Thanks Silatda 3

Introducing – Permulaan

Bismillahirrahmaanirrahiem. Selamat malam kawan, pernah ga sih kalian menikmati satu momen dimana kalian merasa bangkit kembali dari “zona bosan”? Ya, setidaknya itu yang saya rasakan. Tulisan dengan judul “Thanks Silatda 3” ini setidaknya menggambarkan kebangkitan tersebut dari perspeksi saya sendiri.

Sukses dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh PD Hima dan Himi Persis kab. Cianjur bertajuk Silatda 3 Santri Persis Cianjur, lantas tidak menjadikan saya gembira begitu saja. Kenapa? Karena masih banyak PR menumpuk yang harus saya selesaikan disini. Apa PRnya? Secara umum, saya dan rekan-rekan panitia Silatda 3 harus menyetel ulang beberapa konsep kegiatan yang dirasa kurang di Silatda 3. Untuk apa? Tentunya untuk persiapan di Silatda 4 nanti.

Baca: Deskripsi tentang Silatda

Sejak awal dilaksanakannya kegiatan Silatda ini, saya menjadi bagian dari founding committee beserta “rengrengan” Hima-Himi. Tahun 2011 menjadi saksi sejarah terlaksananya event akbar Persis se-kab. Cianjur yang melibatkan seluruh santri yang mengenyam pendidikan dalam naungan Persis. Hima dan Himi menjadi promotor tentunya memiliki andil dan tugas yang besar untuk menjaga konsistensi dari kegiatan tersebut, jangan sampai berhenti di tengah jalan.

Tetap saja, diawal pembentukan kepanitiaan saya sering merasa “jongjon” seakan tidak ada beban besar menyelimuti. Padahal salah, sangat salah. Ini kekurang pertama saya. Padahal, bila pekerjaan kepanitiaan saya selesaikan satu-persatu secara bertahap, tentunya hasil yang diraih bisa maksimal. Tapi apalah daya, “angger we kitu ning”

Singkat tentang Silatda

Kegiatan Silatda ini merupakan event dwi-tahunan sejak awal dilaksanakannya, ini menjadi momen waktu yang cukup senggang untuk mempersiapkan secara matang dari edisi Silatda berikutnya, kita semua tahu itu, dua tahun sudah lumayan cukup untuk evaluasi dan eksekusi berbagai kendala yang dihadapi. Semoga bisa memperbaiki diri.

Mengapa saya bilang “Thanks Silatda 3”? Betapa tidak. Disetiap momen Silatda saya memiliki berbagai cerita manis dan pahit dalam perjuangan, cie cie… Dimulai Silatda pertama yang notabene masih “unyu-unyu” ketika dihadapkan momen akbar seperti ini. Betapa tidak, silatda pertama ini terbilang gebyar dan wah. Kegiatan perdana haruslah menimbulkan kesan baik bagi penikmatnya. Dengan beban besar tersebut, saya dihadapkan pada posisi vital dalam kepanitiaan.

Lalu silatda 2 yang terlibat konflik hati yang menyayat-nyayat, hahaha (itu sih kata rekan-rekan), lalu dengan kondisi fisik yang tidak baik pada saat itu, menjadikan banyak pekerjaan yang tidak maksimal dikerjakan. Silatda pertama dan kedua bertempat di tempat yang sama, yakni Wisma Sarongge. Hanya saja pada silatda kedua, sebagian perlombaan dilaksanakan di Pesantren Persatuan Islam 04 Cianjur. Di silatda 2 ini pula saya mulai bertindak sebagai juri dan pembimbing dari MTs Persis 04. Saya tahu, posisi ini menjadi sensitif bagi perlombaan. Tapi saya berusaha dan terus mencoba untuk menunjukkan sisi objektifitas saya sebagai juri dan sebagai pembimbing.

