Goresan Tinta

Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi

0 63

Menanggapi 5 bulan pasca pelantikan Jokowi sebagai presiden, kali ini saya ingin menulis sebuah Catatan Kecil Rapor Rezim Jokowi yang mungkin bisa bermanfaat untuk pembaca.

Rezim JOKOWI lebih parah dari ORBA terhadap ISLAM.

Jokowi merupakan sosok pemimpin yang terlahir dari peran besar media sekuler dukungan asing. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah momok terhadap rakyat Indonesia yang notabene Muslim. Sebagai contoh adalah ketika ia menjabat sebagai walikota Solo dan menggandeng wakil walikota yang berasal dari golongan kafir bernama FX Hadi Rudyatmo. Lalu Jokowi mencalonkan menjadi Gubernur DKI dan berhasil menyematkan status Gubernur DKI dengan meninggalkan Solo dipimpin orang kafir untuk pertama kali.

Begitu pula nasibnya dengan DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia ini juga memiliki masyarakat mayoritas Islam dan belum pernah dipimpin oleh orang kafir sebelumnya. Namun hal ini berbeda ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, dan meninggalkan Jakarta dipimpin oleh keturunan Tionghoa, yakni Basuku Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Sungguh catatan miris terhadap Muslim Indonesia. Ketika dua daerah berbeda yang sebelumnya tidak pernah dipimpin kafir, namun kini Jokowi memecahkan rekor tersebut dengan “keserakahan” kekuasaannya.

Langkah keberhasilannya merebut hati rakyat memang menggunakan cara unik dan terbilang jarang digunakan kandidat lain. Ketika masa-masa kampanye dulu, Jokowi dan timses (tim sukses) menggembor-gemborkan prestasi yang bersifat temporer (sementara) semata. Kita ingat pada tahun 2009 dengan mobil Esemka yang berasal dari “tangan karya modus” walikota Solo menghipnotis Indonesia akan sosok pemimpin inspiratif yang betul-betul mengedepankan produksi dalam negeri. Namun apa kabar Esemka saat ini? Entah kemana kabarnya mobil tersebut yang hingga saat ini belum lagi menghiasi pemberitaan media. Dan hebatnya lagi, sejak saat itu Jokowi mendapat gelar walikota terbaik di dunia berdasarkan majalah New York Times. Sebuah majalah milik Amerika yang notabene kaum sekular dan penyokong utama Jokowi untuk tembus mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI.

Kita juga pasti masih ingat dengan gerakan “blusukan” yang sangat populer ketika Jokowi sibuk mencalonkan menjadi Presiden RI yang ternyata berhasil menjadi “icon” perjuangan bagi “wong cilik” karena ia begitu dekat dengan rakyat. Timses Jokowi ini memang cerdas dalam membuat isu publik yang tengah dibutuhkan masyarakat. Sosok yang selama ini memang diidam-idamkan menjadi pemimpin yang tidak hanya untuk DKI tapi seluruh Indonesia. Terbukti, dengan gerakan ini Jokowi berhasil memenangkan Pilpres 2014 lalu.

Bahkan ketika ia menjabat menjadi presiden RI, ia tetap menggunakan trik blusukan ini untuk menjaga image “pembela wong cilik” supaya tidak muncul istilah “kacang lupa pada kulitnya”. Ketika duduk di kursi presiden, Jokowi tetap bisa dekat dengan rakyat.

Setelahnya ia terpilih jadi presiden dengan menggandeng politisi senior yang tempo lalu di pilpres 2009 “gagal” adalah Jusuf Kalla (JK), Jokowi juga menggandeng beberapa nama dalam Kabinet Indonesia Kerja orang-orang dari golongan kafir, mereka adalah:

  1. Kepala staf kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan (Kristen Protestan)
  2. Kepala tim ahli wakil presiden, Sofyan Wanandi (alias Liem Bian Koen – Katolik)
  3. Sekretaris kabinet, Andi Wijayanto (Kristen Protestan)
  4. Anggota dewan pertimbangan presiden, Rusdi Kirana (Kristen Protestan)
  5. Kepala badan kordinasi penanaman modal, Franky Sibarani (Kristen Katolik)

Walau terbilang bukan jabatan strategis dalam pemerintahannya, namun pemasangan perwakilan kafir di kabinet ini cukup “berani” diambil oleh Jokowi.

Dari beberapa kejadian diatas, ini mengindikasikan bahwa pemerintahan Jokowi memang benar-benar sedang menggoda sang macan untuk bangun. Dia sedang menguji kesabaran dari mujahid muslim di berbagai pelosok daerah untuk bertindak. Namun kami disini bukan hanya berembel-embel Muslim, kami berbicara sebagai seorang rakyat Indonesia yang prihatin akan langkah pemerintahan yang terkesan ngaco dan berani dengan Islam.

