-benar dililit kelaparan. Sementara itu, pada tahun 1998, 10,5 juta rumah tangga di AS atau 31 juta orang tidak bisa memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. (US Departement of Agriculture, Food Insecurity Report, 1999).

Jumlah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gizinya diperkirakan bertambah besar hingga 3%, dari 1,1 milyar pada tahun 1998 menjadi 1,3 milyar orang pada tahun 2008. 2/3 penduduk Afrika Sub-Sahara dan 40% penduduk Asia akan mengalami kekurangan pangan pada tahun 2008. (US Departemen of Agriculture, Food Security Asessment, 1999).

Setiap hari 11 ribu anak mati kelaparan di seluruh dunia, sedangkan 200 juta anak menderita kekurangan gizi dan protein serta kalori. Lebih dari 800 juta menderita kelaparan di seluruh dunia dan 70% di antara mereka adalah wanita dan anak-anak. (Shukor Rahman, World Food Program, New Staits of Malaysia Times, 2001).

IMF membunuh umat manusia tidak dengan peluru ataupun rudal tetapi dengan wabah kelaparan. (Carlos Andres Perez, Mantan Presiden Venezuela, The Ecologist Report, Globalizing Poverty, 2000).

Itulah sekilas daya-data empiris tentang penderitaan umat manusia akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang lahir dari rahim sekularisme. Masihkah kita percaya pada kapitalisme? Pada sekularisme?

3.4.Sekularisme Bertentangan Dengan Islam

Kebatilan sekularisme di samping dapat dibuktikan secara dalil aqli, seperti diuraikan sebelumnya, juga dapat didasarkan pada dalil naqli, yaitu ditinjau dari segi-segi berikut:

Sekularisme Adalah Ide Kufur

Sekularisme adalah ide kufur yang tidak didasarkan pada apa yang diturunkan Allah. Segala sesuatu pemikiran tentang kehidupan yang tidak didasarkan pada apa yang diturunkan Allah adalah kufur dan thaghut yang harus diingkari dan dihancurkan. Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Qs. al-Maa’idah [5]: 44).

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut itu…” (Qs. an-Nisaa` [4]: 60).

Sekularisme Bertentangan Dengan Khilafah

Sekularisme jika diyakini dan diterapkan, akan dapat menghancurkan konsep Islam yang agung, yaitu Khilafah. Jadi sekularisme bertentangan dengan Khilafah. Sebab sekularisme melahirkan pemisahan agama dari politik dan negara. Ujungnya, agama hanya mengatur secuil aspek kehidupan, dan tidak mengatur segala aspek kehidupan. Padahal Islam mewajibkan penerapan Syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan, seperti aspek pemerintahan, ekonomi, hubungan internasional, muamalah dalam negeri, dan peradilan. Tak ada pemisahan agama dari kehidupan dan negara dalam Islam. Karenanya wajarlah bila dalam Islam ada kewajiban mendirikan negara Khilafah Islamiyah. Sabda Rasulullah SAW:

“…dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” [HR. Muslim].

Dari dalil yang seperti inilah, para imam mewajibkan eksistensi Khilafah.

Abdurrahman Al Jaziri telah berkata:

“Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumulah— telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam (Khalifah)…”

Maka, sekularisme jelas bertentangan dengan Khilafah. Siapa saja yang menganut sekularisme, pasti akan bersemangat untuk menghancurkan Khilafah. Jika sekularisme ini dianut oleh orang Islam, maka berarti dia telah memakai cara pandang musuh yang akan menyesatkannya. Inilah bunuh diri ideologis paling mengerikan yang banyak menimpa umat Islam sekarang.

Padahal, Rasulullah SAW sebenarnya telah mewanti-wanti agar tidak terjadi pemisahan kekuasaan dari Islam, atau keruntuhan Khilafah itu sendiri. Sabda Rasulullah :

[alaa innal kitaab was sulthoona sayaftariqooni falaa tufaariqul kitaaba]

“Ingatlah! Sesungguhnya Al Kitab (al-Qur`an) dan kekuasaan akan berpisah. Maka (jika hal itu terjadi) janganlah kalian berpisah dengan al Qur`an!” [HR. Ath Thabrani].