Di silatda 3 ini sebenarnya tidak banyak yang saya rasakan, artinya saya mulai menikmati posisi saya di kepanitiaan sebagai Pubdok (atau Bahasa gampangnya si tukang moto). Silatda 3 ini telah membuka mata hati saya, bahwa diatas langit masih ada langit. Maksudnya? Ya, saya mungkin terlalu puas dengan hasil santri didikan saya di sekolah. Tapi ketika melihat dunia luar, ternyata banyak yang mungkin lebih baik lagi. Materi kepesantrenan dan umum yang menjadi ampuan pengajaran saya, banyak sekali yang harus di evaluasi. Setelahnya kegiatan ini berlangsung, langsung kroscek ini itu terkait materi pembelajaran untuk para santri.

Baca: Artikel tentang Silatda

gueBersyukur pada Allah

Tidak banyak kata yang diucapkan ketika dan setelah kegiatan Silatda 3 ini diselenggarakan selain ucapan syukur kepada Allah. Dari ribuan pengalaman yang terjadi, ribuan pula hal yang saya ambil hikmah dan ibrohnya. Saya sangat senang dan gembira dengan kawan-kawan Hima-Himi Persis Cianjur ini yang solid, kompak, dan easy-going walaupun dengan jumlah yang tidak banyak, tapi mereka berani dan tawakkal untuk terus konsisten menyelenggarakan kegiatan akbar ini. Bravo Hima-Himi Persis Cianjur.

 

Falsification Test; Uji Kesalahan pada Quran

Bismillahirrahmaanirrahiem. Pernahkah sebelumnya kita mendengar kata falsification test? Sebagian besar para ilmuwan akan mengenalnya, namun bagaimana dengan kita – orang biasa? Tulisan ini akan menceritakan sepenggal kisah tentang falsification test itu sendiri. Semoga bermanfaat.

Sebagai muslim yang beriman, kita tentunya meyakini akan kebenaran ajaran Islam itu sendiri. Siapa saja yang mengingkari ajarannya, tentu ia sudah menjadi seorang kafir – pengingkar Islam. Namun bagaimana dengan agama lain? Apakah keyakinan mereka akan runtuh berkaitan dengan fakta tersebut? Apakah penganut agama lain akan langsung berpindah agama ketika diberitahu oleh kita – seorang muslim – tentang kebenaran Islam? Tentu tidak.

Banyak kisah diberbagai belahan dunia tentang masuk Islamnya (muallaf) masyarakat tertentu, baik itu perorangan atau bahkan golongan. Berbagai latar belakang terjadi dengan perpindahan keyakinan tersebut, dimulai dari diri sendiri; ada rasa ketertarikan dengan Islam melalui Quran, atau oleh ajakan orang lain. Salah satu ulama yang trend saat ini yang berhasil memuallafkan ratusan bahkan ribuan orang adalah dr. Zakir Naik. Beliau adalah seorang dokter lulusan Universitas Mumbai, India yang beralih profesi menjadi ulama perbandingan agama yang melakukan tur dan ceramah ke berbagai belahan dunia.

Dari setiap tur dakwah keliling dunia tersebut, dr. Zakir Naik memberikan berbagai ceramah dengan cerdas tentang kebenaran ajaran Islam dan apik dalam menjawab berbagai pertanyaan keagamaan, baik itu tentang Islam atau agama lain, terlebih Kristen, Hindu, Budha, dan ajaran kepercayaan lainnya. Ada satu bagian dari dakwahnya yang membuat saya tertarik untuk menulis tentang ini, yakni tentang Falsification Test atau diartikan sebagai uji kesalahan.

Dalam ceramahnya, beliau membahas tentang filosofi kebenaran sebuah teori. Singkatnya, sebuah teori bisa dijadikan sebuah hukum atau fakta bila berhasil melewati falsification test atau uji kesalahan tersebut. Kita harus tahu, bahwa semua ilmuwan itu sibuk, baik dengan kajian ilmiahnya maupun permohonan analisa dari teori yang sudah ada. Maka dari itu, para ilmuwan sepakat untuk melakukan falsification test pada setiap teori yang diajukan.

