Kisah Inspiratif

Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Pertama

0 111

Al-Quran merupakan wahyu Illahi yang diturunkan kepada umat Islam, secara garis besar pokok-pokok kandungannya terdiri dari aqidah, ibadah, akhlak, hukum, peringatan, dorongan untuk berfikir dan sejarah/kisah. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang kisah nabi hud dan kaum aad.

Penyebutan kaum Aad dan negerinya, Iram di dua surat dalam al-Qur’an, salah satunya dengan nama Nabi mereka yaitu Hud ’alaihissalam, dan yang kedua dengan nama tempat tinggal mereka yaitu al-Ahqaaf, dan di dalam puluhan ayat al-Qur’an yang terdapat dalam 18 surat dalam al-Qur’an. Dan penyebutan kaum Aad dalam al-Qur’an terhitung sebagai kisah yang paling banyak diceritakan dibandingkan dengan kisah ummat-ummat yang lain yang dibinasakan, sebagai bentuk keajaiban dalam al-Qur’an. Hal itu karena kaum ini (Aad) telah dibinasakan secara total dengan angin hitam pekat serta dingin yang tidak sewajarnya. Angin tersebut juga mengandung pasir-pasir yang mengubur dan menutup peninggalan-peninggalan mereka, hingga tersembunyi (tertutup) semua peninggalan mereka dari muka Bumi.

Setelah nabi Nuh dan kaum yang beriman diselamatkan dari banjir terbesar sepanjang sejarah yang menimpa pada saat itu, maka kaum Nuh tersebut menurunkan satu kaum baru yang disebut kaum ‘Ad. Apabila ditarik garis keturunan, kaum Aad merupakan generasi ke delapan setelah nabi Nuh.

Dikisahkan bahwa kaum aad merupakan kabilah yang hidup di wilayah “hadratulmaut”, tempat yang terletak di Yaman yang dekat dengan laut. Wilayah tersebut dipenuhi dengan bangunan dengan pasak tiang yang menjulang tinggi sebagaimana firman Allah:

 أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ ٦ إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ ٧  ٱلَّتِي لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٨

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ´Aad
  2. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
  3. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS. Al Fajr 6-8)

 

Di dalam tafsir mengenai kaum Aad, sejumlah ulama ahli tafsir, ahli Geografi, ahli sejarah dan ahli nasab (silsilah keturunan) muslim seperti ath-Thabari, as-Suyuthi, al-Qozwaini, al-Hamdani, Yaqut al-Hamawi dan al-Mas’udi bersemangat untuk mengungkap tentang hakekat mereka. Mereka (para ulama di atas) menyebutkan bahwa kaum Aad termasuk al-Arab al-Baa’idah (Arab yang telah musnah). Dan mereka (al-Arab al-Baa’idah) dianggap mencakup banyak kaum yang telah musnah ratusan tahun sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka kaum Aad, Tsamud, al-Wabar, dan selain mereka masih banyak lagi[1].

Dan mereka (para ulama di atas) mengetahui dari ayat-ayat al-Qur’an bahwa tempat tinggal kaum Aad adalah di Ahqaaf (احقاف) jamak dari kata Haqf (حقف) yang berarti pasir yang miring. Ahqaaf adalah salah satu daerah ar-Rab’u al-Khali dengan Hadhramaut di sebelah selatannya, ar-Rab’u al-Khali di selatannya dan dengan Oman di sebelah timurnya, dan dia sekarang adalah daerah Zhaafar.

Adapun tentang kaum Iram pemilik bangunan tinggi itu, maka al-Hamadani (wafat tahun 334H/946M) dan Yaqut al-Hamawi (wafat tahun 627H/1229M) menyebutkan bahwa bangunan tinggi mereka yang dahulu adalah hasil bangunan Syaddad bin Aad dan telah hilang musnah (tertimbun pasir), dan ia tidak diketahui sekarang, walaupun beredar di cerita-cerita tentangnya.

Baca Surga Dunia yang Dibinasakan (Syaddad bin Aad)

 

Sekilas Mengenai Nabi Hud ‘Alaihissalam dan Kaum Aad

Beliau bernama Hud bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalam. Dikatakan juga bahwa beliau adalah Abir bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Atau ada juga yang menyebut beliau dengan Hud bin ‘Abdullah bin Rabbah bin Al-Jarud bin ‘Aad bin Aus bin Irm bin Sam bin Nuh. Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Jarir[2].

kaum-aad-3Nabi Hud diutus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada kaum Aad yang saat itu tengah melakukan kemusyrikan dengan menyembah berhala. Sebagian ulama dan ahli sejarah mengatakan Nabi Hud ‘Alaihissalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa ayahnya Nabi Hud yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Sebagian mereka berkata bahwa Nuh-lah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab, sementara yang lainnya berkata bahwa ia adalah Adam. Allahu a’lam.

Kaum ini tinggal di sebuah daerah yang bernama “Hadratulmaut“. Di daerah ini mereka melakukan aktivitasnya sebagai petani. Sehingga tanah yang dianugerahkan Allah kepadanya diolah dan menghasilkan buah-buahan serta gandum. Bisa dikatakan kaum ‘Ad tidak kekurangan apapun dalam hidupnya.

Meskipun demikian, mereka (kaum Aad) tidak menyadari bahwa yang membuatnya kaya raya itu sesungguhnya Allah semata. Mereka menganggap bahwa kekayaan itu didapatnya dari kerja kerasnya. Hal ini tentu sudah menyimpang dari ajaran agama.