Sabda Rasulullah SAW:

[latanqudhonna ‘urol islami ‘urwatan ‘urwatan fakullamaa intaqadhat ‘urwatun tasyabbatsan naasu billatii taliihaa fa-awwaluhunna naqdhon al hukmu wa aakhiruhunna ash sholaatu]

“Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu. Maka setiap kali satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan dengan simpul yang berikutnya (yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah pemerintahan/kekuasaan. Sedang yang paling akhir adalah shalat.” [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim].

Umat Islam Menyerupai Kaum Kafir (tasyabbuh bi al kuffar)

Sekularisme mungkin saja dapat diterima dengan mudah oleh seorang beragama Kristen, sebab agama Kristen memang bukan merupakan sebuah sistem kehidupan (system of life). Perjanjian Baru sendiri memisahkan kehidupan dalam dua kategori, yaitu kehidupan untuk Tuhan (agama), dan kehidupan untuk Kaisar (negara).
Disebutkan dalam Injil:

“”Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan” (Matius 22 : 21).

Dengan demikian, seorang Kristen akan dapat menerima dengan penuh keikhlasan paham sekularisme tanpa hambatan apa pun, sebab hal itu memang sesuai dengan norma ajaran Kristen itu sendiri. Apalagi, orang Barat –khususnya orang Kristen– juga mempunyai argumen rasional untuk mengutamakan pemerintahan sekular (secular regime) daripada pemerintahan berlandaskan agama (religious regime), sebab pengalaman mereka menerapkan religious regimes telah melahirkan berbagai berbagai dampak buruk, seperti kemandegan pemikiran dan ilmu pengetahuan, permusuhan terhadap para ilmuwan seperti Copernicus dan Galileo Galilei, dominasi absolut gereja Katolik (Paus) atas kekuasaan raja-raja Eropa, pengucilan anggota gereja yang dianggap sesat (excommunication), adanya surat pengampunan dosa (Afflatbriefen), dan lain-lain.

Namun bagi seorang muslim, sesungguhnya tak mungkin secara ideologis menerima sekularisme. Karena Islam memang tak mengenal pemisahan agama dari negara. Seorang muslim yang ikhlas menerima sekularisme, ibaratnya bagaikan menerima paham asing keyakinan orang kafir, seperti kehalalan daging babi atau kehalalan khamr. Maka dari itu, ketika Khilafah dihancurkan, dan kemudian umat Islam menerima penerapan sekularisme dalam kehidupannya, berarti mereka telah terjatuh dalam dosa besar karena telah menyerupai orang kafir (tasyabbuh bi al kuffar).

Sabda Rasulullah SAW:

[man tasyabbaha bi qawmin fahuwa minhum]
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.” [HR. Abu Dawud].

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mengatakan dalam syarahnya mengenai hadits ini:

“Hadits tersebut paling sedikit mengandung tuntutan keharaman menyerupai (tasyabbuh) kepada orang kafir, walaupun zhahir dari hadits tersebut menetapkan kufurnya bertasyabbuh dengan mereka…”

Dengan demikian, pada umat Islam menerapkan sekularisme dalam pemerintahannya, maka mereka berarti telah terjerumus dalam dosa karena telah menyerupai orang Kristen yang memisahkan urusan agama dari negara. (Nauzhu billah min dzalik!)

Kesimpulan

Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa sekularime wajib ditolak oleh kaum muslimin, karena sekularisme tidak masuk akal, tidak sesuai fitrah manusia, melahirkan kemudharatan dalam praktiknya, serta bertentangan dengan Islam.

Sekularisme adalah ide kufur yang wajib dihancurkan oleh kaum muslimin. Sekulerisme adalah thaghut yang kita telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Sekulerisme wajib dihapuskan dari muka bumi, dalam segala bentuk dan manifestasinya. [ ]

MENGAPA KITA MENOLAK SEKULARISME bag. 1

Oleh: M. Shiddiq al-Jawi

  1. Pengertian Sekularisme

Sekularisme (secularism) secara etimologis menurut Larry E. Shiner berasal dari bahasa Latin saeculum yang aslinya berarti “zaman sekarang ini” (the present age). Kemudian dalam perspektif religius saeculum dapat mempunyai makna netral, yaitu “sepanjang waktu yang tak terukur” dan dapat pula mempunyai makna negatif yaitu “dunia ini”, yang dikuasai oleh setan.

