Goresan Tinta

Kemana sayangmu dituju

0 19

Setiap manusia memiliki rasa ketertarikan terhadap suatu hal; baik itu terhadap benda ataupun mahluk hidup lainnya. Ketertarikan tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi setiap pribadi akan tujuan yang dicita-citakannya. Bila ketertarikan dan keinginan untuk memilikinya kuat, maka motivasi untuk merainya pun ikut kuat, pun sebaliknya.

Namun tak jarang yang lupa, bahwa ketertarikan itu tidak hanya bisa dituju untuk mahluk (ciptaan, creation) saja, ia bisa juga ditujukan kepada sang pencipta (creator). Dengan rasa ketertarikan kepada sang pencipta, maka muncul ketertarikan akan berbagai ciptaannya untuk dijaga, dipelihara, bahkan dibudidaya.

Contoh kecil, bila kita suka dengan kue bolu – yang mana merupakan sebuah “creation”, maka kita akan berusaha untuk terus bisa mendapatkan kue bolu bagaimanapun caranya. Lain halnya bila kita tertarik dengan dunia tataboga (chef) sebagai “creator”, maka secara otomatis kita akan tertarik pula dengan berbagai hidangan lainnya, tidak hanya kue bolu saja. Tentunya ini menguntungkan, disatu sisi kita bisa menikmati terus kue bolu tanpa harus membeli langsung, disisi lain kita bisa mencicipi jenis makanan lain yang mungkin menambah ketertarikan kita terhadap kue lainnya.

Maka, kemana sayangmu dituju?

Bila kita tertarik untuk mengenal rasa cinta; sebagai ciptaan sang pencipta kepada mahluknya (lawan jenis), maka kita akan mendapatkan rasa tersebut melalui pasangan kita nanti. Namun bila hal tersebut tidak terealisasi, apa yang akan terjadi? Tentu saja kita akan kecewa. Kita akan merasa disakiti, dikhianati, dicaci, dan lainnya. Namun bila kita tertarik mengenal sang pencipta, maha Cinta, maka seluruh ciptaan-Nya bisa mendekat dan menghampiri kita bahkan tanpa kita minta.

Allah yang membulak-balikkan hati, Allah yang memberikan rasa kasih kepada ciptaannya. Maka bagaimana mungkin Allah akan mengabaikan hati seorang muslim yang tulus mencintai-Nya untuk dikhianati oleh ciptannya sendiri? Pastilah Allah akan menjaganya, akan menjaga kita.

Maka, kemana sayangmu dituju?

Tapi tunggu dulu. Dibalik keindahan akan rasa cinta, disana terdapat rasa benci yang selalu membayangi. Terlalu banyak rasa cinta, maka mendekatkan dengan kebencian tak terkira. Rasa cinta yang tersalurkan akan dengan mulus mengalir dengan baik, namun bila cinta terhambat dan terhenti, maka kebencianlah yang akan muncul dan membara.

Cinta sebagai representasi positif, dan benci merupakan nilai negatif; merupakan sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kita harus hidup dengan cinta, namun jangan pernah mengabaikan benci. Jangan berfikir banyak memiliki cinta, kita menghapus kebencian dalam diri, tidak sama sekali.

Pada akhirnya kita harus sadar, mengapa Allah membiarkan iblis (syetan) tetap berkeliaran didunia ini untuk menguji hamba-Nya yang taat akan agama-Nya. Bukan berarti Allah jahat karena membiarkannya, tapi Allah ingin memberikan manusia berbagai pilihan menarik yang tentu membuat manusia menjadi lebih mandiri dan mendalami akan keindahan berislam.

Apa jadinya bila Allah hanya menciptakan surga? Apakah kita akan takut berbuat dosa? Masih bisakah kita tunduk patuh terhadap aturannya?

Atau bila Allah hanya menciptakan neraka? Apakah ada motivasi diri untuk terus berbenah memperbaiki sikap ini? Masih bisakah kita hidup tanpa ada harapan bahagia kelak?

Tentunya dengan rasa cinta yang kita miliki, rasa keingin-tahuan yang tinggi, menjadikan kita insan yang terus belajar dan semakin mencari hal yang terbaik untuk dijalani. Kita harus bisa mendekati hal-hal yang menarik rasa cinta kedalam nilai positif agama. Jangan dekati hal-hal yang kita cintai, namun mendorong kita kedalam nilai negatif. Karena banyak hal yang kita cintai ini menjurus kedalam lubang kesengsaraan.

Cintailah sesuatu bukan karna kita suka, tapi cintai sesuatu karena Allah ridho padanya. Cinta yang berasalkan keridhoan Allah bersumber dari hati dikuatkan dengan firman Illahi. Bila cinta hanya sebatas fikiran dan insting, maka naluri hewan akan tumbuh kuat dalan jiwa manusia. Manusia adalah mahluk unik, dengan bentuk sempurna, bahkan naluri hewan pun bisa ia cerna.

Maka, kemana sayangmu dituju?

Bila kamu tak pernah tahu apa yang Allah ridhoi dan mana yang Allah murkai. Bila kamu tak pernah sadar mana yang Allah sukai dan mana yang Allah benci.

Kebencianmu belum tentu buruk untukmu, bila itu terkait nafsu. Kesenanganmu belum tentu baik untukmu, bila itu berkutat dengan akal palsu.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe us

Silahkan masukkan email anda untuk berlangganan tulisan terbaru dari website ini.