MEDSOS Hegemoni Remaja Indonesia 2014

Dapet inspirasi entah darimana, yang jelas hal ini terpikirkan begitu saja. Selebihnya silahkan persepsikan masing-masing, tentang Medsos; hegemoni remaja Indonesia 2014

Gini, tahun 2014 itu udah menjamur banget yang namanya MEDSOS alias media sosial. Anak-anak hingga dewasa bahkan orangtua-pun pengen ikut eksis disana. Menurut tafsiran sendiri, MEDSOS itu fasilitas yang bisa kalian temukan dengan jaringan internet dan bisa menghubungkan banyak orang. Contohnya kayak Twitter, Facebook, Instagram, BBM, LinkedIn, Google+, dll.

Ga bisa dipungkiri, saya sendiri memang korban dari MEDSOS ini, namun nampaknya ga terlalu lebay deh, “mungkin” itu juga. Kalian bisa cek deh akun-akun medsos saya nanti dibawah. Hehe…

Ada yang menggunakan fasilitas MEDSOS ini buat kebaikan, ada yang iseng, ada yang sekedar tertarik karena yang lain punya akun, masa kita enggak; dan berbagai alasan lain, bahkan ada yang memiliki niat jahat. Wallohu a’lam. Yang jelas kembali ke diri kita masing-masing.

Saya ga merasa bahwa saya paling suci yang menggunakan MEDSOS ini untuk berdakwah dalam kebaikan, itu penilaian oranglain. Hanya saja saya ingin membagikan cerita hidup yang mungkin bagus untuk dipetik hikmahnya. Mudah-mudahan. Dan ternyata seiring berjalannya waktu, kutemukanlah hal ini. Hal yang mungkin ga ngeh bagi kita, yang sudah terjebak dengan hegemoni MEDSOS. Parahnya dalam keburukan, baik itu cewek ataupun cowok.

Disini saya rangkum hanya hal yang bisa saya temukan saja. Selebihnya silahkan persepsikan sendiri.

KEBIASAAN BURUK CEWEK DI MEDSOS:
1. Sering pasang foto sok cakep, hasil editan photoshop, alay, kulit item jadi putih WTF!
2. Kurang menghargai privasi mereka. Semua foto di-share, nama pacar, emak, bapak, tetangga, kucing, anjing peliharaan, hobi dll dan mempostingkannya di instagram, dkk.
3. Sering update status hal-hal berbau cinta, romansa, sakit hati, gosip, kesombongan, infotainment (cewek banget)
4. Kalo internetan (MEDSOS) bisa sampe lupa makan.
5. Setiap ada kejadian langsung dipikirin “wah ini yang bakal aku tulis disini (MEDSOS)”…

KEBIASAAN BURUK COWO DI MEDSOS:
1. Sering komen hal-hal gak penting di wall cewek yang menarik perhatiannya.
2. Minta perhatian dengan kasih komen-komen sok penting, sok baek, sok lucu di update status cewek yang disukainya.
3. Saling menjatuhkan antar pria lewat comment-comment parah, kata-kata kotor, dan hal bullshit lainnya
4. Jadi orang gila yang selalu monitor cewek incerannya, liat foto-foto, komen status, dan bahkan sering private message ke dia. MODUS abis.
5. Langsung meleleh begitu liat foto cewek cakep
6. Kadang komen gak pake otak, langsung komen tanpa ngerti menyinggung perasaan orang lain ato nggak.

Bener nggak????
Ya kembali lagi ke kutipan diatas. Silahkan persepsikan sendiri, ini hanyalah penelitian pribadi dan insya Allah bisa dipertanggungjawabkan.
Terimakasih sudah membaca artikel saya. Datang lagi ya..