Baru-baru ini – di tahun anggaran tahun 2015 – pemerintah telah resmi menyetop suplai anggaran untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang notabene sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk umat Islam. Posisi MUI disini sungguh esensial karena Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Islam, maka dari itu sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah. Berbeda dengan ormas lain yang memang hidup dengan anggotanya itu sendiri. MUI ini ibarat sesepuh di pemerintahan, walau tidak tercatat secara struktural, tapi arahan dan fatwa-fatwanya harus diperhatikan oleh pemerintahan demi menjaga keutuhan NKRI kedepannya. Dan rezim Jokowi ini malah memberhentikan suplai anggaran yang tentunya dana tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan umat Islam sebagai pemeluk agama juga sebagai penduduk Indonesia.

Kebijakan lain rezim Jokowi yang “melabrak” Islam datang dari kementrian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) dengan memblokir 21 situs islam Indonesia pada tanggal 30 Maret 2015 yang sangat mengagetkan masyarakat Indonesia. Kemenkominfo menegaskan bahwa 21 situs tersebut diduga memiliki paham radikal dalam menyebarkan ajaran Islam, sesuai dengan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Situs-situs tersebut adalah:

Arrahmah.com Ghur4ba.blogspot.com Muqawamah.com
Voa-islam.com Panjimas.com Lasdipo.com
Hidayatullah.com Thoriquna.com Gemaislam.com
Dakwatuna.com Salam-online.com Eramuslim.com
Kafilahmujahid.com Aqlislamiccenter.com Daulahislam.com
An-najah.net Kiblat.net Shoutussalam.com
Muslimdaily.net Dakwahmedia.com Azzammedia.com
Indonesiasupportislamicatate.blogspot.com

Saya pribadi tak habis pikir, kok bisa-bisanya rezim Jokowi memblokir situs-situs tersebut. Dari beberapa situs diatas adalah yang sering saya kunjungi karena mengandung informasi dan berita yang bagus juga berbobot mengenai Islam. Tidak ada sama sekali artikel yang menandakan pertentangan atau radikalisme seperti yang dituduhkan BNPT. Kalau era SBY, situs-situs yang di filtering itu situs berbau pornoaksi dan pornografi, lah kok sekarang malah situs berbau Islam? “Kunaon Jok? Sieun ku Islam? Anjeun urang Islam lin?”

Anehnya lagi, mengapa situs-situs berbau liberal dan menyesatkan – seperti ahlulbaitindonesia.com (milik Syiah), islamlib.com (Liberalis), islamtoleran.com (Sekular) – malah tidak disentuh sama sekali. Ini semakin membingungkan umat Islam. Namun bagi orang yang mengetahui dan paham mengenai “siapa dibalik tangan kekuasaan Jokowi”, tentu tidak mengherankan dengan kejadian-kejadian seperti ini. Namun bila dibiarkan, tentu saja ini akan menjadi masalah besar yang tidak hanya akan meruntuhkan keyakinan umat Islam dalam beribadah, juga akan merubuhkan azas dan sistem NKRI itu sendiri karena melibatkan langsung penduduk Muslim Indonesia. Dan kalau boleh saya bilang, rezim jokowi lebih parah dari ORBA terhadap Islam.

Saya hanya bisa berharap agar rezim Jokowi-JK bisa diberikan hidayah oleh Allah SWT dengan betul-betul mengedepankan kepentingan Negara, bukan kepentingan asing yang merantai kekuasaan presiden “boneka”nya. Saya sangat cinta Indonesia. Cinta akan tanah air ini. Cinta bumi pertiwi. Cinta segalanya tentang Indonesia. Begitu pula dengan masyarakat lain yang sangat mencintai Indonesia ini.

Maka dari itu, tolong. Tolong pehatikan kami, bukan malah memperhatikan mereka. Tolong jangan biarkan kebencian ini semakin menjadi-jadi dengan tingkah laku dan kebijakan anda yang “menantang” kami, Masyarakat Muslim Indonesia. Semoga rezim kali ini bisa menjalankan tugas dengan maksimal, bisa menjalankan tugas sesuai dengan fungsi dan perannya. Anda tidak tertarik akan gemerlapnya dunia, anda tidak takut akan “kungkungan” antek-antek asing, anda tidak (lagi) tertarik akan tawaran menggiurkan dari musuh Negara. Tidak memperdulikan para gurita ekonomi dunia yang hanya ingin kekayaan Indonesia. Semoga anda semakin cinta Indonesia.

Itulah sebuah catatan kecil rapor rezim Jokowi dari saya. Ditunggu komentar dari para pembaca, terimakasih.

Referensi:

1. fpi.or.id
2. wikipedia.com
3. duniamuallaf.blogspot.in
4. nasional.inilah.com
5. hukumonline.com

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe us

Silahkan masukkan email anda untuk berlangganan tulisan terbaru dari website ini.