Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Kedua Tamat

Baca dulu Kisah Nabi Hud dan kaum Aad – Bagian Pertama

Tahap pertama; kemarau panjang

Ibnu Katsir berkata, Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika kaum Aad meminta disegerakan adzab, Allah Ta’ala memulai dengan menahan hujan selama beberapa tahun. Kemarau yang merupakan azab Allah bagi kaum aad rasanya tiada berkesudahan. Terik matahari yang membakar bumi tidak dapat menghidupkan tanaman, sehingga sumber penghasilan kaum aad sudah tidak ada lagi. Musim kemarau ini sungguh dahsyat sebab semua harta yang telah dikumpulkan kaum aad sedikit demi sedikit mulai terkikis. Hal ini disebabkan untuk menutup kebutuhan sehari-harinya sehingga lama-kelamaan harta tersebut habis.

Di saat demikian nabi Hud tetap berdakwah dan tetap mengajak kaum aad untuk meminta pertolongan kepada Allah. Beliau tidak merasa bosan dan putus asa meskipun mendapat rintangan dalam dakwahnya. Dalam hatinya, beliau bersyukur kepada Allah benar-benar menurunkan peringatan berupa kemarau panjang ini.

Melihat dan merasakan kemarau seperti itu, pemimpin mereka Mu’awiyyah bin Bakr mengutus delegasi berjumlah sekitar 70 orang untuk mengambil air. Kemudian mereka melewati Mu’awiyyah di daerah Makkah, lalu mereka singgah selama sebulan di tempatnya untuk meminum khamr dan memberikannya pada Mu’awiyyah. Setelah itu mereka pergi ke Haram yang disana terdapat beberapa berhala yang sebelumnya dijadikan untuk meminta pertolongan dan meminta keselamatan. Begitulah ritual persembahan yang mereka lakukan untuk menangkal bencara kemarau panjang tadi.

 

Tahap kedua; angin dahsyat hitam pekat dan dingin

Menurut sejarah, kemarau pada saat itu tidak ada setetes embun yang jatuh. Hal ini membuat semua sumber air tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Waktu itu bumi betul-betul kering dan tandus.

Setelah selesai mengunjungi Mu’awiyyah, maka mereka segera beranjak ke Al-Haram dan berdoa untuk kaumnya. Kemudian salah seorang pemuka agama yang bernama Qail bin Anaz berdo’a untuk mereka. Maka Allah mengirimkan 3 awan yaitu putih, merah, hitam kemudian mereka diseru dari langit, “Pilihlah untukmu dan kaummu dari awan ini. Qail menjawab, “Aku memilih yang berwarna hitam.” Qail menyangka bahwa awan hitam adalah awan yang membawa hujan untuk mereka.

Kemudian Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum Aad, hingga awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan Al-Mughits. Penduduk kaum Aad melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata, “Inilah hujan untuk kami!”. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢٤ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۢ بِأَمۡرِ رَبِّهَا فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٢٥

  1. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih
  2. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa [QS Al-Ahqaf: 24-25]

Orang pertama dari kaum Aad yang melihat kalau awan itu adalah angin yang menghancurkan adalah seorang wanita bernama Mahd. Ketika dia melihatnya, dia pun berteriak dan jatuh pingsan. Ketika siuman, sebagian kaumnya bertanya kepadanya, “Apa yang kau lihat wahai Mahd?” Dia menjawab, “Aku melihat awan hitam bagai meteor dari neraka, di depannya ada seorang lelaki yang menuntunnya![1]

Suatu malam nabi Hud didatangi malaikat yang memberi tahu bahwa sebentar lagi azab Allah akan datang. Malaikat itu berpesan pada nabi Hud agar segera meninggalkan perkampungannya bersama pengikutnya.

Malam itu juga nabi Hud mengumpulkan orang-orang beriman dan mengajak pergi dari perkampungan. Mereka menuju ke Hadratul Makkah. Malam semakin larut dan nabi Hud bersama pengikutnya sudah jauh meninggalkan wilayahnya, maka datanglah angin topan berwarna hitam pekat tersebut. Angin ini berhawa dingin dan menerjang wilayah Ad. Ternak-ternak kaum aad bergelimpangan. Begitu pula bangunan yang dibanggakan selama ini.

Setelah itu orang-orang yang menentang ajaran nabi Hud di hancurkan juga. Di saat itulah mereka sadar bahwa ajaran dan ancaman nabi Hud telah terbukti. Mereka menyebut-nyebut nama Hud dan memanggilnya. Namun penyesalan tinggal penyesalan sebab nabi Hud sudah berada di daerah yang jauh dan Allah tidak menerima penyesalan mereka lagi.