Pada abad ke-19, tepatnya tahun 1864 M, George Jacob Holyoke menggunakan istilah sekularisme dalam arti filsafat praktis untuk manusia yang menafsirkan dan mengorganisir kehidupan tanpa bersumber dari supernatural.

Setelah itu, pengertian sekularisme secara terminologis mengacu kepada doktrin atau praktik yang menafikan peran agama dalam fungsi-fungsi negara. Dalam Webster Dictionary sekularisme didefinisikan sebagai:

A system of doctrines and practices that rejects any form of religious faith and worship.”

(Sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apa pun dari keimanan dan upacara ritual keagamaan)

Atau sebagai:

The belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the function of the state especially into public education.”

(Sebuah kepercayaan bahwa agama dan ajaran-ajaran gereja tidak boleh memasuki fungsi negara, khususnya dalam pendidikan publik).
Jadi, makna sekularisme, secara terminologis, adalah paham pemisahan agama dari kehidupan (fashlud din ‘an al hayah), yakni pemisahan agama dari segala aspek kehidupan, yang dengan sendirinya akan melahirkan pemisahan agama dari negara dan politik.

Secara sosio-historis, sekularisme lahir di Eropa, bukan di Dunia Islam, sebagai kompromi antara dua pemikiran ekstrem yang kontradiktif, yaitu:

Pertama, pemikiran tokoh-tokoh gereja dan raja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang mengharuskan segala urusan kehidupan tunduk menurut ketentuan agama (Katolik). Mulai dari urusan keluarga, ekonomi, politik, sosial, seni, hingga teologi dan ilmu pengetahuan, harus mengikuti kekuatan para gerejawan Katolik.

Kedua, pemikiran sebagian pemikir dan filsuf –misalnya Machiaveli (w.1527 M) dan Michael Mountaigne (w. 1592 M)– yang mengingkari keberadaan Tuhan atau menolak hegemoni agama dan gereja Katolik.

Jalan tengah dari keduanya ialah, agama tetap diakui, tapi tidak boleh turut campur dalam pengaturan urusan masyarakat. Jadi, agama tetap diakui eksistensinya, tidak dinafikan, hanya saja perannya dibatasi pada urusan privat saja, yakni interaksi antara manusia dan Tuhannya (seperti aqidah, ibadah ritual, dan akhlak). Tapi agama tidak mengatur urusan publik, yakni interaksi antara manusia dengan manusia lainnya, seperti politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

  1. Sekularisme: Asas Ideologi Kapitalisme

Secara ideologis, sekularisme merupakan aqidah (ide dasar), yaitu pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyah) mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sekularisme juga merupakan qiyadah fikriyah bagi peradaban Barat, yaitu ide dasar yang menentukan arah dan pandangan hidup (worldview/weltanschauung) bagi manusia dalam hidupnya. Sekularisme juga merupakan qa’idah fikriyah, yakni sebagai basis pemikiran yang menjadi landasan bagi ide-ide cabangnya.

Dalam kedudukannya sebagai qa’idah fikriyah ini, sekularisme menempati posisinya sebagai basis bagi ideologi kapitalisme, sebab sekularisme adalah asas filosofis yang menjadi induk bagi lahirnya berbagai pemikiran dalam ideologi kapitalisme (peradaban Barat), seperti demokrasi (sebagai sistem pemerintahan), kapitalisme (sebagai sistem ekonomi), liberalisme, dan sebagainya.