Konsepnya seperti ini, kita harus meneliti sendiri akan teori yang kita ciptakan, dan kita harus menemukan kesalahan-kesalahan yang bisa meruntuhkan teori tersebut. Bila terbukti kita menemukan kesalahan, berarti teori kita benar. Sebagai contoh Albert Einstein; ia membuat sebuah teori tentang bagaimana alam semesta ini bisa bekerja sendiri. Dan dalam pengajuannya, ia menemukan tiga cara untuk menemukan kesalahan dalam teorinya. Lalu selama 6 tahun, para ilmuwan setuju akan hal tersebut. Itulah yang kita sebut sekarang hukum gravitasi (e=m.c2).

Lalu yang akan saya bahas disini adalah tentang Quran. Quran juga bisa dilakukan falsification test. Namun perlu saya tekankan sejak awal, ini tidak berarti bahwa quran itu ada salahnya. Tapi ini justru akan menguatkan akan kebenaran Quran. Tulisan ini akan (harusnya) menguatkan keyakinan kita terhadap Islam bila suatu saat dihadapkan dengan dialog perbandingan agama.

Jadi, untuk membuktikan Quran itu salah sebenarnya simpel, tidak perlu kuliah perbandingan agama ataupun meneliti validitas sejarah Quran itu sendiri. Kita semua bisa membuktikannya, tidak hanya umat Islam, tapi tetap harus belajar lebih mendalam tentang Islam dilain waktu. Perlu diketahui, falsification test ini dibagi dua bagian;

  1. Test yang dilakukan hanya berlaku pada saat itu saja ketika wahyu diturunkan (Past Test)
  2. Test yang dilakukan diberbagai waktu, hingga sekarang (Current Test)

 

PAST TEST

Contoh untuk test ini adalah kisah Abu Lahab, ia adalah paman nabi Muhammad SAW dan memiliki julukan (Fathers of Fire, ayahnya api). Walau dianggap baik terhadap Nabi, tapi kapanpun ia melihat sahabat yang berbicara dengan Nabi, pastilah akan diputarbalikkan keadaanya. Setiap kali ia melihatnya, ia akan bertanya kepada sahabat; “apa yang dikatakan Nabi? Apakah ia mengatakan putih? Bukan, maksudnya itu hitam. Apa ia mengatakan siang? Bukan, maksudnya malam”. Begitulah ia berbuat dengan memutarbalikkan fakta. Ia merupakan musuh Nabi. Ia menggunakan berbagai cara untuk meyakinkan sahabat, bahwa perkataan Rosulullah itu salah/terbalik.

Dalam al-Quran terdapat surat yang khusus membahas tentang Abu Lahab itu sendiri. Disana dinyatakan bahwa Abu Lahab dan istrinya akan dijerumuskan ke dalam neraka. Ini membuktikan bahwa pada saat itu, Abu Lahab tidak akan pernah masuk Islam. Padahal surat ini diwahyukan 10 tahun sebelum kematian Abu Lahab itu sendiri.

Namun apa yang terjadi? Apakah Abu Lahab masuk Islam? Apakah ia dimasukkan ke surga? TIDAK. Padahal, jika saja Abu Lahab masuk Islam, maka itu akan membuktikan bahwa Quran itu salah. Padahal, dalam jangka waktu 10 tahun tersebut, Rosulullah selalu mengingatkan akan ajaran Islam kepadanya, tapi tetap saja ia tidak menerima dan semakin meyakinkan akan kebenaran Quran itu sendiri. Inilah Falsification Test untuk masa lalu. Mengapa bisa terjadi? Karena Quran (Islam) itu dibuat oleh Allah – Tuhan semesta alam yang mengetahui akan masa depan.