Lalu Allah Ta’ala menggerakkan awan hitam tersebut 7 malam 8 hari berturut-turut mengepung mereka[2]. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di dalam desa kaum Aad, sementara Nabiyullah Hud ‘Alaihissalam dan orang-orang yang telah beriman terlebih dahulu sudah pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari adzab dan siksa Allah yang pedih. Firman Allah Ta’ala:

وَأَمَّا عَادٞ فَأُهۡلِكُواْ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ ٦ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ ٧

  1. Adapun kaum ´Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang
  2. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ´Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk) [QS Al-Haqqah: 6-7].

Allah menyerupakan kaum itu dengan tunggul pohon kurma yang tidak memiliki kepala karena angin waktu itu mendatangi mereka dan mengangkat mereka ke atas dengan kencangnya lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa hanya jasad tanpa kepala. Beberapa dari mereka ada yang mengungsi ke gua-gua dan gunung-gunung karena rumah-rumah mereka telah hancur. Kemudian Allah mengutus angin Al-Aqim, yaitu angin panas yang disertai nyala api di belakangnya. Kaum Aad yang tersisa menyangka angin inilah yang akan menyelamatkan mereka. Padahal angin ini justru mengumpulkan mereka semua dalam pusaran hawa dingin dan panas yang sangat membinasakan. Inilah adzab angin terdahsyat dalam sejarah yang pernah terjadi di muka bumi disertai dengan teriakan-teriakan yang amat memilukan dari kaum Aad. Inilah adzab yang mereka meminta-minta untuk disegerakan kedatangannya. Na’udzubillahi min dzaalik. Itulah rangkuman kisah kaum Aad dan adzab yang menimpanya.

 

Kesimpulan

Sungguh hebat azab Allah sehingga membinasakan seluruh wilayah negeri dari kaum Aad. Mengingat hal ini maka nabi Hud dan semua pengikutnya yang beriman tidak lagi menempatinya melainkan pergi ke negeri yang baru, yaitu Hadramaut Makkah. Di sana beliau menyebarkan ajarannya dan bertambah banyak pula pengikutnya. Di sana pula beliau wafat dan dimakamkan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Hud dimakamkan di negeri Yaman, ini dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalib. Riwayat lain menyebutkan kuburannya berada di Damaskus, di masjidnya terdapat tempat yang banyak dikira orang-orang bahwa itu merupakan makam Nabi Hud ‘Alahissalam. Allahu a’lamu bishawab.

 

Hikmah yang bisa diambil

Dari kisah tersebut setidaknya kita bisa mengambil hikmah berupa:

  1. Al-Quran mengisahkan berbagai kisah yang bisa kita ambil pelajaran didalamnya tidak terikat ruang dan waktu. Walaupun kisah itu sudah terjadi dan terjadi di jazirah arab sana, namun kita umat Muslim di Indonesia bisa mengambil hikmahnya sampai saat ini.
  2. Kaum aad merupakan kaum yang diberikan karunia oleh Allah dengan kesempurnaan hidup berupa ladang pertanian yang subur, kekayaan yang melimpah, fisik yang kuat, kecerdasan yang tinggi; sehingga bisa membuat rumah dengan tiang-tiang menjulang tinggi. Namun semua karunia itu tidak diimani oleh mereka dan malah musyrik kepada Allah.
  3. Segala yang kita miliki di dunia hanyalah sementara. Kehidupan dunia ini jangan dijadikan prioritas sehingga menomor-duakan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.
  4. Teruslah menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah dan selalu mengingat akan semua pemberian-Nya (titipan). Apalah artinya bahagia di dunia, tapi di akhirat menderita/merugi.
  5. Semoga kita terjauh dari golongan orang yang kafir akan nikmat-Nya dan selalu bersyukur atas segala karunia yang dimiliki sekarang.

 

Sumber

  • Al-Quranul Kariim
  • Maktabah Syamilah
  • https://kisahmuslim.com/470-iram-negeri-kaum-aad-yang-dibinasakan.html
  • http://sejarahkisahnabi.blogspot.co.id/2013/11/kisah-nabi-hud-as-bag-pertama.html
  • http://sejarahkisahnabi.blogspot.co.id/2013/11/kisah-nabi-hud-as-bag-kedua.html
  • https://muhandisun.wordpress.com/2013/01/24/kisah-nabi-hud-alaihissalaam-dan-kaum-aad/
  • https://kisahmuslim.com/470-iram-negeri-kaum-aad-yang-dibinasakan.html

 

[1] Kisah serupa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya [no. 15524 dengan sanad hasan] dari hadits Al-Harits bin Yazid Al-Bakri mengenai seorang wanita tua dari Bani Tamim.

[2] Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas serta lebih dari satu imam para tabi’in berkata, Angin tersebut dingin dan sangat kencang. [Jami’ul Bayan Ath-Thabari 24/102]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *