Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Kedua Tamat

Baca dulu Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Pertama

Tahap pertama; kemarau panjang

Ibnu Katsir berkata, Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika kaum Aad meminta disegerakan adzab, Allah Ta’ala memulai dengan menahan hujan selama beberapa tahun. Kemarau yang merupakan azab Allah bagi kaum aad rasanya tiada berkesudahan. Terik matahari yang membakar bumi tidak dapat menghidupkan tanaman, sehingga sumber penghasilan kaum aad sudah tidak ada lagi. Musim kemarau ini sungguh dahsyat sebab semua harta yang telah dikumpulkan kaum aad sedikit demi sedikit mulai terkikis. Hal ini disebabkan untuk menutup kebutuhan sehari-harinya sehingga lama-kelamaan harta tersebut habis.

Di saat demikian nabi Hud tetap berdakwah dan tetap mengajak kaum aad untuk meminta pertolongan kepada Allah. Beliau tidak merasa bosan dan putus asa meskipun mendapat rintangan dalam dakwahnya. Dalam hatinya, beliau bersyukur kepada Allah benar-benar menurunkan peringatan berupa kemarau panjang ini.

Melihat dan merasakan kemarau seperti itu, pemimpin mereka Mu’awiyyah bin Bakr mengutus delegasi berjumlah sekitar 70 orang untuk mengambil air. Kemudian mereka melewati Mu’awiyyah di daerah Makkah, lalu mereka singgah selama sebulan di tempatnya untuk meminum khamr dan memberikannya pada Mu’awiyyah. Setelah itu mereka pergi ke Haram yang disana terdapat beberapa berhala yang sebelumnya dijadikan untuk meminta pertolongan dan meminta keselamatan. Begitulah ritual persembahan yang mereka lakukan untuk menangkal bencara kemarau panjang tadi.

 

Tahap kedua; angin dahsyat hitam pekat dan dingin

Menurut sejarah, kemarau pada saat itu tidak ada setetes embun yang jatuh. Hal ini membuat semua sumber air tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Waktu itu bumi betul-betul kering dan tandus.

Setelah selesai mengunjungi Mu’awiyyah, maka mereka segera beranjak ke Al-Haram dan berdoa untuk kaumnya. Kemudian salah seorang pemuka agama yang bernama Qail bin Anaz berdo’a untuk mereka. Maka Allah mengirimkan 3 awan yaitu putih, merah, hitam kemudian mereka diseru dari langit, “Pilihlah untukmu dan kaummu dari awan ini. Qail menjawab, “Aku memilih yang berwarna hitam.” Qail menyangka bahwa awan hitam adalah awan yang membawa hujan untuk mereka.

Kemudian Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum Aad, hingga awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan Al-Mughits. Penduduk kaum Aad melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata, “Inilah hujan untuk kami!”. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢٤ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۢ بِأَمۡرِ رَبِّهَا فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٢٥

  1. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih
  2. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa [QS Al-Ahqaf: 24-25]

Orang pertama dari kaum Aad yang melihat kalau awan itu adalah angin yang menghancurkan adalah seorang wanita bernama Mahd. Ketika dia melihatnya, dia pun berteriak dan jatuh pingsan. Ketika siuman, sebagian kaumnya bertanya kepadanya, “Apa yang kau lihat wahai Mahd?” Dia menjawab, “Aku melihat awan hitam bagai meteor dari neraka, di depannya ada seorang lelaki yang menuntunnya![1]

Suatu malam nabi Hud didatangi malaikat yang memberi tahu bahwa sebentar lagi azab Allah akan datang. Malaikat itu berpesan pada nabi Hud agar segera meninggalkan perkampungannya bersama pengikutnya.

Malam itu juga nabi Hud mengumpulkan orang-orang beriman dan mengajak pergi dari perkampungan. Mereka menuju ke Hadratul Makkah. Malam semakin larut dan nabi Hud bersama pengikutnya sudah jauh meninggalkan wilayahnya, maka datanglah angin topan berwarna hitam pekat tersebut. Angin ini berhawa dingin dan menerjang wilayah Ad. Ternak-ternak kaum aad bergelimpangan. Begitu pula bangunan yang dibanggakan selama ini.

Setelah itu orang-orang yang menentang ajaran nabi Hud di hancurkan juga. Di saat itulah mereka sadar bahwa ajaran dan ancaman nabi Hud telah terbukti. Mereka menyebut-nyebut nama Hud dan memanggilnya. Namun penyesalan tinggal penyesalan sebab nabi Hud sudah berada di daerah yang jauh dan Allah tidak menerima penyesalan mereka lagi.

Lalu Allah Ta’ala menggerakkan awan hitam tersebut 7 malam 8 hari berturut-turut mengepung mereka[2]. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di dalam desa kaum Aad, sementara Nabiyullah Hud ‘Alaihissalam dan orang-orang yang telah beriman terlebih dahulu sudah pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari adzab dan siksa Allah yang pedih. Firman Allah Ta’ala:

وَأَمَّا عَادٞ فَأُهۡلِكُواْ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ ٦ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ ٧

  1. Adapun kaum ´Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang
  2. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ´Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk) [QS Al-Haqqah: 6-7].