Apakah bisa dimengerti? Test ini terbukti tidak menjadikan Quran itu salah, namun justru malah menguatkan kebenaran Quran itu sendiri. Selanjutnya kita ke contoh kedua.

Dalam surat Al-Baqoroh [2] ayat 94-96 dinyatakan:

Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.’ (al-Baqarah: 94) Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (al-Baqarah: 95) dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)

Ayat ini mengisahkan tentang mubahalah (adu do’a) antara Rosulullah dengan kaum Yahudi untuk mengetahui, kaum manakah yang berdusta, namun nyatanya kaum Yahudi menolak mubahalah tersebut, karena mereka takut bencana akan dimusibahkan kepada mereka (“…dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya…” ayat 95).

Orang-orang Yahudi sangat takut akan kematian, bahkan mereka malah menginginkan umur mereka dipanjangkan menjadi 1000 tahun lamanya (“…masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun….” Ayat 95)

Satu-satunya hal yang harus dilakukan orang Yahudi adalah mengatakan: “Aku ingin mati”, baik pada saat itu ataupun sekarang. Bila hal tersebut terjadi, maka Quran terbukti salah. Namun mereka takkan pernah menginginkan kematian datang padanya.

 

CURRENT TEST

Untuk test kedua yakni test yang berlaku pada zaman sekarang dan yang akan datang. Dalam al-Quran disebutkan:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini adalah Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”. (Al-Maidah [5]: 82)

Ayat tersebut menerangkan bahwa diantara Yahudi, orang Musyrik dan Nasroni, yang paling dekat dengan Islam (persahabatan secara dunia) adalah Nasroni. Ayat itu juga memberitahukan kepada kita, bahwa musuh Islam adalah Yahudi dan orang Musyrik.

Memang ada orang Yahudi yang lebih baik dari Nasroni atau Islam (dalam hal keduniaan; ekonomi, sosial, dll), tapi disini Quran berbicara keseluruhan, mayoritas bahwa Yahudi takkan pernah bisa menerima Islam sebagai kerabatnya. Bahkan pimpinan tertinggi kaum Yahudi mengatakan: “setelah Komunisme Uni Soviet hancur, musuh kita selanjutnya yang harus dihancurkan adalah Islam”. Ini menjadi bukti bahwa Yahudi akan selalu memusuhi Islam sampai kapanpun.

Dari kenyataan tersebut, hal yang bisa menggugurkan keaslian dan kebenaran quran adalah dengan ibarat munculnya pernyataan dari kaum Yahudi: “baiklah, kita akan berbuat baik, sebaik-baiknya kepada orang Islam selama beberapa waktu”. Namun bagaimana dengan sekarang? Berhentikah Israel (Yahudi) dan sekutunya menyerang Palestina (Islam)? Berhentikah mereka dengan ajaran “ILLUMINATI”nya? Berhentikah mereka meyakini faham “THE NEW WORLD ORDER”nya? Tidak. Tidak akan pernah.

Mari kita lanjutkan pada contoh kedua bagian CURRENT TEST ini.

Dalam quran dinyatakan:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Al-Isro [17]: 88)

Ayat tersebut merupakan sebuah tantangan dari Allah kepada manusia seluruh zaman untuk membuat sebuah perumpamaan Al-Quran. Allah mempersilahkan siapapun untuk mencoba melakukannya dengan meminta bantuan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Bila terlalu sulit, Allah mempermudah tantangan itu dengan hanya membuat sebuah surat yang mirip, hanya mirip, tidak harus sama persis, seperti dikisahkan dalam quran:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (23). Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir (24)”. (Al-Baqoroh [2]: 23-24)

Perlu difahami, untuk membuat sebuah perumpamaan Quran itu haruslah dengan menggunakan bahasa arab, tidak bisa dengan bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dll. Namun tentu saja itu takkan pernah terjadi sampai kapanpun, karena Al-Quran itu sendiri Allah-lah yang menciptakannya, takkan ada yang bisa menyamai-Nya. Jika ada yang beranggapan bahwa ia bisa, maka bersiaplah dengan neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.