Sebagai qaidah fikriyah, kemunculan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme akan dapat dilacak kelahirannya dari sekularisme. Ketika agama sudah dipisahkan dari kehidupan, berarti agama dianggap tak punya otoritas lagi untuk mengatur kehidupan. Jika demikian, maka manusia itu sendirilah yang mengatur hidupnya, bukan agama. Dari sinilah lahir demokrasi, yang menjadikan manusia mempunyai wewenang untuk membuat aturan hidupnya sendiri. Dengan perkataan lain, demokrasi menjadikan rakyat sebagai source of power (sumber kekuasaan, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif), sekaligus sebagai souce of legislation (sumber penetapan hukum).

Demokrasi ini, selanjutnya membutuhkan prasyarat kebebasan. Sebab tanpa kebebasan, rakyat tidak dapat mengekspresikan kehendaknya dengan sempurna, baik ketika rakyat berfungsi sebagai sumber kekuasaan, maupun sebagai pemilik kedaulatan. Kebebasan ini dapat terwujud dalam kebebasan beragama (hurriyah al-aqidah), kebebasan berpendapat (hurriyah al-ar`y), kebebasan berperilaku (al-hurriyah asy-syakhshiyyah), dan kebebasan kepemilikan (hurriyah at-tamalluk). Dari kebebasan kepemilikan inilah, pada gilirannya, lahir sistem ekonomi kapitalisme.

  1. Kritik Atas Sekularisme

Umat Islam wajib menolak sekularisme, paling tidak karena 4 (empat) alasan berikut, yaitu:

Pertama, sekularisme adalah ide yang tidak memuaskan akal. Dengan kata lain, sekularisme tidak sejalan dengan akal (nalar) sehat manusia. tapi lebih didasarkan pada sikap jalan tengah.

Kedua, sekularisme tidak sesuai dengan fitrah manusia, karena sekulerisme menempatkan manusia pada posisi Tuhan yang Maha berkuasa untuk mengatur kehidupan manusia yang sedemikian kompleks. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah untuk bisa mengatur kehidupan manusia.

Ketiga, sekularisme telah melahirkan berbagai ide yang gagal dalam praktik yang malah menimbulkan penderitaan pedih pada manusia, misalkan ide demokrasi dan ekonomi kapitalisme.

Keempat, sekularisme bertentangan dengan Islam.

Argumen pertama hingga ketiga, adalah berupa dalil-dalil yang rasional (dalil aqli). Sedang argumen keempat, adalah berupa dalil-dalil naqli (dalil syar’i).

3.1. Sekularisme Tidak Memuaskan Akal

Menurut Abdul Qadim Zallum dalam Al Hamlah al Amirikiyah li Al Qadha` ‘ala Al Islam (1996) sekularisme sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Bahkan, tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang dihasilkan oleh logika sehat.

Aqidah pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian jalan tengah atau kompromistik, antara dua pemikiran yang kontradiktif. Kedua pemikiran ini, yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (sekitar abad ke-5 s/d ke-15 M), misalnya Thomas Aquinas, St. Agustine, Tertullian, dan St. Jerome, untuk menundukkan segala urusan kehidupan menurut ketentuan agama Katolik. Sedangkan yang kedua, adalah ide sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Tuhan dan agama. Mereka itu misalnya Machiavelli (w. 1527 ) dan Michael Mountaigne (w. 1592). Contoh lainnya adalah ide Voltaire (w. 1778) yang menyatakan, “Orang liberal harus mengakui, bahwa tuhan telah mati (God is dead)”. Ludwig Feurbach (w. 1872) misalnya, menyatakan bahwa, “God is man, and man is God.” (Tuhan itu sebenarnya adalah manusia, dan manusia itu adalah Tuhan). Feurbach juga menyatakan, “Religion is the dream of human mind.” (Agama adalah impian dari pikiran manusia).

Walhasil, ide sekularisme merupakan jalan tengah di antara dua sisi ide ekstrem tadi, yakni ide yang mengharuskan ketundukan pada agama secara mutlak, dan ide yang menolak eksistensi agama juga secara mutlak. Penyelesaian jalan tengah, sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. Jadi, sekularisme, bisa diumpamakan jalan tengah dari dua ide yang tidak mungkin dicari titik tengahnya. Misalkan, di satu sisi kita katakan, “Saat ini saya ada di ruang ini.” Sedang di sisi lain, “Saat ini saya tidak ada di ruang ini.” Mungkinkah ada jalan tengah di antara dua ide yang sangat bertolak belakang ini? Jika ada jalan tengahnya, jelas ide itu tidak masuk akal.