Oiya, ini tautan akun MEDSOS saya. Silahkan follow/add/invite, apapun itu namanya, yang jelas kita bisa bersilaturahmi. Insya Allah. (Klik aja linknya)

Pelangi Selepas Gerimis

Indah kata dimulai dari hati
Indah raga dimulai dari diri
Indah hari dimulai dari pagi
Indah warna dimulai dari mimpi

Tak pelak kutemui caci di indahnya hati
Tak jarang kudapati sakit di indahnya raga
Tak kecil duri kulangkahi di indahnya hari
Tak sedikit kurasai hati ini bergeliat merasakan kelamnya warna hati

Kata-kata indah seringkali kulihat begitu menyeruak menghiasi seisi hari.
Tapi nyatanya tak selalu membuatku bergeming dengan ribuan kata kutemui.
Kala raga ini berjaya, lain daripada masa-masa sakitnya, seringkali kuberdiri berpijak di kokohnya bumi dengan begitu kuatnya.
Tapi nyatanya tak selalu membuatku bisa sekokoh pohon yang menancapkan akar dengan begitu kuatnya.
Di serangkaian bergantinya hari kulalui, selalu kujejali dengan seluruh kemampuanku untuk bisa meraih keberhasilan yang kudambakan.
Tapi nyatanya tak selalu kumeraih apa yang kumimpikan.

Ku bersujud…
Ku berdo’a…
Ku memohon kepada yang kuasa…

Akankah semua ketidaktahuanku akan tujuan indah ciptaan-Mu ini menjerumuskanku dalam kegelapan…
Akankah semua kekuranganku membuatku alfa dan melupakan nikmat akan anugerah terbesar-Mu, yakni Islam…
Akankah hari-hari ini mampu kulalui dengan terus mengingat dan meraih kedekatan dengan-Mu…
Akankah kegelisahanku ini berakhir…

Padahal kutahu…
Indahnya waktu itu ketika bersujud terhanyut dalam berdo’a kepada-Mu.
Padahal kutahu…
Sempurnanya waktu itu ketika berbuat sesuai dengan perintah-Mu.
Padahal kutahu…
Alangkah senangnya Engkau, Rabbi bila hamba-Mu ini terus menerus mengingat-Mu dalam setiap langkah dan fikirku.
Padahal kutahu…
Nikmatnya bisa singgah di syurga-Mu, dan itu mahal harganya.
Padahal kutahu…
Pedih dan mengerikannya bagiku bila sampai ditempat kembali terburuk, Neraka-Mu.

Kini, indahnya hari bisa kurasakan kembali.
Kini, indahnya raga kutemukan lagi.
Kini, indahnya kata kudapati lagi.
Terima kasih Rabb.
Bagiku, inilah Pelangi Selepas Gerimis.

Sweetest Place, June 7 2014
#pelangiselepasgerimis #nineteenboy #my21

Ini yang kunamakan Kampanye

Hilman Saukani, S.Ag sedang orasi didepan 2.000 massa

Sabtu, April 5th 2014 di Lapang Bojong, Kec. Karangtengah, Kab. Cianjur, saya berteriak sekencang-kencangnya, bersorak seramai-ramainya, bergerak sebebas-bebasnya. Sudah lama saya tidak melakukannya. Bersama teman-teman, keluarga, orang terdekat, dan para sahabat, memenuhi lapang Bojong dan menghijaukan daerah itu. Ya, itulah momen kampanye.

Seingatku, sekitar 15 tahun lalu terakhir kali saya berteriak menyuarakan “PARTAI BULAN BINTANG”. Berarti saya masih anak-anak kala itu.
Ada yang berbeda mengenai suasana kampanye saat itu dan sekarang. Selain karena faktor usia, juga pengetahuan menjadi titik kunci perbedaannya. Ditambah dengan konstalasi politik Indonesia yang sudah berubah dan kondisi sosiogeografis dan sosiokultural masyarakat yang berubah.
Seiring perubahan zaman, tidak hanya saya yang berubah. Namun kultur dan pengetahuanpun semakin berkembang. Paradigma sosial mulai berubah mengenai kampanye.
Kata orangtua sekarang, dulu itu kalau kampanye tidak se-pragmatis sekarang. Dulu memang ada istilah “massa bayaran” yang niatnya hanya minta atribut, dipasang dimotor, ikut sorak-sorak, dan memenuhi tempat kampanye. Selesai itu mereka ngantri ke tim yang mengajaknya, dan meminta bayaran. Sudah. Namun tidak banyak dan hanya konsisten satu atau dua partai. Namun sekarang, mereka tidak pandang partai apa, kemanapun ayo, yang penting bensin penuh, dapet uang tambahan pula. Tapi itu mereka, bukan saya.
Saya terlahir di keluarga yang konsisten PBB. Awal-awalnya saya hanya ikut-ikutan karena kurangnya pengetahuan mengenai gejolak politik disini, Indonesia. Tapi dengan semakin bertambahnya usia, saya pun akhirnya paham, mengapa orangtua saya memilih setia di partai ini. Dan itu sudah tertanam dalam hati dan pikiranku, betapa mahal dan berharganya sebuah “pendirian” itu.
Mereka boleh saja menjadi “PELACUR POLITIK”, yang kerjanya hanya meminta bayaran setelah bersorak-sorak dan memenuhi tempat kampanye TANPA tahu dan mengenal “Ghiroh” dan esensi dari apa yang kami suarakan.