Referensi ayat lain bisa anda lihat di Ath-Thuur [52]: 34, Hud [11]: 13, dan Yunus [10]: 38.

Ini menjadi contoh lain dari falsification test bagian kedua yang semakin menguatkan kebenaran Quran.

 

FINAL TEST

Jika anda tidak bisa menguji kesalahan quran melalui berbagai tantangan diatas, maka test terakhir ini menjadi penentu usaha kalian. Sekali lagi saya tekankan, pengujian ini takkan menjadikan quran itu salah, justru malah akan menguatkan.

Bila anda bukan ahli sejarah yang meneliti kesalahan quran mengenai kisah tempo dulu, ataupun bukan ahli Bahasa arab yang sanggup membuat serangkaian ayat yang mirip dengan quran, maka anda bisa mencoba test terakhir ini.

Test terakhir adalah, cari satu saja kontradiksi (perbedaan) dalam quran. Misal pada ayat ini surat ini ternyata bertentangan dengan ayat dan surat lainnya. Silahkan anda cari kontradiksi tersebut. Bila ternyata kalian menemukannya, maka kalian membuktikan bahwa quran itu terbukti salah.

Sudah banyak orang mencoba menemukan kesalahan-kesalahan tersebut. Ketika kita mencari di internet, kalian akan menemukan banyak situs yang mengutarakannya, salah satunya terdapat dalam situs www.mantanmuslim.com. Tapi semuanya, entah dikutip keluar dari konteksnya, salah penerjemahan, bahkan pemahaman yang tidak masuk akal, mereka gagal dalam menemukan kontradiksi tersebut.

Jadi, dari berbagai falsification test tersebut, Quran menunjukkan cara kepada kita bagaimana membuktikan bahwa quran itu salah, namun tidak ada yang berhasil menemukan letak celah kesalahan itu sendiri. Jika kita berfikir bahwa Quran bukan berasal dari Tuhan, silahkan coba tantangan tersebut. Cobalah sendiri!

Itulah sepenggal kisah tentang falsification test yang bisa diuji terhadap quran. Semoga bisa menambah keyakinan kita terhadap Islam dan semakin yakin akan kebenaran Allah SWT dengan wahyu yang diturunkan-Nya kepada para nabinya. In Sya Allah. Terima kasih sudah berkunjung, bila ada pertanyaan atau ada hal yang tidak difahami, silahkan isi kolom komentar dibawah.

Ketika Masa Lalu Kembali Tergambar

Di jum’at pagi ini, saya terinspirasi sebuah pengajaran dari pengalaman yang sangat berharga, yakni tentang ketika masa lalu kembali tergambar oleh seorang manusia. Entah ini tergolong puisi atau apa, sebuah goresan tinta (ketikan tangan) yang berhasil ku catatkan bisa dilihat dibawah:

 

Aku hidup diantara tiga dunia. Dulu, sekarang, dan nanti.

Aku pernah hidup dalam dunia yang kusebut “dulu”

Kini aku hidup dalam dunia yang kusebut “sekarang”

Dan kelak aku akan hidup dalam dunia yang kusebut “nanti”.

 

Aku punya catatan sejarah langkah kaki dalam hidup yang “dulu”

Sebuah catatan yang membuatku kini lebih banyak belajar.

Kehidupan yang membuatku kini semakin berpengalaman.

Pengandaian yang terkadang kurindukan.

 

Aku hidup dalam dunia “sekarang”

Sebuah dunia yang menggambarkan siapa aku sekarang.

Semua hal yang sedang kulakukan adalah sebuah perjuangan.

Hal yang terkadang membuatku dalam waktu dekat jatuh dan terbangun.