Allah menyerupakan kaum itu dengan tunggul pohon kurma yang tidak memiliki kepala karena angin waktu itu mendatangi mereka dan mengangkat mereka ke atas dengan kencangnya lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa hanya jasad tanpa kepala. Beberapa dari mereka ada yang mengungsi ke gua-gua dan gunung-gunung karena rumah-rumah mereka telah hancur. Kemudian Allah mengutus angin Al-Aqim, yaitu angin panas yang disertai nyala api di belakangnya. Kaum Aad yang tersisa menyangka angin inilah yang akan menyelamatkan mereka. Padahal angin ini justru mengumpulkan mereka semua dalam pusaran hawa dingin dan panas yang sangat membinasakan. Inilah adzab angin terdahsyat dalam sejarah yang pernah terjadi di muka bumi disertai dengan teriakan-teriakan yang amat memilukan dari kaum Aad. Inilah adzab yang mereka meminta-minta untuk disegerakan kedatangannya. Na’udzubillahi min dzaalik. Itulah rangkuman kisah kaum Aad dan adzab yang menimpanya.

 

Kesimpulan

Sungguh hebat azab Allah sehingga membinasakan seluruh wilayah negeri dari kaum Aad. Mengingat hal ini maka nabi Hud dan semua pengikutnya yang beriman tidak lagi menempatinya melainkan pergi ke negeri yang baru, yaitu Hadramaut Makkah. Di sana beliau menyebarkan ajarannya dan bertambah banyak pula pengikutnya. Di sana pula beliau wafat dan dimakamkan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Hud dimakamkan di negeri Yaman, ini dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalib. Riwayat lain menyebutkan kuburannya berada di Damaskus, di masjidnya terdapat tempat yang banyak dikira orang-orang bahwa itu merupakan makam Nabi Hud ‘Alahissalam. Allahu a’lamu bishawab.

 

Hikmah yang bisa diambil

Dari kisah tersebut setidaknya kita bisa mengambil hikmah berupa:

  1. Al-Quran mengisahkan berbagai kisah yang bisa kita ambil pelajaran didalamnya tidak terikat ruang dan waktu. Walaupun kisah itu sudah terjadi dan terjadi di jazirah arab sana, namun kita umat Muslim di Indonesia bisa mengambil hikmahnya sampai saat ini.
  2. Kaum aad merupakan kaum yang diberikan karunia oleh Allah dengan kesempurnaan hidup berupa ladang pertanian yang subur, kekayaan yang melimpah, fisik yang kuat, kecerdasan yang tinggi; sehingga bisa membuat rumah dengan tiang-tiang menjulang tinggi. Namun semua karunia itu tidak diimani oleh mereka dan malah musyrik kepada Allah.
  3. Segala yang kita miliki di dunia hanyalah sementara. Kehidupan dunia ini jangan dijadikan prioritas sehingga menomor-duakan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.
  4. Teruslah menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah dan selalu mengingat akan semua pemberian-Nya (titipan). Apalah artinya bahagia di dunia, tapi di akhirat menderita/merugi.
  5. Semoga kita terjauh dari golongan orang yang kafir akan nikmat-Nya dan selalu bersyukur atas segala karunia yang dimiliki sekarang.

 

Sumber

  • Al-Quranul Kariim
  • Maktabah Syamilah
  • https://kisahmuslim.com/470-iram-negeri-kaum-aad-yang-dibinasakan.html
  • http://sejarahkisahnabi.blogspot.co.id/2013/11/kisah-nabi-hud-as-bag-pertama.html
  • http://sejarahkisahnabi.blogspot.co.id/2013/11/kisah-nabi-hud-as-bag-kedua.html
  • https://muhandisun.wordpress.com/2013/01/24/kisah-nabi-hud-alaihissalaam-dan-kaum-aad/
  • https://kisahmuslim.com/470-iram-negeri-kaum-aad-yang-dibinasakan.html

 

[1] Kisah serupa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya [no. 15524 dengan sanad hasan] dari hadits Al-Harits bin Yazid Al-Bakri mengenai seorang wanita tua dari Bani Tamim.

[2] Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas serta lebih dari satu imam para tabi’in berkata, Angin tersebut dingin dan sangat kencang. [Jami’ul Bayan Ath-Thabari 24/102]

Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Pertama

Al-Quran merupakan wahyu Illahi yang diturunkan kepada umat Islam, secara garis besar pokok-pokok kandungannya terdiri dari aqidah, ibadah, akhlak, hukum, peringatan, dorongan untuk berfikir dan sejarah/kisah. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang kisah nabi hud dan kaum aad.