Jadi, jelaslah bahwa sekularisme adalah jalan tengah di antara pemikiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. Maka dari itu, sekularisme adalah ide yang tidak memuaskan akal.

3.2. Sekularisme Tidak Sesuai Fitrah Manusia

Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhamul Islam (2001) mengatakan bahwa sekularisme bertentangan dengan fitrah manusia, yang terwujud secara menonjol pada naluri beragama. Naluri beragama tampak dalam aktivitas pen-taqdis-an (pensucian); di samping juga tampak dalam pengaturan manusia terhadap aktivitas hidupnya. Jika pengaturan kehidupan diserahkan kepada manusia, akan tampak perbedaan dan pertentangan tatkala pengaturan itu berjalan. Hal ini menunjukkan tanda kelemahan manusia dalam mengatur aktivitasnya.

Sebagai contoh ketidakmampuan manusia ini, bisa kita saksikan sistem hukum di Indonesia yang melahirkan banyak pertentangan dan kontradiksi. Di Indonesia diterapkan 3 sistem hukum,yaitu hukum adat, hukum sipil (warisan Belanda), dan hukum Islam. Akibat beragamnya sistem hukum ini, timbul banyak problem, antara lain adanya kontradiksi hukum positif dengan Syariah Islam. Hukum pidana (KUHP) peninggalan penjajah, falsafah yang mendasarinya sangat bertolak belakang dengan syariah Islam. Misalnya dalam kejahatan kesusilaan, KUHP pasal 284 berbunyi: “Barangsiapa melakukan persetubuhan dengan laki-laki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya, maka diancam dengan sanksi pidana.” Jadi perzinaan hanya terjadi jika kedua pelakunya sudah menikah (berstatus suami atau isteri). Maka, pasal ini tidak melarang hubungan seksual yang dilakukan secara suka sama suka oleh kedua orang yang belum menikah (fornication), tidak melarang hojoseksual, dan tidak melarang hubungan seksual dengan binatang (bestiality).

Kontradiksi ini lahir karena akal manusia dianggap hebat dan super sehingga berani menerapkan berbagai sistem hukum secara campur aduk, berasaskan sekularisme (menjauhkan agama dari kehidupan). Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia yang seharusnya mengakui kelemahannya, sehingga akhirnya mau berhukum kepada aturan dari Allah semata. Oleh karena itu, menjauhkan agama dari kehidupan jelas bertentangan dengan fitrah manusia. Dengan kata lain, menjauhkan peraturan Allah dan mengambil peraturan dari manusia adalah bertentangan dengan fitrah manusia. Maka dari itu, sekularisme telah gagal dilihat dari segi fitrah manusia.

3.3. Sekularisme Melahirkan Ide Gagal Dan Membahayakan Manusia

Sekularisme antara lain melahirkan ide demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam praktiknya secara empiris, kedua ide ini telah gagal. Tidak membawa kepada kebahagiaan dan kebaikan untuk manusia, tetapi justru menjerumuskan umat manusia ke dalam jurang penderitaan yang sangat mengerikan dan memilukan. Mari kita lihat data-datanya.

Bersambung ke (MENGAPA KITA MENOLAK SEKULARISME bag. 2)

Falsification Test; Uji Kesalahan pada Quran

Bismillahirrahmaanirrahiem. Pernahkah sebelumnya kita mendengar kata falsification test? Sebagian besar para ilmuwan akan mengenalnya, namun bagaimana dengan kita – orang biasa? Tulisan ini akan menceritakan sepenggal kisah tentang falsification test itu sendiri. Semoga bermanfaat.