 

Aku juga memiliki berjuta impian, harapan, keinginan yang tentu saja tidak bisa kulakukan sekarang.

Ada penghalang yang menjadikanku terpisah dengannya.

Hal tersebut adalah waktu yang selalu saja kehadirannya menjadi misteri.

Dan itulah yang membuatku lebih termotivasi.

 

Dulu, hidupku adalah suatu hal yang membingungkan.

Terkadang bisa membuatku tersenyum bahagia, tertawa gembira.

 

Saat itu aku tertawa lepas.

Saat itu aku berjalan bebas.

Saat itu aku belajar dengan luas.

Aku selalu merindukan hal tersebut bisa kembali terjadi sekarang.

Selalu kubayangkan senyum dulu bisa terjadi sekarang.

Setiap waktu aku ingin melihat sosok diriku dibandingkan sekarang.

 

Namun aku lupa, sekarang adalah siapa diriku sebenarnya.

Masa lalu tetaplah masa lalu.

Waktu takkan pernah bisa berputar karena kita bukan yang mengatur sejarah.

Walau satu detik saja, ia takkan pernah kembali.

Dan sekarang adalah waktunya ku berubah.

Sekarang adalah waktunya ku berpindah.

Sekarang saatnya aku mengganti arah.

 

Aku hidup bukan untuk masa lalu.

Kini aku hidup untuk masa depan.

Segala hal yang kulakukan saat ini, untuk sebuah masa depan.

Masa dimana cita-cita pun tercatatkan.

Waktu dimana harapan pun tergambarkan.

Keadaan dimana banyak hal yang kuimpikan.

 

Maafkan aku yang sering terpeleset dalam masa lalu. Aku salah.

Maafkan aku yang terlalu berharap ia kan kembali datang.

Maafkan aku yang terkadang lupa berjuang.

Maafkan aku yang tertarik menoleh kebelakang.

Maafkan aku yang selalu membuatnya seolah-olah penghalang.

Maafkan aku yang menjadikannya tak berimbang.

Disanalah aku belajar ikhlas.

Itulah tulisan saya tentang ketika masa lalu kembali tergambar. Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung. Have a nice Friday… 🙂

Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi

Menanggapi 5 bulan pasca pelantikan Jokowi sebagai presiden, kali ini saya ingin menulis sebuah Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi yang mungkin bisa bermanfaat untuk pembaca.

Rezim JOKOWI lebih parah dari ORBA terhadap ISLAM.

Jokowi merupakan sosok pemimpin yang terlahir dari peran besar media sekuler dukungan asing. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah momok terhadap rakyat Indonesia yang notabene Muslim. Sebagai contoh adalah ketika ia menjabat sebagai walikota Solo dan menggandeng wakil walikota yang berasal dari golongan kafir bernama FX Hadi Rudyatmo. Lalu Jokowi mencalonkan menjadi Gubernur DKI dan berhasil menyematkan status Gubernur DKI dengan meninggalkan Solo dipimpin orang kafir untuk pertama kali.

Begitu pula nasibnya dengan DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia ini juga memiliki masyarakat mayoritas Islam dan belum pernah dipimpin oleh orang kafir sebelumnya. Namun hal ini berbeda ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, dan meninggalkan Jakarta dipimpin oleh keturunan Tionghoa, yakni Basuku Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Sungguh catatan miris terhadap Muslim Indonesia. Ketika dua daerah berbeda yang sebelumnya tidak pernah dipimpin kafir, namun kini Jokowi memecahkan rekor tersebut dengan “keserakahan” kekuasaannya.