Penyebutan kaum Aad dan negerinya, Iram di dua surat dalam al-Qur’an, salah satunya dengan nama Nabi mereka yaitu Hud ’alaihissalam, dan yang kedua dengan nama tempat tinggal mereka yaitu al-Ahqaaf, dan di dalam puluhan ayat al-Qur’an yang terdapat dalam 18 surat dalam al-Qur’an. Dan penyebutan kaum Aad dalam al-Qur’an terhitung sebagai kisah yang paling banyak diceritakan dibandingkan dengan kisah ummat-ummat yang lain yang dibinasakan, sebagai bentuk keajaiban dalam al-Qur’an. Hal itu karena kaum ini (Aad) telah dibinasakan secara total dengan angin hitam pekat serta dingin yang tidak sewajarnya. Angin tersebut juga mengandung pasir-pasir yang mengubur dan menutup peninggalan-peninggalan mereka, hingga tersembunyi (tertutup) semua peninggalan mereka dari muka Bumi.

Setelah nabi Nuh dan kaum yang beriman diselamatkan dari banjir terbesar sepanjang sejarah yang menimpa pada saat itu, maka kaum Nuh tersebut menurunkan satu kaum baru yang disebut kaum ‘Ad. Apabila ditarik garis keturunan, kaum Aad merupakan generasi ke delapan setelah nabi Nuh.

Dikisahkan bahwa kaum aad merupakan kabilah yang hidup di wilayah “hadratulmaut”, tempat yang terletak di Yaman yang dekat dengan laut. Wilayah tersebut dipenuhi dengan bangunan dengan pasak tiang yang menjulang tinggi sebagaimana firman Allah:

 أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ ٦ إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ٧  ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٨

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ´Aad
  2. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
  3. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS. Al Fajr 6-8)

 

Di dalam tafsir mengenai kaum Aad, sejumlah ulama ahli tafsir, ahli Geografi, ahli sejarah dan ahli nasab (silsilah keturunan) muslim seperti ath-Thabari, as-Suyuthi, al-Qozwaini, al-Hamdani, Yaqut al-Hamawi dan al-Mas’udi bersemangat untuk mengungkap tentang hakekat mereka. Mereka (para ulama di atas) menyebutkan bahwa kaum Aad termasuk al-Arab al-Baa’idah (Arab yang telah musnah). Dan mereka (al-Arab al-Baa’idah) dianggap mencakup banyak kaum yang telah musnah ratusan tahun sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka kaum Aad, Tsamud, al-Wabar, dan selain mereka masih banyak lagi[1].

Dan mereka (para ulama di atas) mengetahui dari ayat-ayat al-Qur’an bahwa tempat tinggal kaum Aad adalah di Ahqaaf (احقاف) jamak dari kata Haqf (حقف) yang berarti pasir yang miring. Ahqaaf adalah salah satu daerah ar-Rab’u al-Khali dengan Hadhramaut di sebelah selatannya, ar-Rab’u al-Khali di selatannya dan dengan Oman di sebelah timurnya, dan dia sekarang adalah daerah Zhaafar.

Adapun tentang kaum Iram pemilik bangunan tinggi itu, maka al-Hamadani (wafat tahun 334H/946M) dan Yaqut al-Hamawi (wafat tahun 627H/1229M) menyebutkan bahwa bangunan tinggi mereka yang dahulu adalah hasil bangunan Syaddad bin Aad dan telah hilang musnah (tertimbun pasir), dan ia tidak diketahui sekarang, walaupun beredar di cerita-cerita tentangnya.

Baca Surga Dunia yang Dibinasakan (Syaddad bin Aad)

 

Sekilas Mengenai Nabi Hud ‘Alaihissalam dan Kaum Aad

Beliau bernama Hud bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalam. Dikatakan juga bahwa beliau adalah Abir bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Atau ada juga yang menyebut beliau dengan Hud bin ‘Abdullah bin Rabbah bin Al-Jarud bin ‘Aad bin Aus bin Irm bin Sam bin Nuh. Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Jarir[2].

kaum-aad-3Nabi Hud diutus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada kaum Aad yang saat itu tengah melakukan kemusyrikan dengan menyembah berhala. Sebagian ulama dan ahli sejarah mengatakan Nabi Hud ‘Alaihissalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa ayahnya Nabi Hud yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Sebagian mereka berkata bahwa Nuh-lah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab, sementara yang lainnya berkata bahwa ia adalah Adam. Allahu a’lam.

Kaum ini tinggal di sebuah daerah yang bernama “Hadratulmaut“. Di daerah ini mereka melakukan aktivitasnya sebagai petani. Sehingga tanah yang dianugerahkan Allah kepadanya diolah dan menghasilkan buah-buahan serta gandum. Bisa dikatakan kaum ‘Ad tidak kekurangan apapun dalam hidupnya.

Meskipun demikian, mereka (kaum Aad) tidak menyadari bahwa yang membuatnya kaya raya itu sesungguhnya Allah semata. Mereka menganggap bahwa kekayaan itu didapatnya dari kerja kerasnya. Hal ini tentu sudah menyimpang dari ajaran agama.