Saya berteriak karena saya tahu. Mereka berteriak karena mereka mau.
Saya tahu bukan karena saya ikut-ikutan, tapi saya tahu karena saya ingin tahu dan mencari tahu.
Mereka mau karena mereka tahu apa yang mereka akan dapatkan setelahnya, dan mereka tidak mau mencari tahu apa yang mereka teriakkan asal mendapatkan apa yang mereka mau.

Walau kampanye kami tidaklah gemerlap artis ibu kota seperti partai lain. Tidak semeriah mereka, tidak sebanyak massa mereka, tapi tidak berarti “aum”an kami lebih kecil dari mereka. Tidak berarti kami kalah dalam pendirian.

Boleh saja kami kurang massa kampanye, jangan kira pengaruh kami kurang di negeri ini.Boleh saja tidak banyak yang mengetahui jasa-jasa kami untuk negeri ini, karena kami tidak pernah memasang banner besar – memenuhi papan iklan – atas apa yang telah kami perbuat.Boleh saja partai kami kecil, tapi jangan kira nyali kami – memperjuangkan syariat Islam – itu memble.

Perhatikan saja mereka,
Mereka yang gemerlap artis ibukota, yang berjoged dengan suka ria, yang ditonton anak-anak dengan lenggak-lengkok para artisnya, yang membuat kemacetan hebat dijalan raya, yang meriah dalam menyuarakan partainya, boleh saja mereka tangguh dengan finansialnya.
Berbeda dengan kami. Kami tidak membawa artis ibukota, kami tidak berjoged ria, artis pun tidak lenggak-lenggok di depan anak-anak, tidak membuat kemacetan luar biasa, tidak sekuat finansial mereka, tapi dalam menyuarakan aspirasi, kami tidak kalah. Dan tidak akan kalah.
Ghiroh itu ada ketika….
Ada momen-momen yang paling berkesan saat kampanye. Dimulai dari tekstur tanah yang “ledok” (becek), sampai inspirator bagi oranglain.
Diawali di DPC PBB, di jl. Taifur Yusuf no.47, Kaum – Cianjur, saya dan kawan-kawan Pemuda Bulan Bintang menjadi garda terdepan mengawal kampanye. Merah menggelora menjadi inspirasi golongan tua bahwa anak muda mereka sangatlah menjaga dan melindungi gerakan mereka. Iring-iringan konvoy sepanjang 3km pun Alhamdulillah aman terkendali dengan bantuan para pemuda yang menggandeng pawai meriah itu.
Pemuda Bulan Bintang memimpin arak-arakan kampanye PBB.

 

Sesampainya di tempat (lapang Bojong), dengan tekstur tanah ledok, saya pribadi dan kang Ade Ifan Rustandi mengawali mengibarkan bendera PBB yang besar dan mengelilingi lapang dengan lari-lari kecil. Walau sempat terpeleset karena tanah yang licin, tapi tidak lantas kami berhenti, kami terus berlari dan mengibarkan panji “keramat” (hehe) untuk menghadang dan melupakan tanah yang becek.
Pemuda Bulan Bintang mengibarkan panji PBB dan berlari kecil mengitari lapang

 

Sesudah itu pun kami langsung berdiri dibarisan terdepan panggung dan mulai mengajak oranglain ikut masuk memenuhi lapang. Karena sebelumnya sempat ragu-ragu untuk turun langsung ke lapang. Hingga pada akhirnya, ketua DPC, bpk. Muhammad Toha sendiri turun langsung dan ikut mengajak kepada kader-kadernya untuk ikut turun ke lapang.Beliau berkata: “Kader PBB itu merakyat, kader PBB itu tidak elitis. Hayu ka para kader, turutan pemuda. Turun ka lapang, tong sieun ku kotor. Belok mah aya cai, kotor mah tinggal di cuci. Kader PBB oge tong sieun ku panas, panas di dunya masih jauh dibanding panas di naraka”
Bpk. Muhammad Toha, S.Ag mengajak caleg PBB berbecek-becek dengan peserta kampanye.