Sebagai muslim yang beriman, kita tentunya meyakini akan kebenaran ajaran Islam itu sendiri. Siapa saja yang mengingkari ajarannya, tentu ia sudah menjadi seorang kafir – pengingkar Islam. Namun bagaimana dengan agama lain? Apakah keyakinan mereka akan runtuh berkaitan dengan fakta tersebut? Apakah penganut agama lain akan langsung berpindah agama ketika diberitahu oleh kita – seorang muslim – tentang kebenaran Islam? Tentu tidak.

Banyak kisah diberbagai belahan dunia tentang masuk Islamnya (muallaf) masyarakat tertentu, baik itu perorangan atau bahkan golongan. Berbagai latar belakang terjadi dengan perpindahan keyakinan tersebut, dimulai dari diri sendiri; ada rasa ketertarikan dengan Islam melalui Quran, atau oleh ajakan orang lain. Salah satu ulama yang trend saat ini yang berhasil memuallafkan ratusan bahkan ribuan orang adalah dr. Zakir Naik. Beliau adalah seorang dokter lulusan Universitas Mumbai, India yang beralih profesi menjadi ulama perbandingan agama yang melakukan tur dan ceramah ke berbagai belahan dunia.

Dari setiap tur dakwah keliling dunia tersebut, dr. Zakir Naik memberikan berbagai ceramah dengan cerdas tentang kebenaran ajaran Islam dan apik dalam menjawab berbagai pertanyaan keagamaan, baik itu tentang Islam atau agama lain, terlebih Kristen, Hindu, Budha, dan ajaran kepercayaan lainnya. Ada satu bagian dari dakwahnya yang membuat saya tertarik untuk menulis tentang ini, yakni tentang Falsification Test atau diartikan sebagai uji kesalahan.

Dalam ceramahnya, beliau membahas tentang filosofi kebenaran sebuah teori. Singkatnya, sebuah teori bisa dijadikan sebuah hukum atau fakta bila berhasil melewati falsification test atau uji kesalahan tersebut. Kita harus tahu, bahwa semua ilmuwan itu sibuk, baik dengan kajian ilmiahnya maupun permohonan analisa dari teori yang sudah ada. Maka dari itu, para ilmuwan sepakat untuk melakukan falsification test pada setiap teori yang diajukan.

Konsepnya seperti ini, kita harus meneliti sendiri akan teori yang kita ciptakan, dan kita harus menemukan kesalahan-kesalahan yang bisa meruntuhkan teori tersebut. Bila terbukti kita menemukan kesalahan, berarti teori kita benar. Sebagai contoh Albert Einstein; ia membuat sebuah teori tentang bagaimana alam semesta ini bisa bekerja sendiri. Dan dalam pengajuannya, ia menemukan tiga cara untuk menemukan kesalahan dalam teorinya. Lalu selama 6 tahun, para ilmuwan setuju akan hal tersebut. Itulah yang kita sebut sekarang hukum gravitasi (e=m.c2).

Lalu yang akan saya bahas disini adalah tentang Quran. Quran juga bisa dilakukan falsification test. Namun perlu saya tekankan sejak awal, ini tidak berarti bahwa quran itu ada salahnya. Tapi ini justru akan menguatkan akan kebenaran Quran. Tulisan ini akan (harusnya) menguatkan keyakinan kita terhadap Islam bila suatu saat dihadapkan dengan dialog perbandingan agama.

Jadi, untuk membuktikan Quran itu salah sebenarnya simpel, tidak perlu kuliah perbandingan agama ataupun meneliti validitas sejarah Quran itu sendiri. Kita semua bisa membuktikannya, tidak hanya umat Islam, tapi tetap harus belajar lebih mendalam tentang Islam dilain waktu. Perlu diketahui, falsification test ini dibagi dua bagian;

  1. Test yang dilakukan hanya berlaku pada saat itu saja ketika wahyu diturunkan (Past Test)
  2. Test yang dilakukan diberbagai waktu, hingga sekarang (Current Test)

 

PAST TEST

Contoh untuk test ini adalah kisah Abu Lahab, ia adalah paman nabi Muhammad SAW dan memiliki julukan (Fathers of Fire, ayahnya api). Walau dianggap baik terhadap Nabi, tapi kapanpun ia melihat sahabat yang berbicara dengan Nabi, pastilah akan diputarbalikkan keadaanya. Setiap kali ia melihatnya, ia akan bertanya kepada sahabat; “apa yang dikatakan Nabi? Apakah ia mengatakan putih? Bukan, maksudnya itu hitam. Apa ia mengatakan siang? Bukan, maksudnya malam”. Begitulah ia berbuat dengan memutarbalikkan fakta. Ia merupakan musuh Nabi. Ia menggunakan berbagai cara untuk meyakinkan sahabat, bahwa perkataan Rosulullah itu salah/terbalik.