Karena kekayaan mereka yang melimpah sehingga semua yang dia inginkan dapat dibeli. Selain itu bangsa Aad sangat pandai membuat bangunan seperti benteng untuk menahan serangan kaum lain. Dalam benteng tersebut mereka mendirikan bangunan bertingkat sehingga semua kegiatan di luar benteng dapat diketahui.

Di samping itu, mereka juga mempunyai siasat perang yang jitu. sehingga musuh-musuhnya merasa ketakutan dan takluk sebelum berperang. Hal ini disebabkan oleh kejamnya kaum aad kepada musuhnya. Kekejaman inilah yang membuat musuh takut karena yang demikian itulah mereka semakin sombong dan setiap peperangan mereka selalu mengalahkannya sebelum berperang.

 

Nabi Hud ‘Alaihissalam Diutus Allah kepada Kaum Aad

Kaum Aad adalah kaum yang durhaka kepada Allah Ta’ala yang menyembah berhala. Berhala mereka ada tiga yaitu Shad, Shamuda, Hara. Oleh karena itu, Allah Ta’ala utus saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam untuk mengembalikan mereka kepada aqidah tauhid yang bersih dari syirik. Karena akhlak dan aqidah kaum aad yang demikian menyimpang parah, nabi Hud merasa prihatin. Beliau sangat khawatir bahwa Allah akan mengirim azab kepada mereka sebagaimana yang diturunkan kepada kaum nabi Nuh. Untuk itu ia mengajak pada segenap kaum Aad agar menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala serta kelakuan jahat lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

۞وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٦٥

  1. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ´Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? [QS Al-A’raaf: 65].

Mendengar apa yang nabi Hud katakan kepada mereka, mereka menyangkal; “Mengapa kamu menyuruh kami meninggalkan tuhan-tuhan yang telah disembah nenek moyang kita dan diturunkan kepada kita. Dan tadi kau mengatakan bahwa hanya Tuhanmu yang dapat mematikan dan menghidupkan makhluk. Aku tidak percaya dengan ocehanmu itu. Sebab aku juga bisa membunuh”, sangkal kaum aad yang merasa terhina dengan ucapan nabi Hud.

Nabi hud menceritakan kembali bahwa apa yang terjadi kepada nenek moyangnya (kaum Nuh) ketika mereka kufur terhadap Allah. Namun tetap saja mereka ingkar dan malah menghina nabi Hud sebagai pendusta. Mereka adalah bangsa Arab yang keras tabiat, kafir, angkuh dan menyembah berhala. Kemudian Nabi Hud menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah Azza wa Jalla, mengesakanNya dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas kepadaNya, namun mereka mendustakan beliau, menentangnya dan mengejeknya. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٦٦

  1. Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta” [QS Al-A’raaf: 66]

Maksudnya adalah perkara yang beliau serukan kepada kaumnya untuk diikuti adalah sebuah kedustaan terhadap kegiatan penyembahan berhala yang telah berlangsung ini yang mana kaum yang durhaka tersebut mengharapkan kemenangan, rizki hanya dari berhala-berhala tersebut.

 

Kaum Aad Meminta Disegerakan Adzab

Apa yang terjadi pada kaum Nuh pun berulang pada kaum Aad, mereka meminta disegerakan adzab karena mereka mendustakan bahwa Nabi Hud adalah utusan Allah, mereka tidak mempercayai bahwa adzab itu adalah haq karena mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka menyangka Nabi Hud adalah seorang pendusta padahal sebaliknya, merekalah yang pendusta. Mereka berkata, seperti difirmankan Allah:

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٧٠

  1. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”[QS Al-A’raaf: 70]

Kaum Aad berkata kepada Nabi Hud:

قَالُواْ يَٰهُودُ مَا جِئۡتَنَا بِبَيِّنَةٖ وَمَا نَحۡنُ بِتَارِكِيٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوۡلِكَ وَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ٥٣ إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعۡتَرَىٰكَ بَعۡضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٖۗ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ٥٤ مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ ٥٥

  1. Kaum Aad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu
  2. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan
  3. dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” [QS Hud: 53-55]

Ini merupakan tantangan balik dari Nabi Hud untuk kaumnya dan pernyataan bara’ (berlepas diri) dari sesembahan mereka, dan menjelaskan kepada kaumnya bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat, mereka adalah benda-benda mati yang tak berdaya apa-apa.

Setelah peringatan-peringatan yang diberikan nabi Hud tidak dihiraukan kaum Aad sama sekali, semua keputusan diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Meskipun demikian beliau tak bosan menyeru pada kaum aad untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala sebagai tuhan mereka.

Namun mereka semakin berbuat kerusakan di muka bumi. Setiap kali mendapat peringatan nabi Hud, mereka malah berbuat sombong dan durhaka. Bahkan mereka tetap menolak untuk mengakui bahwa Hud merupakan utusan Allah.

Di tengah-tengah bejatnya moral yang sudah memuncak ini nabi Hud berdoa: “Ya Allah, sekiranya Engkau membuat mereka jera dengan adanya kemarau panjang kemungkinan besar mereka percaya ajaranku“. Doa tersebut nabi Hud panjatkan di tengah malam. Sebab beliau mengira bahwa dengan adanya musim kemarau panjang berarti harta mereka akan ludes dan dapat insyaf kembali. Tuhan Maha Mendengar sehingga permintaan utusan-Nya dikabulkan.