Selepas bpk. Toha berkata itu, para kader pun mulai berduyun-duyun memenuhi lapang dengan semangatnya. Subhanalloh. Belum tentu para elit partai lain berani berkotor-kotor memeriahkan suasana kampanye, mungkin mereka lebih memilih diam di tempat yang sudah disediakan, duduk manis di kursi, dan diteduhi dengan tenda.

Para penonton pun disuguhi hiburan yang sungguh unik. Bukan dangdut, bukan sulap, bukan pula grup band. Tapi grup nasyid. Ya, grup nasyid. Awalnya, mayoritas peserta kampanye sedikit yang tahu mengenai lagu-lagu nasyid, tapi setelah lagu-lagu nasyid itu dikemas dengan irama melayu, baru lah mereka mulai mengenal dan menyukai lagu-lagu nasyid.
SPAZI. Itulah grup nasyid yang membantu menghibur kami dengan suaranya yang khas dan kreatifitasnya yang unik. Konsep akustik tidak sama sekali mengurangi kemeriahan suasana kampanye itu. Justru sebaliknya, semakin banyak lah lapang Bojong itu dipenuhi para kader dan simpatisan yang ingin turut menghibur diri. Waw.
Grup nasyid SPAZI sedang menghibur peserta kampanye

Inti dari kampanye bukan nyanyi-nyanyi dan hanya berteriak saja. Tapi kami menamakan kampanye ini dengan “RAPAT UMUM”. Rapat yang mengajak simpatisan pula sebagai pesertanya. Disini para pengurus DPC PBB Cianjur menyuarakan orasi-orasi tentang apa yang akan dilakukan mereka ketika sudah menjabat di kursi DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, dan DPR-RI nanti.

Perlu diketahui, bahwa orasi ini menyuarakan tentang janji bila mereka mendapat kursi DPRD/DPR. Bukan berarti bila mereka tidak mendapatkannya, mereka tidak akan berbakti kepada rakyat dan berhenti menolong sesama. Tidak demikian.
Berdirinya Yayasan Forum Pembangunan dan Perencanaan Cianjur (YFP2C) ini sebagai bukti integritas PBB dalam menyehatkan masyarakat Cianjur. Yayasan ini didirikan bukan pada saat momentum pemilu, bukan bertujuan untuk memenangkan suara PBB di Cianjur. Dengan slogan “mari bersama membantu sesama”, YFP2C insya Allah akan membantu masalah kesehatan bagi penduduk Cianjur. (Klik disini untuk informasi lebih lanjut mengenai YFP2C.)
Ada satu orator yang membuat saya dan rekan-rekan terdiam. Bukan karena beliau “ngaco” dalam bersuara, tapi justru sebaliknya. Beliau mampu menyulut api semangat kami semakin besar dengan fakta-fakta konstalasi politik Indonesia yang disebut sebagai pertandingan aqidah. Ya, pemilu 2014 ini tidak hanya momentum kekuasaan. Tapi sudah menjadi pertarungan aqidah. (untuk informasi detail, silahkan kunjungi tulisan saya sebelumnya, klik disini)
Kami, Partai Bulan Bintang, tidak akan pernah membiarkan orang kafir berkuasa khususnya di Cianjur ini. Silahkan para agama baru dan aliran sesat itu berlindung dan bersembunyi di partai besar yang mampu membawa mereka ke senayan sana. Tapi jangan harap mereka akan hidup tenang dalam melancarkan misi-misi aqidah kelak. Karena masih ada PBB. Boleh saja mereka berlindung pula di partai (yang ngaku) Islam lain, tapi mereka tidak akan pernah menyentuh partai Islam, PBB. Itulah yang dikatakan bpk. Hilman Saukani, caleg DPRD Provinsi dapil Jabar 3 (Kab. Cianjur dan Kota Bogor) no urut 2.
Pertarungan aqidah? Waw. Mungkin bagi oranglain ini terkesan lebay dan dilebih-lebihkan, tapi ini memang faktanya. Kalau orangtua saja berani bilang itu, apalagi kaum muda, tentunya harus lebih lantang dan berani dalam bersuara. Dan kami berikrar untuk selalu menjadi garda terdepan bagi para sesepuh kita.
Sesaat sebelum acara ini diakhiri, bpk. Toha mengajak para caleg PBB untuk berkumpul dibawah panggung dan bersama-sama berikrar didepan sekitar 2.000 massa mengenai komitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat Cianjur dan tentunya dengan konsep transformasi syariah.
(untuk informasi mengenai konsep syariat Islam di tataran politik Indonesia, silahkan kunjungi tulisan saya sebelumnya dengan klik disini)
Begitulah gambaran suasana kampanye PBB di kab. Cianjur yang saya rasakan. Inilah mengapa saya katakan “ini yang kunamakan campaign”. Kami bukan tokoh, tapi insya Allah generasi penerus perjuangan. Rasyid Ridlo, Pemuda Bulan Bintang. Semoga bermanfaat.GALERI KAMPANYE