Karena kekayaan mereka yang melimpah sehingga semua yang dia inginkan dapat dibeli. Selain itu bangsa Aad sangat pandai membuat bangunan seperti benteng untuk menahan serangan kaum lain. Dalam benteng tersebut mereka mendirikan bangunan bertingkat sehingga semua kegiatan di luar benteng dapat diketahui.

Di samping itu, mereka juga mempunyai siasat perang yang jitu. sehingga musuh-musuhnya merasa ketakutan dan takluk sebelum berperang. Hal ini disebabkan oleh kejamnya kaum aad kepada musuhnya. Kekejaman inilah yang membuat musuh takut karena yang demikian itulah mereka semakin sombong dan setiap peperangan mereka selalu mengalahkannya sebelum berperang.

 

Nabi Hud ‘Alaihissalam Diutus Allah kepada Kaum Aad

Kaum Aad adalah kaum yang durhaka kepada Allah Ta’ala yang menyembah berhala. Berhala mereka ada tiga yaitu Shad, Shamuda, Hara. Oleh karena itu, Allah Ta’ala utus saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam untuk mengembalikan mereka kepada aqidah tauhid yang bersih dari syirik. Karena akhlak dan aqidah kaum aad yang demikian menyimpang parah, nabi Hud merasa prihatin. Beliau sangat khawatir bahwa Allah akan mengirim azab kepada mereka sebagaimana yang diturunkan kepada kaum nabi Nuh. Untuk itu ia mengajak pada segenap kaum Aad agar menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala serta kelakuan jahat lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

۞وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٦٥

  1. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ´Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? [QS Al-A’raaf: 65].

Mendengar apa yang nabi Hud katakan kepada mereka, mereka menyangkal; “Mengapa kamu menyuruh kami meninggalkan tuhan-tuhan yang telah disembah nenek moyang kita dan diturunkan kepada kita. Dan tadi kau mengatakan bahwa hanya Tuhanmu yang dapat mematikan dan menghidupkan makhluk. Aku tidak percaya dengan ocehanmu itu. Sebab aku juga bisa membunuh”, sangkal kaum aad yang merasa terhina dengan ucapan nabi Hud.

Nabi hud menceritakan kembali bahwa apa yang terjadi kepada nenek moyangnya (kaum Nuh) ketika mereka kufur terhadap Allah. Namun tetap saja mereka ingkar dan malah menghina nabi Hud sebagai pendusta. Mereka adalah bangsa Arab yang keras tabiat, kafir, angkuh dan menyembah berhala. Kemudian Nabi Hud menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah Azza wa Jalla, mengesakanNya dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas kepadaNya, namun mereka mendustakan beliau, menentangnya dan mengejeknya. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٦٦

  1. Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta” [QS Al-A’raaf: 66]

Maksudnya adalah perkara yang beliau serukan kepada kaumnya untuk diikuti adalah sebuah kedustaan terhadap kegiatan penyembahan berhala yang telah berlangsung ini yang mana kaum yang durhaka tersebut mengharapkan kemenangan, rizki hanya dari berhala-berhala tersebut.

 

Kaum Aad Meminta Disegerakan Adzab

Apa yang terjadi pada kaum Nuh pun berulang pada kaum Aad, mereka meminta disegerakan adzab karena mereka mendustakan bahwa Nabi Hud adalah utusan Allah, mereka tidak mempercayai bahwa adzab itu adalah haq karena mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka menyangka Nabi Hud adalah seorang pendusta padahal sebaliknya, merekalah yang pendusta. Mereka berkata, seperti difirmankan Allah:

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٧٠

  1. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”[QS Al-A’raaf: 70]

Kaum Aad berkata kepada Nabi Hud:

قَالُواْ يَٰهُودُ مَا جِئۡتَنَا بِبَيِّنَةٖ وَمَا نَحۡنُ بِتَارِكِيٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوۡلِكَ وَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ٥٣ إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعۡتَرَىٰكَ بَعۡضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٖۗ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ٥٤ مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ ٥٥

  1. Kaum Aad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu
  2. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan
  3. dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” [QS Hud: 53-55]

Ini merupakan tantangan balik dari Nabi Hud untuk kaumnya dan pernyataan bara’ (berlepas diri) dari sesembahan mereka, dan menjelaskan kepada kaumnya bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat, mereka adalah benda-benda mati yang tak berdaya apa-apa.

Setelah peringatan-peringatan yang diberikan nabi Hud tidak dihiraukan kaum Aad sama sekali, semua keputusan diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Meskipun demikian beliau tak bosan menyeru pada kaum aad untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala sebagai tuhan mereka.

Namun mereka semakin berbuat kerusakan di muka bumi. Setiap kali mendapat peringatan nabi Hud, mereka malah berbuat sombong dan durhaka. Bahkan mereka tetap menolak untuk mengakui bahwa Hud merupakan utusan Allah.

Di tengah-tengah bejatnya moral yang sudah memuncak ini nabi Hud berdoa: “Ya Allah, sekiranya Engkau membuat mereka jera dengan adanya kemarau panjang kemungkinan besar mereka percaya ajaranku“. Doa tersebut nabi Hud panjatkan di tengah malam. Sebab beliau mengira bahwa dengan adanya musim kemarau panjang berarti harta mereka akan ludes dan dapat insyaf kembali. Tuhan Maha Mendengar sehingga permintaan utusan-Nya dikabulkan.

[1] Shahih Ibnu Hibban 361

[2] Tarikh Ath-Thabari 1/133

 

In-Sya Allah Bersambung

Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Kedua (Tamat)

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe us

Silahkan masukkan email anda untuk berlangganan tulisan terbaru dari website ini.