[1] Shahih Ibnu Hibban 361

[2] Tarikh Ath-Thabari 1/133

 

In-Sya Allah Bersambung

Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Kedua (Tamat)

 

Kisah Syaddad bin Aad

Surga Dunia yang Dibinasakan; Kisah Syaddad bin ‘Aad

Surga merupakan suatu tempat kediaman yang berada di alam akhirat yang didalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan dan kebahagiaan yang belum pernah dilihat, didengar, dan dinikmati oleh seorang hamba Allah ketika di dunia.

Ketahuilah bahwa surga (jannah) dipersiapkan bagi seluruh hamba-Nya yang bertaqwa dan berbuat amal shaleh semasa hidupnya ketika di dunia. Hal ini telah disebutkan dalam firman Allah surat asy-Syu’araa ayat 90 yang berarti;

 وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٩٠

  1. dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa

Syaddad bin Aad[1] adalah keturunan dari anak seorang raja bernama Aad yang memimpikan surga berada di dunia. Ia berusaha membangun sebuah kota Irom (surga yang dimaksud) dengan beribu-ribu pekerja dalam jangka waktu 300 tahun. Didalamnya terdapat pohon-pohon dan aliran sungai yang dilapisi dengan emas dan perak.

 

Awal mula kisah; siapa Syaddad bin Ad?

Diceritakan bahwanya ada seorang raja yang bernama Aad. Ia memiliki dua orang anak yang bernama Syaddad dan Syaddid. Setelah Raja Aad meninggal, keduanya memimpin kerajaan di dunia dengan kejam. Diceritakan pula bahwa penduduk Aad (di mana kaum Hud dinisbatkan padanya) adalah kaum penyembah bulan dan ia (Syaddad bin Aad) termasuk orang yang diberikan panjang umur mencapai 1200 tahun, ia menikahi kurang lebih 1000 perempuan dan ia adalah penguasa dunia pertama setelah Nuh as[2]. Sepeninggalnya, kerajaannya diserahkan kepada putra sulungnya bernama Syadid bin Ad yang berkuasa selama 580 tahun. Kemudian digantikan oleh saudara Syaddad bin Ad, ia menguasai dunia dengan kekuatan dan keangkuhannya. Syaddad bin Ad inilah orang yang membangun Irama Dzatil Imad[3].

Setelah saudaranya Syaddid meninggal, Syaddad adalah satu-satunya raja yang menguasai kerajaan di dunia. Ketika membaca kitab-kitab yang terdahulu dan membaca sifat-sifat surga yang ada dalam kitab itu, ia berkata: “Aku akan membangun surga diatas bumi ini.”

Kemudian ia bermusyawarah bersama dengan para raja bawahan yang lain seraya berkata: “Aku ingin membangun surga sebagaimana surga yang telah di gambarkan oleh Allah didalam kitab-Nya.”

Para raja berkata: “Itu terserah padamu, dunia seluruhnya dalam kekuasaanmu.”[4]

Setelah bermusyawarah, ia memerintahkan para raja untuk mengumpulkan emas dan perak mulia dari Timur sampai Barat, mengumpulkan orang-orang, serta memilih 300 laki-laki dari mereka dan setiap orang memimpin 1000 orang laki-laki.

 

Inspirasi dari Taman Surga

kisah-syadad-bin-aad-1Diriwayatkan bahwa Syaddad bin Ad adalah termasuk seorang yang senang membaca kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para nabi. Setiap kali ia membaca tentang cerita taman surga, terbesit di hatinya untuk membangun taman sebagai replika dari taman surga. Ia kemudian memerintahkan para menterinya yang berjumah 1000 orang bersama dengan para arsitektur dan pekerja untuk mencari tanah yang luas, banyak sumber airnya dan sejuk suasanya. Akhirnya ditemukan tanah Adan, sekitar Yaman. Para pekerja dan arsitek lalu membuat pondasi persegi empat dengan lebar serta luasnya kira-kira sepuluh farsakh yang berhiaskan warna-warni batu pualam. Syaddad kemudian memerintahkan para menteri untuk mengumpulkan seluruh emas, perak dan macam-macam perhiasan lain yang dimiliki oleh orang-orang sedunia[5] termasuk minyak Misik dan Anbar -pada waktu itu Syaddad adalah penguasa kerajaan dunia- sampai pada akhirnya di dunia tidak ada seorang pun yang memiliki emas dan perak. Para penduduk beralih menggunakan kulit yang berstempelkan nama raja sebagai alat perdagangan sebagai ganti dari emas dan perak.

Mendengar berita tersebut, Syaddad memerintahkan kepada para menteri dan pejabatnya yang lain untuk memasang babut permadani, menata wadah-wadah makanan, minuman dan lainnya. Hal itu diselesaikan dalam jangka waktu 10 tahun.