Dalam al-Quran terdapat surat yang khusus membahas tentang Abu Lahab itu sendiri. Disana dinyatakan bahwa Abu Lahab dan istrinya akan dijerumuskan ke dalam neraka. Ini membuktikan bahwa pada saat itu, Abu Lahab tidak akan pernah masuk Islam. Padahal surat ini diwahyukan 10 tahun sebelum kematian Abu Lahab itu sendiri.

Namun apa yang terjadi? Apakah Abu Lahab masuk Islam? Apakah ia dimasukkan ke surga? TIDAK. Padahal, jika saja Abu Lahab masuk Islam, maka itu akan membuktikan bahwa Quran itu salah. Padahal, dalam jangka waktu 10 tahun tersebut, Rosulullah selalu mengingatkan akan ajaran Islam kepadanya, tapi tetap saja ia tidak menerima dan semakin meyakinkan akan kebenaran Quran itu sendiri. Inilah Falsification Test untuk masa lalu. Mengapa bisa terjadi? Karena Quran (Islam) itu dibuat oleh Allah – Tuhan semesta alam yang mengetahui akan masa depan.

Apakah bisa dimengerti? Test ini terbukti tidak menjadikan Quran itu salah, namun justru malah menguatkan kebenaran Quran itu sendiri. Selanjutnya kita ke contoh kedua.

Dalam surat Al-Baqoroh [2] ayat 94-96 dinyatakan:

Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.’ (al-Baqarah: 94) Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (al-Baqarah: 95) dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)

Ayat ini mengisahkan tentang mubahalah (adu do’a) antara Rosulullah dengan kaum Yahudi untuk mengetahui, kaum manakah yang berdusta, namun nyatanya kaum Yahudi menolak mubahalah tersebut, karena mereka takut bencana akan dimusibahkan kepada mereka (“…dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya…” ayat 95).

Orang-orang Yahudi sangat takut akan kematian, bahkan mereka malah menginginkan umur mereka dipanjangkan menjadi 1000 tahun lamanya (“…masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun….” Ayat 95)

Satu-satunya hal yang harus dilakukan orang Yahudi adalah mengatakan: “Aku ingin mati”, baik pada saat itu ataupun sekarang. Bila hal tersebut terjadi, maka Quran terbukti salah. Namun mereka takkan pernah menginginkan kematian datang padanya.

 

CURRENT TEST

Untuk test kedua yakni test yang berlaku pada zaman sekarang dan yang akan datang. Dalam al-Quran disebutkan:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini adalah Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”. (Al-Maidah [5]: 82)

Ayat tersebut menerangkan bahwa diantara Yahudi, orang Musyrik dan Nasroni, yang paling dekat dengan Islam (persahabatan secara dunia) adalah Nasroni. Ayat itu juga memberitahukan kepada kita, bahwa musuh Islam adalah Yahudi dan orang Musyrik.

Memang ada orang Yahudi yang lebih baik dari Nasroni atau Islam (dalam hal keduniaan; ekonomi, sosial, dll), tapi disini Quran berbicara keseluruhan, mayoritas bahwa Yahudi takkan pernah bisa menerima Islam sebagai kerabatnya. Bahkan pimpinan tertinggi kaum Yahudi mengatakan: “setelah Komunisme Uni Soviet hancur, musuh kita selanjutnya yang harus dihancurkan adalah Islam”. Ini menjadi bukti bahwa Yahudi akan selalu memusuhi Islam sampai kapanpun.