Langkah keberhasilannya merebut hati rakyat memang menggunakan cara unik dan terbilang jarang digunakan kandidat lain. Ketika masa-masa kampanye dulu, Jokowi dan timses (tim sukses) menggembor-gemborkan prestasi yang bersifat temporer (sementara) semata. Kita ingat pada tahun 2009 dengan mobil Esemka yang berasal dari “tangan karya modus” walikota Solo menghipnotis Indonesia akan sosok pemimpin inspiratif yang betul-betul mengedepankan produksi dalam negeri. Namun apa kabar Esemka saat ini? Entah kemana kabarnya mobil tersebut yang hingga saat ini belum lagi menghiasi pemberitaan media. Dan hebatnya lagi, sejak saat itu Jokowi mendapat gelar walikota terbaik di dunia berdasarkan majalah New York Times. Sebuah majalah milik Amerika yang notabene kaum sekular dan penyokong utama Jokowi untuk tembus mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI.

Kita juga pasti masih ingat dengan gerakan “blusukan” yang sangat populer ketika Jokowi sibuk mencalonkan menjadi Presiden RI yang ternyata berhasil menjadi “icon” perjuangan bagi “wong cilik” karena ia begitu dekat dengan rakyat. Timses Jokowi ini memang cerdas dalam membuat isu publik yang tengah dibutuhkan masyarakat. Sosok yang selama ini memang diidam-idamkan menjadi pemimpin yang tidak hanya untuk DKI tapi seluruh Indonesia. Terbukti, dengan gerakan ini Jokowi berhasil memenangkan Pilpres 2014 lalu.

Bahkan ketika ia menjabat menjadi presiden RI, ia tetap menggunakan trik blusukan ini untuk menjaga image “pembela wong cilik” supaya tidak muncul istilah “kacang lupa pada kulitnya”. Ketika duduk di kursi presiden, Jokowi tetap bisa dekat dengan rakyat.

Setelahnya ia terpilih jadi presiden dengan menggandeng politisi senior yang tempo lalu di pilpres 2009 “gagal” adalah Jusuf Kalla (JK), Jokowi juga menggandeng beberapa nama dalam Kabinet Indonesia Kerja orang-orang dari golongan kafir, mereka adalah:

  1. Kepala staf kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan (Kristen Protestan)
  2. Kepala tim ahli wakil presiden, Sofyan Wanandi (alias Liem Bian Koen – Katolik)
  3. Sekretaris kabinet, Andi Wijayanto (Kristen Protestan)
  4. Anggota dewan pertimbangan presiden, Rusdi Kirana (Kristen Protestan)
  5. Kepala badan kordinasi penanaman modal, Franky Sibarani (Kristen Katolik)

Walau terbilang bukan jabatan strategis dalam pemerintahannya, namun pemasangan perwakilan kafir di kabinet ini cukup “berani” diambil oleh Jokowi.

Dari beberapa kejadian diatas, ini mengindikasikan bahwa pemerintahan Jokowi memang benar-benar sedang menggoda sang macan untuk bangun. Dia sedang menguji kesabaran dari mujahid muslim di berbagai pelosok daerah untuk bertindak. Namun kami disini bukan hanya berembel-embel Muslim, kami berbicara sebagai seorang rakyat Indonesia yang prihatin akan langkah pemerintahan yang terkesan ngaco dan berani dengan Islam.

Baru-baru ini – di tahun anggaran tahun 2015 – pemerintah telah resmi menyetop suplai anggaran untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang notabene sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk umat Islam. Posisi MUI disini sungguh esensial karena Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Islam, maka dari itu sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah. Berbeda dengan ormas lain yang memang hidup dengan anggotanya itu sendiri. MUI ini ibarat sesepuh di pemerintahan, walau tidak tercatat secara struktural, tapi arahan dan fatwa-fatwanya harus diperhatikan oleh pemerintahan demi menjaga keutuhan NKRI kedepannya. Dan rezim Jokowi ini malah memberhentikan suplai anggaran yang tentunya dana tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan umat Islam sebagai pemeluk agama juga sebagai penduduk Indonesia.