Mereka semua berkeliling selama 10 tahun untuk mencari bumi indah yang didalamnya terdapat pohon-pohon dan sungai-sungai. Setelah menemukannya, mereka memulai membangun sebuah surga seluas 40 farsakh (kurang lebih 300.000 meter persegi). Bangunan tersebut terbuat dari bata yang bahannya dari emas dan perak. Setelah bangunan tersebut selesai, mereka mengalirkan sungai-sungai dan menanam pohon-pohon yang batangnya terbuat dari perak dan rantingnya dari emas.

Di samping itu, mereka juga membangun rumah-rumah yang terbuat dari mutiara merah, yaqut (jenis batu mulia), dan kristal putih, menggantungkan mutiara dan yaqut diatas ranting-ranting pohon, menaburkan minyak misik dan anbar diantara sungai dan pepohonan.

Pembangunan tersebut diselesaikan selama 300 tahun. Setelah semuanya selesai, mereka mengirim utusan kepada Syaddad untuk memberitahukan bahwa surga yang diinginkannya telah selesai dibangun.

Setelah semuanya selesai, Syaddad naik kendaraan bersama dengan para istrinya, dan para menterinya juga bersama dengan istri-istrinya serta para pengawalnya yang kesemuanya naik kendaraan yang bertempat duduk terdiri dari emas.

Ketika Syaddad dan semua pengawalnya sudah sampai didepan pintu kota Irom (surga yang dibangun), tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril utusan Allah untuk menemui Syaddad. Malaikat Jibril berkata: “Wahai Syaddad! Jika engkau mengakui Allah sebagai Tuhan Maha Tunggal, maka aku perkenankan kau masuk. Jika tidak, maka akan aku cabut nyawamu sekarang juga.”

Mendengar kata-kata itu Syaddad sangat marah dan bertambah-tambah kekufuran dan kedurhakaannya. Oleh karenanya, malaikat Jibril kemudian menggertak sehingga Syaddad dan semua pengikutnya mati tanpa terkecuali, begitu pula surga yang telah dibangun pun juga ikut binasa.

Selanjutnya para pekerja mendirikan tembok setinggi 500 dzira’ yang terbuat dari emas dan perak yang bercampurkan Misik, di dalamnya dibangun 1000 kamar dari emas dan perak yang berada di atas pondasi-pondasi dari Zabarjad dan Yaqut yang berhiaskan pepohonan dari emas dan perak. Para pekerja dan arsitek kemudian menghiasi kamar-kamar dengan perhiasan yang indah yang belum pernah ada sebelumnya. Di bawah kamar dialiri sungai-sungai dengan bebukitan Misik dan Za’faran di sampingnya. Proses pembangunan ini memakan waktu selama 300 tahun. Setelah semuanya selesai, Syaddad memerintahkan para menteri untuk memindahkan permadani terindah dan perabot-perabot terbaik ke dalam kota baru tersebut. Pemindahan ini menghabiskan waktu selama 20 tahun. Diriwayatkan usia Syaddad bin Ad mencapai sembilan ratus tahun.

Setelah semua proses pembangunan dan penghiasaan kota selesai, Syaddad kemudian menaiki tandu yang berhiaskan emas, perak, intan dan Yaqut dengan arak-arakan besar menuju ke kota impiannya. Ketika rombongan mendekati kota, Allah SWT menghendaki malaikat untuk menghancurkan mereka. Dengan sekali teriakan semua anggota rombongan mati tanpa seorangpun yang tersisa, hingga pada akhirnya tiada seorangpun yang memasuki kota surga tersebut dan sampai saat ini kota itu masih ada dalam rahasia Allah[6].

 

Tentang Irama Dzaatil Imad

Iram adalah kota megah yang dibangun oleh pemimpin Kaum Ad saat itu (Syaddad bin Ad) dan dijadikan sebagai ibu kota dari tempat domisili mereka. Menurut riwayat dari Al-Quradli (pendapat lain adalah Al-Qurthubi) dan Muhammad bin Ka’ab, Iram sekarang adalah Kota Iskandariyah. Menurut riwayat lain dari Al-Maqbari dan Said bin Musayyib mengatakan Iram adalah Kota Damsyiq (Damaskus). Adapun riwayat yang paling unggul, Iram adalah kota yang berada dekat Aadan atau berada di antara daerah Shan’a dan Hadramaut Yaman (tepatnya daerah Ahqaf yang berada di sebelah utara Hadramaut, sebelah utara Ahqaf berbatasan dengan ar-Rab’u al Khali, sebelah timur berbatasan dengan Oman).

Firman Allah:

 أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ ٦ إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ٧  ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٨

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ´Aad
  2. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
  3. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS. Al Fajr 6-8)

 

Ibnu Abi Hatim berkata, Ayahku bercerita kepadaku dari Abu Shalih sekretarisnya Abu Laits dari Muawiyah bin Shalih dari seorang perawi yang bersumber dari Miqdam dari Nabi SAW, sesungguhnya beliau menuturkan Irama Dzatil Imad, kemudian beliau berkata: Di antara mereka terdapat seorang laki-laki mendatangi batu besar yang sanggup ia pikul lalu melemparkannya kepada orang hidup yang menyebabkan kematian mereka.