Dari kenyataan tersebut, hal yang bisa menggugurkan keaslian dan kebenaran quran adalah dengan ibarat munculnya pernyataan dari kaum Yahudi: “baiklah, kita akan berbuat baik, sebaik-baiknya kepada orang Islam selama beberapa waktu”. Namun bagaimana dengan sekarang? Berhentikah Israel (Yahudi) dan sekutunya menyerang Palestina (Islam)? Berhentikah mereka dengan ajaran “ILLUMINATI”nya? Berhentikah mereka meyakini faham “THE NEW WORLD ORDER”nya? Tidak. Tidak akan pernah.

Mari kita lanjutkan pada contoh kedua bagian CURRENT TEST ini.

Dalam quran dinyatakan:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Al-Isro [17]: 88)

Ayat tersebut merupakan sebuah tantangan dari Allah kepada manusia seluruh zaman untuk membuat sebuah perumpamaan Al-Quran. Allah mempersilahkan siapapun untuk mencoba melakukannya dengan meminta bantuan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Bila terlalu sulit, Allah mempermudah tantangan itu dengan hanya membuat sebuah surat yang mirip, hanya mirip, tidak harus sama persis, seperti dikisahkan dalam quran:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (23). Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir (24)”. (Al-Baqoroh [2]: 23-24)

Perlu difahami, untuk membuat sebuah perumpamaan Quran itu haruslah dengan menggunakan bahasa arab, tidak bisa dengan bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dll. Namun tentu saja itu takkan pernah terjadi sampai kapanpun, karena Al-Quran itu sendiri Allah-lah yang menciptakannya, takkan ada yang bisa menyamai-Nya. Jika ada yang beranggapan bahwa ia bisa, maka bersiaplah dengan neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.

Referensi ayat lain bisa anda lihat di Ath-Thuur [52]: 34, Hud [11]: 13, dan Yunus [10]: 38.

Ini menjadi contoh lain dari falsification test bagian kedua yang semakin menguatkan kebenaran Quran.

 

FINAL TEST

Jika anda tidak bisa menguji kesalahan quran melalui berbagai tantangan diatas, maka test terakhir ini menjadi penentu usaha kalian. Sekali lagi saya tekankan, pengujian ini takkan menjadikan quran itu salah, justru malah akan menguatkan.

Bila anda bukan ahli sejarah yang meneliti kesalahan quran mengenai kisah tempo dulu, ataupun bukan ahli Bahasa arab yang sanggup membuat serangkaian ayat yang mirip dengan quran, maka anda bisa mencoba test terakhir ini.

Test terakhir adalah, cari satu saja kontradiksi (perbedaan) dalam quran. Misal pada ayat ini surat ini ternyata bertentangan dengan ayat dan surat lainnya. Silahkan anda cari kontradiksi tersebut. Bila ternyata kalian menemukannya, maka kalian membuktikan bahwa quran itu terbukti salah.

Sudah banyak orang mencoba menemukan kesalahan-kesalahan tersebut. Ketika kita mencari di internet, kalian akan menemukan banyak situs yang mengutarakannya, salah satunya terdapat dalam situs www.mantanmuslim.com. Tapi semuanya, entah dikutip keluar dari konteksnya, salah penerjemahan, bahkan pemahaman yang tidak masuk akal, mereka gagal dalam menemukan kontradiksi tersebut.

Jadi, dari berbagai falsification test tersebut, Quran menunjukkan cara kepada kita bagaimana membuktikan bahwa quran itu salah, namun tidak ada yang berhasil menemukan letak celah kesalahan itu sendiri. Jika kita berfikir bahwa Quran bukan berasal dari Tuhan, silahkan coba tantangan tersebut. Cobalah sendiri!

Itulah sepenggal kisah tentang falsification test yang bisa diuji terhadap quran. Semoga bisa menambah keyakinan kita terhadap Islam dan semakin yakin akan kebenaran Allah SWT dengan wahyu yang diturunkan-Nya kepada para nabinya. In Sya Allah. Terima kasih sudah berkunjung, bila ada pertanyaan atau ada hal yang tidak difahami, silahkan isi kolom komentar dibawah.