Pemuda Bulan Bintang garda terdepan
Pemuda Bulan Bintang menyanyikan Mars Pemuda
Pemuda Bulan Bintang menyanyikan Mars PBB
Pemuda Bulan Bintang kab. Cianjur

Siti Nurhaliza, my favorite actress.

Siti Nurhaliza binti Tarudin

Cantik, santun, bersahaja, dan yang terpenting bersuara emas. Itulah gambaran secara umum mengenai sosok gadis Malaysia bernama Siti Nurhaliza. Untuk golongan masyarakat generasi tahun 90an, sudah tentu tidak asing mendengar nama itu. Terutama untuk wilayah Asia dan sebagian Negara Eropa.

Bernama lengkap Siti Nurhaliza Tarudin yang disematkan nama belakang dari ayahnya, Tarudin. Lahir di Berek Polis Kampung Awah, Temerloh, Kuala Lumpur, Malaysia. Merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Tarudin Ismail dan Siti Salmah Bachik.

Dengan faktor A-Z yang dimilikinya, membuat saya pribadi sangat mengagumi sosok Siti Nurhaliza ini. Selain karena jiwa seni dalam bidang vokal yang dikuasainya, juga rupa yang anggun nan bersahaja, sudah cukup membuat saya terkagum-kagum dengannya.

Sempat membuat pernyataan mencengangkan mengenai syarat-syarat pakaian yang harus dikenakan dalam setiap show, namun tidak serta merta menurunkan kualitas dan minat para penikmat lagu mundur dari mencintai karya-karyanya. Justru dengan keputusan kontroversial (bagi sebagian kalangan) malah membuat dia semakin terkenal dan dicintai fansnya di berbagai belahan Asia dan sebagian di Negara-negara Eropa.

Berasal dari daerah “kampung”, namun bisa mengguncangkan dunia dengan berbagai penghargaan yang diraihnya. Dan yang paling fenomenal adalah ketika Siti menerima gelar “The Voice Of Asia” oleh Alicia Keys di ajang MTV Asia Awards tahun 2005 di Bangkok, Thailand karena kehebatan vokal sopranonya.
Sulit untuk mencari sosok idola yang tidak hanya professional dalam bidang seni vocal, namun sangat memperhatikan penampilan sebagai image tersendiri dan tidak ingin mainstream sebagai artis secara konvensional (umum). Banyak artis-artis diluar sana yang hanya menonjolkan “view” daripada “technic”, hanya mementingkan penampilan dan menomorduakan kemampuan. Namun berbeda dengan Siti. Walaupun ia datang dari kampung, tapi kualitas suara tetaplah nomor satu.

Namun yang disayangkan, dulu – ketika saya melihat beberapa video tayangan dan siaran langsung – ia masih belum berkerudung. Tapi setelah menikah dengan konglomerat Malaysia, Datuk Khalid Mohamed Jiwa, Siti memutuskan untuk mengenakan kerudungnya. Subhanalloh. Semakin indah.

Siti Nurhaliza dan Datuk Khalid