Kemudian Ibnu Abi Hatim melanjutkan, bercerita kepada kami Ali bin Al Husain dari Abu Thahir dari Anas bin Iyad dari Tsaur bin Zaid ad-Daili, ia berkata: Aku membaca kitab – lalu ia menyebutkan namanya (dan didalamnya tertulis)- “Aku adalah Syaddad bin Ad, aku adalah orang yang mendirikan Imad, aku yang memperkuatnya dengan dzira’ku sekali pandang, aku yang memendam harta tambang sedalam tujuh dzira yang tidak akan bisa dikeluarkan kecuali oleh umatnya Muhammad SAW[7].

 

Dimasuki Seorang Muslim

Wahab bin Munabbih meriwayatkan dari Abdullah bin Qilabah, ia pernah keluar kota mencari untanya yang melarikan diri. Sesampainya ia di padang Aadan, ia melihat kota di balik sebuah tembok yang disampingnya terdapat banyak istana dengan keindahan sama persis dengan keterangan di atas. Sesampainya di Yaman, ia menceritakan apa yang pernah ia lihat. Kabar ini tersiar dan terdengar oleh Muawiyah, khalifah saat itu. Kemudian Muawiyah memanggil Abdullah bin Qilabah dan mengajaknya ke tempat Ka’bul Akhbar, ia bercerita: Pada masamu akan ada seorang lelaki muslim akan memasukinya, ia berkulit merah, berambut blonde (merah kekuning-kuningan), bertubuh pendek, di atas alisnya terdapat tahi lalat, begitu pula di atas punggungnya, ia keluar untk mencari untanya yang hilang. Kemudian Ka’bul Akhbar menoleh dan melihat Abdullah bin Qilabah, ia kemudian berkata: laki-laki ini, demi Allah, dia adalah orang itu[8].

 

Pesan dari kisah Syaddad bin Aad

Aku adalah Syaddad bin ‘Aad, aku hidup 1000 tahun, aku mengalahkan musuh dalam peperangan 1000 kali, aku menikahi 1000 gadis, aku mempunyai 1000 anak laki-laki, dan aku telah membangun kota Irom yang mempunyai tiang-tiang kokoh.”

“Ketika aku akan mati, aku berusaha untuk menghindari kematian dengan usaha yang maksimal. Aku mengumpulkan beberapa dokter dari seluruh bumi wilayah kekuasaanku agar dapat mencegah kematianku. Ternyata semua dokter itu tidak mampu mencegahnya. Oleh karena itu, barang siapa yang melihatku, janganlah tertipu dengan dunia.”

“Wahai manusia, anggaplah dunia itu remeh dan hina bagimu, karena kamu sekalian tidak akan mampu memiliki kekayaan yang lebih banyak daripada yang aku miliki, tidak akan mampu memiliki usia yang lebih panjang daripada usiaku, tidak akan mampu mengumpulkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang aku kumpulkan, dan tidak akan mempunyai anak yang lebih banyak daripada anak-anakku.”

“Ingatlah…! Bahwa sesungguhnya dunia itu adalah penipu, pembunuh, dan pembuat permainan pada orang-orang yang memilikinya.”

 

Referensi

Buku 101 Cerita, Judul: Surga Dunia yang Dibinasakan (Syaddad bin Aad)

Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman; diterjemahkan oleh Abdul Halim, Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, Oktober 2002

http://www.arifsetiawan.info/2016/04/surga-dunia-yang-dibinasakan-syaddad-bin-ad.html

http://majalahlangitan.com/iram-surga-dunia-yang-hilang/https://sainstory.wordpress.com/2011/08/27/kisah-sepanjang-zaman-bag-7-syadad-bin-%E2%80%98ad/

_________________________

[1] Nasab Syaddad ialah Syaddad bin Aad bin ‘Aush bin Irom bin Syam bin Nuh ‘alaihissalam

[2] Syaddad beristri 1000 wanita dan memiliki 4000 anak serta berumur 1000 tahun

[3] Umdatul Qari [23]: 162

[4] Tidak ada raja yang menguasai dunia kecuali 4 orang; 2 orang mu’min dan 2 orang kafir. Dua orang yang mu’min yaitu: Raja Sulaiman bin Daud dan Raja Dzulqarnain. Sedangkan dua orang yang kafir itu: Raja Syaddad bin Aad dan Namrud bin Kan’an

[5] Para raja bawahan dan balatentara yang diperintah Syaddad mendapatkan emas dan perak dengan cara yang dzalim. Semua emas dan perak telah habis dirampas oleh mereka, tinggal dua dirham yang berada di leher anak yatim dan mereka pun merampasnya. Anak tersebut mengangkat wajahnya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, Engkau mengerti dengan apa yang telah diperbuat oleh orang-orang dzalim ini terhadap hamba dan umat-Mu. Tolonglah aku, wahai Dzat yang banyak memberikan pertolongan kepada orang-orang yang minta tolong.” Dan malaikat langit mengamini do’anya. Karena itu Allah mengutus Malaikat Jibril datang menemui Syaddad langsung dan akhirnya menggertak sehingga Syaddad dan semua pengawalnya mati dan surga yang dibuatnya pun juga hancur.