Kebijakan lain rezim Jokowi yang “melabrak” Islam datang dari kementrian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) dengan memblokir 21 situs islam Indonesia pada tanggal 30 Maret 2015 yang sangat mengagetkan masyarakat Indonesia. Kemenkominfo menegaskan bahwa 21 situs tersebut diduga memiliki paham radikal dalam menyebarkan ajaran Islam, sesuai dengan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Situs-situs tersebut adalah:

Arrahmah.com Ghur4ba.blogspot.com Muqawamah.com
Voa-islam.com Panjimas.com Lasdipo.com
Hidayatullah.com Thoriquna.com Gemaislam.com
Dakwatuna.com Salam-online.com Eramuslim.com
Kafilahmujahid.com Aqlislamiccenter.com Daulahislam.com
An-najah.net Kiblat.net Shoutussalam.com
Muslimdaily.net Dakwahmedia.com Azzammedia.com
Indonesiasupportislamicatate.blogspot.com

Saya pribadi tak habis pikir, kok bisa-bisanya rezim Jokowi memblokir situs-situs tersebut. Dari beberapa situs diatas adalah yang sering saya kunjungi karena mengandung informasi dan berita yang bagus juga berbobot mengenai Islam. Tidak ada sama sekali artikel yang menandakan pertentangan atau radikalisme seperti yang dituduhkan BNPT. Kalau era SBY, situs-situs yang di filtering itu situs berbau pornoaksi dan pornografi, lah kok sekarang malah situs berbau Islam? “Kunaon Jok? Sieun ku Islam? Anjeun urang Islam lin?”

Anehnya lagi, mengapa situs-situs berbau liberal dan menyesatkan – seperti ahlulbaitindonesia.com (milik Syiah), islamlib.com (Liberalis), islamtoleran.com (Sekular) – malah tidak disentuh sama sekali. Ini semakin membingungkan umat Islam. Namun bagi orang yang mengetahui dan paham mengenai “siapa dibalik tangan kekuasaan Jokowi”, tentu tidak mengherankan dengan kejadian-kejadian seperti ini. Namun bila dibiarkan, tentu saja ini akan menjadi masalah besar yang tidak hanya akan meruntuhkan keyakinan umat Islam dalam beribadah, juga akan merubuhkan azas dan sistem NKRI itu sendiri karena melibatkan langsung penduduk Muslim Indonesia. Dan kalau boleh saya bilang, rezim jokowi lebih parah dari ORBA terhadap Islam.

Saya hanya bisa berharap agar rezim Jokowi-JK bisa diberikan hidayah oleh Allah SWT dengan betul-betul mengedepankan kepentingan Negara, bukan kepentingan asing yang merantai kekuasaan presiden “boneka”nya. Saya sangat cinta Indonesia. Cinta akan tanah air ini. Cinta bumi pertiwi. Cinta segalanya tentang Indonesia. Begitu pula dengan masyarakat lain yang sangat mencintai Indonesia ini.

Maka dari itu, tolong. Tolong pehatikan kami, bukan malah memperhatikan mereka. Tolong jangan biarkan kebencian ini semakin menjadi-jadi dengan tingkah laku dan kebijakan anda yang “menantang” kami, Masyarakat Muslim Indonesia. Semoga rezim kali ini bisa menjalankan tugas dengan maksimal, bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsi dan perannya. Anda tidak tertarik akan gemerlapnya dunia, anda tidak takut akan “kungkungan” antek-antek asing, anda tidak (lagi) tertarik akan tawaran menggiurkan dari musuh Negara. Tidak memperdulikan para gurita ekonomi dunia yang hanya ingin kekayaan Indonesia. Semoga anda semakin cinta Indonesia.

Itulah sebuah catatan kecil rapor rezim Jokowi dari saya. Ditunggu komentar dari para pembaca, terimakasih.

Referensi:

1. fpi.or.id
2. wikipedia.com
3. duniamuallaf.blogspot.in
4. nasional.inilah.com
5. hukumonline.com