[6] Tafsir Al Alusi 22 hal 435, Tafsir Al Khozin 5 hal 259, An Nawadir 187

[7] Tafsir Ibnu Katsir [8]: 295, Tafsir Al Lubab li Ibni Adil [16]: 333

[8] Tafsir Al-Alusi [22]: 435, Tafsir Al-Khazin [5]: 259, Al-Kasyyaf [7]: 285

Hadits tentang Shaum Tasua Asyuro

Bismillahirrahmaanirrahiem. Kali ini kami akan menginformasikan mengenai hadits tentang shaum tasua asyuro. Shaum tasua asyuro merupakan salah satu Sunnah Rasulullah SAW yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram pada kalendar hijriyah setiap tahunnya.

Hadits Anjuran Shaum Tasua Asyuro

Dalam al-Maushu’ah Al-fiqhiyah[1] dijelaskan bahwa at-Tasu’a berasal dari kata tis’ah (9) yaitu al-yaum at-taasi’ (اليوم التاسع hari kesembilan) dan ‘asyura’ berasal dari kata ‘asyrah (10) yaitu al-Yaum al- ‘asyir (اليوم العاشر hari kesepuluh) dari bulan Muharram[2]. Shaum dua hari di bulan Muharam ini yakni tanggal 9 dan 10 adalah shaum yang hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan hadis shohih riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas ra[3]:

عن ابن عبّاس قال : » حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءِ وأمر بِصِيَامِهِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ : إِنَّهُ يَوْمَ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِذَا كَانَ الْعَامُ القَابِلَ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْتُ الْيَوْمَ التَّاسِعْ ، فَلَمْ يَأْتِ الْعَامَ الْمُقْبَلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «.

Dari ibnu Abbas, ia berkata: ketika Rasulullah SAW Shaum pada hari asyuro dan memerintahkan untuk shaum (pada hari tersebut), maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut (asyuro) diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah SAW menjawab: “Apabila datang kesempatan pada tahun yang akan datang – In-Sya Allah – aku akan shaum pada hari kesembilannya, namun tidak sempat datang tahun depan sehingga Rasulullah SAW meninggal dunia (sebelum melaksanakannya).

Keterangan Hadits

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) shaum pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) shaum juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah shaum pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Rasulullah SAW mengatakan akan shaum pada hari sebelum Asyuro dalam rangka membedakan dengan orang-orang Yahudi, karena hari Asyuro – yaitu 10 Muharram – adalah hari dimana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi shaum pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi SAW tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi shaum pada hari ‘Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami shaum sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah SAW berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah SAW adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau SAW shaum Asyuro dan memerintahkan manusia untuk shaum pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya shaum pada hari Asyuro, dengan shaum pada hari kesembilan.

Kesimpulan

  1. Shaum tasua asyuro merupakan Sunnah yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim
  2. Awal mula shaum ini ditetapkan tanggal 10, namun untuk membedakan dengan Yahudi yang turut melaksanaknnya pada saat itu, maka Rasulullah meminta izin Allah untuk menambah satu hari sebelumnya (tasua), dan Allah mengabulkannya.
  3. Jadi penamaan shaum tasua asyuro ini didasarkan pada nomor Bahasa arab sesuai penanggalan hijriyyah pada bulan muharram setiap tahunnya.

Sumber:

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/keutamaan-bershaum -pada-hari-asyura-dan-tasua-revisi/

https://www.arrahmah.com/read/2011/12/04/16664-kapan-shaum-shaum-tasue28099a-e28098asyura.html

https://syukrillah.wordpress.com/2010/08/28/shaum -tasu%E2%80%99a-dan-asyura/

Maktabah Syamilah

Al-Quranul-Kariim

[1] Lihat Maushu’ah Al-fiqhiyah 2/3641 (al-Maktabah al-Syamilah) yang diterbitkan oleh Departemen Waqf dan urusan Islam Kuwait

[2] Lihat pula dalam kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’I, seperti; I’anat al-Tholibin 2/301, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz atau disebut pula Syarh al-Kabir oleh al-Imam al-Rofi’i (w. 623 H, ulama besar Madzhab Syafi’i) 6/469, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam al-Nawawi (w.676 H) 6/382, Asna al-Matholib 5/387 oleh Abu Yahya Zakariya al-Anshori as-Syafi’I. (Juz dan halaman dalam kitab-kitab ini mengikuti al-Maktabah al-Syamilah)

[3] Hadits yang pertama telah dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shaum no hadits 2003, Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam no hadits 128, serta Abu Dawud dalam Ash-Shaum no hadits 2444.